Seketariat

SEKRETARIAT

Inspektorat
Pemberantasan
Pemberdayaan Masyarakat

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Hukum dan Kerjasama

HUKUM & KERJASAMA

Pusat Penelitian

PUSAT PENELITIAN

BNNP & BNNK

BNNP & BNNK

DATA STATISTIK BNN*

Pilih Tanggal Berdasarkan :



14,244

Total Kasus Narkoba

18,896

Total Tersangka Kasus Narkoba

17,028

Total Pasien Penyalahgunaan

3,254

Jumlah Penggiat Anti Narkoba

81,817,157

Jumlah Sebaran Informasi

*Sumber data realtime diambil dari dashboard P4GN

TERKINI

Penyedia Jasa Keuangan Punya Peran Menangkal Kejahatan Narkoba
15 April 2019

Penyedia Jasa Keuangan Punya Peran Menangkal Kejahatan Narkoba

Jakarta,- Situasi penyalahgunaan dan peredaran narkoba saat ini kian memprihatinkan. Banyaknya narkoba yang masuk ke Indonesia sebagian besar diimpor dari luar negeri. Pada prinsipnya narkoba tidak akan masuk ke Indonesia jika tidak ada yang membayarnya, baik melalui jasa perbankan maupun money changer.“Narkoba tidak akan masuk Indonesia jika tidak ada pembayaran melalui jasa penyedia keuangan, maka tingkatkan kecermatan dan kepedulian, dan kewaspadaannya dalam bersama-sama mencegah dan memberantas narkoba,” Demikian pernyataan Kepala BNN RI, Drs. Heru Winarko, S.H saat membuka kegiatan Rapat Koordinasi BNN dengan Penyedia Jasa Keuangan, di gedung lantai 7 BNN, Senin (15/4).Kepala BNN menegaskan, dalam upaya penanggulangan narkoba, semua pihak termasuk penyedia jasa keuangan harus bersatu padu dalam upaya mencegah dan memberantas narkoba. Dalam hal ini, penyedia jasa keuangan bisa berperan penting dalam mencegah transaksi narkoba. Salah satunya adalah, bagaimana para penyedia jasa keuangan ini bisa mengenali dengan cermat siapa costumernya. Oleh karena itulah, ke depan BNN akan lebih bersinergi dengan penyedia jasa keuangan dengan membuka data para bandar narkoba.Dukungan atau partisipasi semua pihak dalam menangkal ancaman narkoba sangat penting, karena kerugian yang ditimbulkan dari kejahatan tersebut sangat masif. Deputi Pemberantasan BNN, Drs. Arman Depari mengatakan, berdasarkan hasil survey BNN dengan LIPI, kerugian negara mencapai Rp 86,4 Triliun. Dari total tersebut, Rp 64 triliun diantaranya digunakan sindikat narkoba untuk belanja narkoba dari luar negeri.“Banyaknya transaksi narkoba harus dicegah, tidak boleh dibiarkan, kita harus selamatkan generasi bangsa dari ancaman narkoba, termasuk mencegah terbuangnya uang secara sia-sia untuk narkoba,” imbuh Deputi Pemberantasan.Senada dengan hal ini, Direktur Tindak Pidana Pencucian Uang BNN, Bahagia Dachi, mengatakan tentang pentingnya mencegah terjadinya transaksi keuangan yang begitu besar. Menurutnya, perputaran uang yang sedemikian besar di luar negeri pada akhirnya akan sulit untuk ditarik kembali ke Indonesia. Oleh karena itulah, ia berharap agar pengawasan terhadap nasabah juga diperketat.Menurutnya, sindikat bisa melakukan banyak hal agar bisa melakukan transaksi. Dari hasil pantauannya, Direktur TPPU mengatakan, salah satu modus yang digunakan oleh pelaku adalah dengan membeli rekening orang lain. Lalu rekening tersebut dikuasainya dan dimanfaatkan untuk transaksi narkoba.Dengan segala dinamika yang ada, Dachi berharap agar penyedia jasa keuangan baik itu yang bergerak di bidang perbankan atau di bidang money changer bisa lebih berhati-hati dalam memberikan layanan pada kliennya. Menurutnya, para petugas di bidang ini perlu memiliki kemampuan juga untuk mengidentifikasi profil-profil tertentu yang dicurigai bisa potensial melakukan kejahatan narkoba melalui jasa keuangan.“Kami berharap, dengan pertemuan ini bisa mendapatkan kesimpulan untuk melakukan pencegahan,” pungkas Direktur TPPU kepada para peserta rakor.Sementara itu, Dewi Astuti, Direktur Group Pengawas Spesialis Departemen Pengawas Bank 3 OJK, menegaskan kembali bahwa pelaku perbankan tidak boleh santai menghadapi ancaman ini. Karena jika lalai, atau tidak melakukan prosedur sesuai ketentuan, maka pihak perbankan juga bisa dijadikan tersangka.Oleh karena itulah, ia kembali mengingatkan apa yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa bank harus paham betul siapa nasabahnya. Disamping itu Ia juga berpesan agar para pelaku di bidang penyedia jasa keuangan dapat diberikan update tentang persoalan narkoba sehingga bisa lebih paham dan bisa berkontribusi dalam mencegah kejahatan narkoba lewat jasa keuangan.

