BNN Bekali Tenaga Pendidik Usia Dini tentang Bahaya Penyalahgunaan Narkoba

29 November 2018

Salah satu segmen masyarakat yang menjadi perhatian BNN dalam penyebarluasan informasi bahaya penyalahgunaan narkoba adalah anak usia dini. Hal ini bertujuan untuk melindungi mereka dari bahaya penyalahgunaan narkoba.Kasubdit Media Elektronik, Direktorat Diseminasi Informasi BNN, Tri Tjahyono mengatakan saat ini ancaman bahaya penyalahgunaan narkoba sudah mengancam anak-anak usia dini. Oleh karena itu perlu langkah-langkah untuk melindungi mereka dari penyalahgunaan narkoba ujar Tri.salah satunya adalah meberikan pembekalan anti penyalalahgunaan narkoba kepada tenaga pendidik usia dini.Kegiatan yang dikemas dalam bentuk Talkshow interaktif  berbasis komunitas keluarga dengan tema “generasi millenial sehat, kuat, hebat  tanpa narkoba” menyasar Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (15/5).Dalam paparannya Tri Tjahyono menyampaikan permasalahan narkoba terutama di kalangan keluarga dan dari sudut pandang pendidik di kalangan anak-anak usia dini.Menurut Tri, tenaga pendidik harus memiliki pengetahuan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. Hal ini penting agar tenaga pendidik bisa menyampaikan informasi yang benar kepada anak didiknya tentang bagaimana melindungi diri mereka dari penyalahgunaan narkoba.Hadir pula psikolog anak Vera Itabiliana yang menyampaikan materi pentingnya Parenting Skill kepada para guru-guru dan kepala sekolah HIMPAUDI.Diharapkan pendidik sebagai pejuang generasi muda mengajak anak didiknya untuk menanamkan kegiatan yang positif  untuk melindungi mereka dari penyalahgunaan narkoba”. (Oscar)#cegahnarkoba#stopnarkoba 

Kasus penyalahgunaan narkoba memberikan dampak yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan

25 Oktober 2018

Kasus penyalahgunaan narkoba memberikan dampak yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks kesehatan, penyalahguna narkoba mengalami masalah baik fisik dan psikisnya. Dalam konteks ekonomi, banyak di antara mereka yang berakhir dengan kesulitan finansial karena tidak mampu lagi bekerja. Dengan kompleksitasnya masalah yang dialami para penyalahguna narkoba, maka penanganannya pun harus proporsional. Simplexius Asa, seorang dosen UNDANA, sekaligus seorang pakar hukum yang telah bergelut dalam penanggulangan narkoba selama belasan tahun lamanya, mengatakan, upaya penyelamatan anak bangsa dari jeratan penyalahgunaan narkoba harus dari hati. Karena seperti diulas di awal, dampaknya sangat kompleks, tak hanya dalam kesehatan atau ekonomi semata, tapi juga dalam hal sosial, hukum dan spiritual juga sangat berat dirasakan. Menurutnya pemenjaraan pada penyalahguna narkoba tidak bisa memberikan efek jera karena mereka adalah orang yang sakit. Mereka bahkan tidak bisa memikirkan diri mereka sendiri. Oleh karena itulah, pendekatan penanggulangan narkoba dengan rehabilitasi itu pada prinsipnya untuk mengurangi dampak-dampak yang disebutkan di atas. Hal ini ia sampaikan pada saat memberikan materi teori pemidanaan dalam kegiatan Training of Trainer Penanganan Pecandu dan Korban Penyalahgunaan Narkoba Terkait hukum ke Dalam Lembaga Rehabilitasi, di Yogyakarta, Senin (15/10). Bicara soal teori dalam pemidanaan, seperti telah dijelaskan dalam desertasinya yang berjudul Menata Kerangka Restorative Justice dan Diversi Terhadap Victimless Crime (studi terhadap tindak pidana penyalahgunaan narkotika), ia menyoroti tentang pentingnya restorative justice. Restorative justice adalah falsafah pemidanaan sekaligus pendekatan penyelesaian tindak pidana. Pendekatan Restorative Justice (RJ) juga sesuai untuk diterapkan dalam kasus penyalahgunaan narkoba karena selaras dengan salah satu tujuan pemidanaan yang telah dirumuskan dalam Rancangan KUHP Nasional, bahwa pemidanaan bertujuan untuk menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan keseimbangan dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat. Menurutnya, restorative justice (RJ) merupakan keadilan yang memulihkan. Melalui RJ, penyalahguna narkoba itu harus diobati, karena victimless. Meskipun demikian, sejatinya penyalahguna narkoba itu tidak hanya merugikan diri sendiri, namun juga merugikan orang di sekitarnya, keluarganya, dan juga masyarakat. Karena itulah, dengan filosofi RJ, maka para penyalahguna narkoba itu harus dikembalikan ke masyarakat untuk dibina kembali, dikasihi dan dipulihkan. Di sinilah, aspek kegotong royongan akan timbul, karena di situlah letak filosofis RJ. Sikap yang tepat pada para penyalahguna narkoba adalah dengan tidak mengasingkan mereka atau mengusir mereka dari masyarakat, karena hal ini justru mereka akan ditampungn para bandar dan dijadikan kaki tangannya untuk mengedarkan narkoba