KUNJUNGI BIREUEN, KEPALA BNN RESMIKAN DESA BERSINAR
10 April 2019

KUNJUNGI BIREUEN, KEPALA BNN RESMIKAN DESA BERSINAR

Dalam rangka Kunjungan kerja ke Provinsi Aceh, Kepala BNN meresmikan Desa Bersih Narkoba (Bersinar) di Desa Meunasah Bungo, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Rabu (10/4). Kedatangan Kepala BNN RI, Heru Winarko, beserta jajaran yang didampingi oleh Bupati Bireuen, H. Saifannur beserta unsur Forkompimda Bireuen diterima langsung oleh masyarakat Desa Mns. Bungo, petani peserta program AD bersama satgas anti narkoba pemuda desa. Bupati Bireuen, H. Saifannur, S.Sos menyampaikan apresiasi setinggi tingginya kepada pihak BNN yang konsen dalam melakukan P4GN di kabupaten Bireuen. Disampaikan juga oleh Pak Bupati bahwa Desa Mns. Bungo merupakan lokasi pilot project kultivasi tanaman Narkotika jenis Ganja yang dialih fungsikan menjadi komoditi alternatif seperti tanaman jagung dan tanaman holtikultura lainnya. Bupati Bireuen turut menginstruksikan kepada seluruh Camat agar mendorong pembentukan Satuan Tugas Anti Narkoba Pemuda Desa melalui pengoptimalan anggaran Desa untuk P4GN, sebagai bentuk komitmen masyarakat Bireuen dalam melawan Narkoba.Kepala BNN RI, Heru Winarko, dalam paparannya menyampaikan terimakasih kepada jajaran Pemerintah Kabupaten Bireuen dan jajaran Forkompimda Bireuen yang sangat aktif berkolaborasi dalam pelaksanaan P4GN. Kepala BNN juga memberikan perhatian kepada jajaran penegak hukum di Kabupaten Bireuen agar senantiasa berkolaborasi dan bersinergi dalam pelaksanaan P4GN di Kabupaten Bireuen. Pihaknya turut menyampaikan terima kasih atas peran aktif masyarakat Bireuen, khususnya warga Desa Mns. Bungo yang telah serius melaksanakan program Alternatif Development (AD) dan program Desa Bersih Narkoba (Narkoba).Kepala BNN bersama Bupati Bireuen turut meresmikan balai warga di lokasi AD sekaligus meninjau hasil produksi alternatif yang dikembangkan oleh Petani Peserta Program. Disampingi itu turut jug diresmikan Desa Meunasah Bungo sebagai Desa Bersinar yang ditindai dengan penandatanganan prasasti Desa Bersinar di lokasi. HUMAS BNN

BUDAYA KONSUMTIF FAKTOR PENDORONG TINGGINYA PENYALAHGUNAAN NARKOBA
9 April 2019

BUDAYA KONSUMTIF FAKTOR PENDORONG TINGGINYA PENYALAHGUNAAN NARKOBA

Indonesia adalah pangsa pasar yang paling menggiurkan bagi bandar Narkoba. Bagaimana tidak, di Indonesia sabu dibandrol sebesar 1,5 juta per gram. Sementara di luar negeri, harga jual sabu hanya berkisar antara 50 – 60 ribu rupiah per gram.Hal tersebut disampaikan Direktur Peran Serta Masyarakat, Deputi Pemberdayaan Masyarakat BNN, Drs. Mohamad Jupri. MM, saat menghadiri Bimbingan Teknis Penggiat Anti Narkoba Lingkungan Pendidikan di Kota Bengkulu, Selasa (9/4). Mohamad Jupri menilai tingginya angka penyalahgunaan narkoba, meski dibandrol dengan harga tinggi, juga dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat Indonesia yang konsumtif.Dalam paparannya, Mohamad Jupri menjelaskan berbagai upaya telah dilakukan BNN sebagai koordinator penegak hukum dalam mengimplementasikan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran gelap Narkoba (P4GN) di Indonesia. Salah satunya adalah membangun sistem pemberdayaan masyarakat di lingkungan pendidikan.BNN menilai pendidikan merupakan elemen yang paling strategis dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat sejak usia dini. Hal tersebut dapat dilihat dari peran pendidikan dalam mengantisipasi penyalahguna narkoba. Menurut Mohamad Jupri, Adanya pola terstruktur di sekolah mempermudah tenaga pendidik untuk mengawasi adanya penyalahgunaan narkoba di lingungan sekolah.Selain itu, kebijakan yang jelas dan konsisten menjadikan lingkungan pendidikan berpotensi komit terhadap upaya yang menjadi bagian dari strategi P4GN, salah satunya pencegahan narkoba melalui kurikulum.Sekolah memiliki peran dalam membentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperlukan remaja dalam memilih dan mengambil keputusan. Maka dari itu, penting bagi pemerintah untuk menjadikan P4GN sebagai materi pendidikan agar budaya anti penyalahgunaan narkoba dapat tertanam lebih dalam.Disisilain, Rektor Universitas Hazairin, Dr Ir Yulviperius, M.Si, berpendapat perlu adanya kepedulian terhadap penyalahgunaan Narkoba. Salah satu bentuk kepedulian pemerintah adalah ketersediaan anggaran dalam mengembangkan upaya P4GN. “Jika peduli harusnya kegiatan seperti ini sudah dianggarkan. Itu salah satu bentuk kepedulian” tegasnya.Salah satu penggiat Aliansi Relawan Perguruan Tinggi Anti Penyalahgunaan Narkiba (Artipena) ini menilai maraknya peredaran gelap narkoba di Indonesia merupakan salah satu upaya pihak asing dalam melemahkan ketahan bangsa.“Banyak cara untuk melemahkan pertahanan inidonesia, salah satunya narkoba”, ujar Yulviperius.“Pemuda Bengkulu adalah aset bangsa yang harus dijaga", tegasnya .Humas BNN

BNNP BENGKULU PETAKAN 7 LOKASI RAWAN NARKOBA
9 April 2019

BNNP BENGKULU PETAKAN 7 LOKASI RAWAN NARKOBA

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bengkulu mengklaim pihaknya telah berhasil memetakan 7 wilayan rawan penyalahgunaan narkoba di Provinsi Bengkulu. Yakni Kelurahan Lempuing, Kelurahan sawah Lebar, Kecamatan Ratu Samban, Kecamatan Singaran Pati, Kecamatan Selebar, Kecamatan Teluk Segara, dan Kecamatan Gading Cempaka.Pemetaan wilayah ini dilakukan terkait tingginya angka penyalahgunaan narkoba di Provinsi Bengkulu yang mencapai angka 1,68% atau sekitar 24,114 orang. Bengkulu disinyalir menduduki urutan ke 21 dari 34 provinsi yang rawan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba.Hal tersebut disampaikan Kepala BNN P Bengkulu, Agus Riansyah, saat menghadiri Bimbingan Teknis Penggiat Anti Narkoba Lingkungan Pendidikan di Medeline Hotel, Bengkulu, Selasa (9/4).Agus Riansyah menilai, 7 wilayah tersebut perlu perhatian khusus dari Pemerintah Daerah. “Kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Di Padang Guci, Ibu-ibu dan anak-anak sudah banyak yang terlibat.” katanya.Agus mengaku keterlibatan aparatur negara juga menjadi kendala keberhasilan uapaya P4GN di Provinsi Bengkulu. Dari tahun 2017 hingga Maret 2019, BNNP Bengkulu berhasil mengungkap 24 kasus dengan 57 tersangka, 12 orang diantaranya melibatkan PNS, Polri dan Pejabat Daerah.Hal lain yang menjadi kendala adalah minimnya jumlah personel BNNP dan BNNK yang dimiliki. “BNNP Bengkulu baru punya dua BNN Kota, yakni BNNk Bengkulu Selatan dan BNNK Bengkulu”. Imbuh Agus.Hal tersebut menambah daftar panjang masalah yang menjadi kendala dalam upaya P4GN di Bengkulu. Meski begitu BNNP Bengkulu terus berupaya memberikan yang terbaik untuk masyarakat Bengkulu.Agus Riansyah sedikit mengutip hasil Sidang CND yang dihadiri Kepala BNN RI beberapa waktu lalu. UNODC merilis angka penyalahguna narkoba di dunia sebanyak 275 juta jiwa. Selain itu, perkembangan New Psychoactive Substance (NPS) atau narkotika jenis baru, juga menjadi perhatian khusus dunia.“Didunia sudah ada 839 NPS. Di Indonesia sebanyak 74 NPS sudah beredar, 66 diantaranya sudah diatur dalam Permenkes No. 50 tahun 2018, 8 lainnya belum.” Ujar Agus Riansyah.Menurut Agus, kondisi ini akan terus berkembang jika masyarakat dunia tidak melakukan perlawanan. “Dunia sepakat, Narkoba pembunuh nomor satu”, tegasnya.HUMAS BNN

BNNP BENGKULU UNDANG 40 PERWAKILAN PENGGIAT ANTI NARKOBA LINGKUNGAN PENDIDIKAN
9 April 2019

BNNP BENGKULU UNDANG 40 PERWAKILAN PENGGIAT ANTI NARKOBA LINGKUNGAN PENDIDIKAN

Direktorat Peran Serta Masyarakat, Badan Narkotika Nasional (BNN), menggelar Bimbingan Teknis Penggiat Anti Narkoba dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) Lingkungan Pendidikan di Medeline Hotel, Bengkulu, Selasa (9/4).Dalam sambutan Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN yang dibacakan oleh Kepala BNNP Bengkulu, Brigjen Pol Drs. Agus Riansyah, disebutkan bahwa angka prevaliensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia telah mencapai angka 1,77 % atau sekitar 3,4 juta jiwa.Sementara itu, Bengkulu menduduki posisi ke 21 dari 34 provinsi sebagai provinsi yang rawan penyalahgunaan narkoba. Prevalensi penyalahgunaan narkoba di Provinsi Bengkulu mencapai angka 1,68 % dari jumlah penduduk atau sekitar 24,118 orang.Agus Riansyah menyampaikan berbagai upaya telah dilakukan BNN, diantaranya membentuk system pencegahan di lingkungan pendidikan. BNN telah menyusun materi P4GN dan mendorong kementerian pendidikan untuk menjadikannya sebagai salah satu kurikulum pendidikan. Upaya tersebut diperkuat dengan munculnya Inpres No. 6 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional P4GN.“Pendidikan merupakan mitra strategis dalam upaya P4GN. Karena dunia pendidikan sudah tersistem dan terorganisir dengan baik.” Ujar Agus Riansyah.Mantan Direktur Pemberdayaan Alternatif Deputi Pemberdayaan Masyarakat BNN ini juga menghimbau kepada peserta untuk selalu waspada terhadap perkembangan narkotika di lingkungan sekitar. “Di Rajang Lebong sudah mulai ada ganja yang ditanam. Untuk itu, melalui kegiatan Bimbingan Teknis ini, saya ajak masyarakat untuk terus waspada.” tegasnya.Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri oleh 40 peserta yang terdiri dari perwakilan rektor perguruan tinggi provinsi Bengkulu, perwakilan sekolah dan guru yang ada di Bengkulu, serta perwakilan ketua BEM perguruan tinggi di Provinsi Bengkulu.Adanya bimbingan teknis ini diharap dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman bagi penggiat anti narkoba untuk meningkatkan sinergitas upaya P4GN di Indonesia. Disamping itu, BNN juga mengajak seluruh pemangku kebijakan di Lingkungan Pendidikan untuk menumbuhkan komitmen dalam meningkatkan upaya P4GN di Lingkungan Pendidikan.Humas BNN

LIHAT SEMUA >>

TERPOPULER

Berita Rehabilitasi di Blow Up itu Pahala Besar
13 November 2013

Berita Rehabilitasi di Blow Up itu Pahala Besar

Menuliskan berita terkait rehabilitasi dinilai sebagai pahala yang besar bagi kaum jurnalis. Karena hal ini menjadi salah satu bentuk partisipasi nyata kaum jurnalis dalam membantu menyelamatkan anak bangsa dari jerat narkoba untuk menuju pemulihan. Demikian disampaikan wartawan senior, Gardi Gazarin, saat menghadiri diskusi tentang Sinergisitas Media dan Badan Narkotika Nasional Dalam Upaya Penanganan Pecandu di Masyarakat, di kantor Kelurahan Gelora, Jakarta yang digelar Direktorat Penguatan Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat BNN, Rabu (13/11). Tidak dapat dipungkiri bahwa informasi rehabilitasi belum terakses secara maksimal oleh masyarakat. Di sinilah peran serta media untuk membantu memberikan informasi yang luas tentang pentingnya rehabilitasi dalam memulihkan penyalah guna narkoba. Gardi menambahkan, pemberitaan tentang rehabilitasi penting karena faktanya angka penyalah guna narkoba itu sudah mencapai angka empat juta orang. Jika seluruh media di Indonesia yang jumlahnya sudah ribuan ini dapat menyampaikan informasi penting tentang rehabilitasi maka akan banyak orang yang membaca lalu memahami sehingga kemungkinan bisa berbuat nyata dalam mendorong para penyalah guna narkoba untuk menjalani rehabilitasi, kata Gardi. Gardi juga mengungkapkan, saat ini banyak lembaga rehabilitasi milik masyarakat yang ada di Indonesia. Agar program atau kegiatan rehabilitasi ini dapat dipahami masyarakat luas, ia menyarankan agar lembaga rehabilitasi ini lebih proaktif menjalin komunikasi dengan media sehingga kegiatan yang digelar oleh lembaga rehabiitasi ini dapat terpublikasikan. Kegiatannya bisa berupa diskusi seperti ini, dengan catatan susunlah judul acara yang menggoda sehingga menstimulasi wartawan untuk menuliskan isu-isu terkait rehabilitasi secara menarik, ujar wartawan yang sudah malang melintang dalam penulisan narkoba ini. Menyambung pentingnya isu rehabilitasi ini untuk di-blow up, Kepala Bagian Humas BNN, Sumirat Dwiyanto mengungkapkan bahwa fakta di lapangan masih banyak orang yang lebih senang ketika ada penyalah guna narkoba yang dihukum pidana. Padahal penyalah guna idealnya ditangani dengan cara rehabilitasi, dalam kerangka konsep dekriminalisasi dan depenalisasi. Dalam kerangka dekriminalisasi, pecandu bisa bisa ditempatkan di tempat rehabilitasi sejak masa penyidikan, dan hakim bisa memvonis rehabilitasi bagi penyalahguna narkoba. Sementara itu, dalam konteks depenalisasi, pecandu sebenarnya bisa melaporkan dirinya pada Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) dan dijamin tidak akan ditangkap. Karena itulah media diharapkan media dapat berperan dalam membantu menyosialisasikan tentang konsep dekriminalisasi dan depenalisasi ini, sehingga penanganan penyalah guna narkoba dapat tertangani, ungkap Sumirat. Perihal pemberitaan tentang rehabilitasi, Priyono, seorang wartawan Majalah Progresif setuju bahwa isu ini juga menarik di samping berita penangkapan kasus. Tindakan nyata atau kepedulian tokoh masyarakat kecil pada korban penyalahguna narkoba juga dalam konteks rehabilitasi menjadi hal yang bisa digali lebih mendalam. Tidak perlu tokoh besar yang bisa kita angkat, karena masyarakat kecil sekalipun yang punya kepedulian dalam menolong korban narkoba ini bisa dijadikan sumber pemberitaan yang menarik, ungkap Priyono. Menyoal bagaimana peran media dalam mendukung gerakan rehabilitasi, Rizki seorang recovering addict yang sudah menjadi redaktur di salah satu televisi mengungkapkan aspirasinya agar perusahaan media lebih terbuka untuk memberdayakan para mantan pecandu narkoba untuk berkarya dalam dunia jurnalistik, karena ia yakin betul banyak mantan penyalah guna narkoba itu yang memiliki potensi dan kapasitas yang baik untuk kembali produktif. Deputi Rehabilitasi BNN, dr Kusman Suriakusumah bahkan sempat menantang salah satu media untuk membantu menolong korban narkoba dengan cara melibatkan para penyalah guna narkoba itu dalam proses kreativitas di dunia media. Banyak penyalah guna narkoba itu yang menyatakan keinginannya untuk berkarya di industri media, karena itulah ini perlu kita akomodir, jadi kami himbau media agar lebih peduli dengan hal ini, pungkas Deputi Rehabilitasi BNN

Pencegahan Penyalahgunaan Napza
8 April 2013

Pencegahan Penyalahgunaan Napza

Penyalahgunaan Napza (Narkotika, Psikotropika, dan Zat-zat Adiktif) merupakan suatu pola perilaku yang bersifat patologik, dan biasanya dilakukan oleh individu yang mempunyai kepribadian rentan atau mempunyai resiko tinggi, dan jika dilakukan dalam jangka waktu tertentu akan menimbulkan gangguan bio-psiko-sosial-spiritual. Sifat Napza tersebut bersifat psikotropik dan psikoaktif yang mempunyai pengaruh terhadap sistem syaraf dan biasanya digunakan sebagai analgetika (pengurang rasa sakit) dan memberikan pengaruh pada aktifitas mental dan perilaku serta digunakan sebagai terapi gangguan psikiatrik pada dunia kedokteran. Obat-obatan ini termasuk dalam daftar obat G yang artinya dalam penggunaannya harus disertai dengan control dosis yang sangat ketat oleh dokter.Secara farmakologik, yang termasuk Napza antara lain ganja, morfin, sabu, ekstasi, marijuana, putau, kokain, pil koplo, dan sebagainya. Akan tetapi obat-obat pengurang rasa sakit yang dijual bebas mengandung Napza, dalam dosis yang telah diatur secara ketat.Beberapa jenis Napza terbuat dari tumbuhan koka yang dihasilkan hari hutan di Amerika Selatan, ada juga yang terbuat dari zat kimia seperti sabu, putau, morfin dan ekstasi. Ganja dihasilkan dari tanamanganja yang banyak dimasukkan dari daerah perbatasan Thailand, Birma dan Vietna sedangkan sabu diselundupkan dari Cina sedangkan ekstasi dari Belanda.Para pengguna Napza biasanya individu yang mempunyai masalah psikologis dan makepribadian yang rentan,serta mempunyai harga diri rendah. Tahapan individu dalam penyalahgunaan Napza dari tahap coba-coba, artinya individu sekedar ingin tahu dan merasakannya serta terpaksa menggunakannya karena mendapat tekanan dari teman-temannya.Faktor-faktor penyebab timbulnya penyalahgunaan Napzadapat berasal dari dalam diri individu dan dari luar diri individu. Faktor yang berasal dari dalam diri individu, seperti individu yang memiliki kepribadian beresiko tinggi, tidak dewasa, tidak sabaran, mempunyai toleransi frustasi yang rendah, tertutup, senang mengambil resiko yang berlebihan dan mempunyai kepercayaan diri yang rendah. Faktor yang berasal dari luar individu seperti lingkungan keluarga yang tidak sakinah, lingkungan sekolah yang tidak memadai, lingkungan masyarakat dan nilai obat-zat.Ada beberapa langkah pencegahan dan penanggulangannya antara lain:1. Program InformasiDalam hal memberikan informasi sebaiknya dilakukan secara hati-hati, dan menghindari informasi yang sifatnya sensasional dan ambisius, karena dalam hal ini justru akan menarik bagi mereka untuk menguji kebenarannya dan merangsang keberaniannya. Teknik menakut-nakuti dari segi fisik, psikologis, sosial dan hukum hanya efektif dalam keadaan sangat terbatas.2. Program Pendidikan EfektifPada program ini bertujuan untuk pengembangan kepribadian pendewasaan pribadi meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan yang bijak, mengatasi tekanan mental secara efektif, meningkatkan kepercayaan diri, menghilangkan gambaran negatif mengenai diri sendiri dan meningkatkan kemampuan komunikasi. Hasil pendidikan ini dapat berupa pengenalan tentang diri, perilaku asertif, berfikir positif, dan pemecahan masalah secara efektif.3. Program Penyediaan Pilihan Yang BermaknaKonsep ini bertujuan untuk mengalihkan penggunaan zat adiktif pada pilihan lain yang diharapkan dapat memberikan kepuasaan bagi kebutuhan manusiawi yang mendasar yaitu bio-psiko-sosial-spiritual.Kebutuhan yang dimaksud antara lain ingin tau kebutuhan mengalami hal-hal baru dalam hidupnya, kebutuhan terbentuknya identitas diri, kebutuhan akan bebas berfikirdan berbuat, kebutuhan akan penghargaan, kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri serta kebutuhan diri serta kebutuhan diri diterima dalam kelompok.4. Pengenalan Diri dan Intervensi DiniMengenal dengan baik cirri-ciri anak yang mempunyai resiko tinggi untuk menggunakan Napza merupakan suatu langkah yang bijaksana, baik yang berada dalam taraf coba-coba, iseng, pemakai tetap maupun yang telah ketinggalan, kemudian segera memberikan dukungan moril dan penanganan,apabila anak mengalami atau mengghadapi masa krisis dalam hidupnya. Dalam hal ini kerjasama antara orang tua, guru serta masyarakat sangat penting jika tidak teratasi segera dirujuk ke tenaga ahli psikolog maupun psikiater.5. Program Pelatihan Ketrampilan PsikososialProgram latihan ini diterapkan atas dasar teori belajar, yang mengatakan bahwa gangguan penyalahgunaan Napza merupakan perilaku yang dipelajari individu dalam lingkup pergaulan sosialnya.Perilaku ini mempunyai maksud dan arti tertentu bagi yang bersangkutan.Dalam pelatihan ini terdiri dari dua golongan yaitu,pertama Psychological Inoculation dalam pelatihan ini diputar film yang memperlihatkan bagaimana remaja mendapatkan tekanan dari pergaulannya, kemudian dalam hal ini dikembangkan sikap remaja untuk menentang dorongan dan tekanan tersebut.Kedua Personal and Social Skill training kepada remaja dikembangkan suatu ketrampilan dalam menghadapi problema hidup umum termasuk merokok dan penyalahgunaan Napza. Ketrampilan ini mengajarkan kepada remaja agar mampu mengatakan tidak, serta mengembangkan keberanian dan ketrampilan untuk mengekspresikan kebenaran, sehingga remaja terbebas dari bujukan atau tekanan kelompoknya. ( EN)

Rehabilitas dan Penindakan Hukum Harus Menjadi Panglima
17 Juli 2013

Rehabilitas dan Penindakan Hukum Harus Menjadi Panglima

Rabu, 17 Juli 2013, JAKARTA - Badan Narkotika Nasional (BNN) terus berusaha melebarkan sayapnya dengan menggandeng berbagai instansi lintas sektoral untuk bersama-sama perang melawan penyalahgunaan narkoba demi mewujudkan Indonesia Negeri Bebas Narkoba, Indonesia saat ini menghadapi permasalahan narkoba yang sangat serius, sekitar 4 juta korban penyalah guna Narkoba tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dan hanya sedikit yang mendapat layanan terapi dan rehabilitasi yaitu sekitar 18.000 atau 0,47%. Kondisi seperti ini sangat memprihatinkan karena sebagian besar belum dapat terlayani dan dikhawatirkan terus mengkonsumsi Narkoba, kata Kepala BNN, Drs. Anang Iskandar, SH.MH, dalam sambutannya pada penandatanganan MoU antara BNN dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), di Gedung BPKP, Selasa (16/7). Selanjutnya Anang Iskandar menjelaskan, masyarakat selama ini lebih memilih mempidanakan pecandu, penyalah guna dan korban penyalahgunaan Narkoba dibanding dengan merehabilitasinya. Hal ini tidak memecahkan masalah dalam penanganan Narkoba saat ini, Oleh karena itu, Rehabilitasi dan Penindakan hukum harus menjadi panglima bersama dalam mewujudkan Indonesia Negeri Bebas Narkoba, tandasnya.Menurut Anang Iskandar, narkoba saat ini sudah berkembang lebih jauh, ada 21 macam Narkoba jenis baru yang ditemukan di laboratorium BNN, yang di create oleh sindikat Narkoba yang didukung oleh tenaga ahli farmasi, bahkan di dunia ditemukan sebanyak 251 Nakoba jenis baru, dimana Narkoba jenis baru ini sengaja dibuat untuk menghindari jerat hukum yang diatur oleh Undang-Undang masing-masing negara, Ini harus mendapat perhatian yang serius dari semua pihak untuk melakukan langkah-langkah proaktif dan antisipatif. Oleh karena itu kita tidak bisa perang melawan Narkoba sendirian, maka kita secara terus menerus melibatkan dan mendorong masyarakat baik secara individu, maupun kelompok, Instansi Tingkat Pusat maupun di daerah melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba, ujarnya.Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika telah mengamanatkan kepada pemerintah untuk memberikan layanan rehabilitasi kepada pecandu, penyalahguna dan korban penyalahgunaan Narkoba. Untuk mendukung program rehabilitasi tersebut perlu kesadaran dari para pecandu, penyalah guna dan korban penyalahgunaan Narkoba serta para orang tua untuk melaporkan anaknya yang pecandu Narkoba, penyalah guna atau korban penyalahgunaan Narkoba kepada Institusi Penerima Wajib Lapor yang berada di Puskesmas, Rumah Sakit Pemerintah yang tersebar di 33 provinsi, dan poliklinik BNN, Para pecandu, penyalah guna dan korban penyalahgunaan narkoba tersebut akan memperoleh layanan rehabilitasi dan mereka tidak akan dikenakan proses hukum pidana, dan bahkan BNN telah menyediakan pelayanan rehabilitasi secara cuma-cuma, paparnya.Penandatanganan Nota Kesepahaman ini merupakan suatu wujud nyata kebulatan tekad dan komitmen bersama dalam perang melawan Narkoba secara bersama-sama dalam mewujudkan Indonesia Negeri Bebas Narkoba. (pas)

SOSIALISASI PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN GELAP NARKOBA (P4GN) DI LINGKUNGAN SEKOLAH
28 Februari 2013

SOSIALISASI PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN GELAP NARKOBA (P4GN) DI LINGKUNGAN SEKOLAH

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE BNNK Ciamis melalui Seksi Pencegahan menggelar Sosialisasi P4GN bagi pelajar sekolah menengah, bertempat di Aula SMK Taruna Bangsa Ciamis, Kamis (28/02/2013). Sebanyak 250 Siswa Pelajar SMK Taruna Bangsa Ciamis dari berbagai kelas dan jurusan mengikuti Kegiatan Sosialisasi P4GN di lingkungan sekolahnya. Kegiatan ini digelar dengan tujuan agar lingkungan sekolah memiliki daya tangkal yang tangguh dari ancaman narkoba yang merambah tanpa batas baik tempat maupun orang. Sebagaimana dijelaskan oleh Kasi Pencegahan Deny Setiawan, S.Sos, bahwa tujuan Sosialisasi P4GN di lingkungan sekolah ini adalah untuk menyampaikan informasi tentang program kerja BNNK Ciamis, dalam rangka meningkatkan kesadaran pihak sekolah mulai dari Kepala Sekolah, Para Guru, Karyawan, dan Pelajar. Dengan kesadaran itulah diharapkan mereka semua dapat berperanserta dalam menciptakan Lingkungan Sekolah Bebas Narkoba, serta meningkatkan keterampilan dan daya tangkal terhadap peyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba khususnya dikalangan pelajar dan masyarakat pada umumnya, ujar Deny. Kegiatan sosialisasi ini menghadirkan sejumlah narasumber dari Dinas Kesehatan Ciamis, Sat Res Narkoba Polres Ciamis dan dari BNNK Ciamis. Kepala BNNK Ciamis, drg Engkan Iskandar menjelaskan bahwa peredaran narkoba di Indonesia dewasa ini dipengaruhi faktor kondisi geografis wilayah Indonesia yang terasuk dalam kategori negara kepulauan. Sebagai upaya mencegah masuknya peredaran narkoba dari luar, diperlukan pendekatan interdiksi yang ketat baik itu interdiksi orang, barang maupun paket. Selain masalah geografis, maraknya peredaran narkoba juga dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat masih rendah sehingga orang mudah tergiur untuk menjadi pengedar, karena keuntungannya yang luar biasa besar. Kepala BNNK menegaskan permasalahan adiksi narkoba dapat berdampak multi dimensi, bukan hanya kesehatan tubuh manusia saja yang terancam narkoba, melainkan idiologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, yang lebih berbahaya lagi adalah hilangnya generasi penerus bangsa (loss generation). Semua berharap bahwa masyarakat pendidikan dapat meneruskan jejak pejuang pendahulunya untuk membangun negeri Indonesia tercinta menjadi lebih baik, makmur dan sentosa, dengan kondisi yang aman dan tentram, namun hal ini akan sia-sia semata jika kaum terdidik menjadi budak narkoba, pemicu permusuhan, tawuran, dan kenakalan remaja lainnya, pesan Kepala BNNK Ciamis kepada para pelajar SMK Taruna Bangsa Ciamis. . (sumber : BNNK Ciamis)

534 PELAMAR IKUT TES LANJUTAN CPNS BNN
12 Desember 2018

534 PELAMAR IKUT TES LANJUTAN CPNS BNN

Badan Narkotika Nasional (BNN) melalui Biro Kepegawaian, Sekretariat Utama BNN melakukan rangkaian tes lanjutan bagi Calon Pegawai Negeri Sipil Badan Narkotika Nasional(CPNS) 2018 di Eksekutif Clup Persada Halim Perdana Kusuma, Rabu, (12/12) Jakarta Timur.Kegiatan tes melingkupi, Wawancara, keterampilan kerja dalam melatih K-9 serta pemeriksaan Kesehatan. Kepada 534 Pelamar CPNS yang telah lulus dalam seleksi Tes dasar atau CAT yang lalu, akan mengikuti tes kemampuan selama 3 hari mulai dari tanggal 12-14 Desember 2018.Biro Kepegawaian Settama BNN Drs. Bambang Hastobroto Sudarmono M.Si mengatakan "kami akan memilih kurang lebih 220 pelamar yang terbaik yang telah memiliki standar dengan sistem terpusat. Hasil seleksi akan di laporkan ke Kementerian Aparatur Negara Reformasi dan Birokrasi RI. Untuk itu dalam rekrumen CPNS BNN sangat Transparansi mulai dari awal seleksi administrasi sampai saat ini seleksi wawancara pun kita diawasi oleh tim pengawas inspektorat". Ungkap karopeg.Ditempat yang sama, Irtama BNN Drs. Wahyu adi M.Si mengungkapkan menjamin Rekrutmen CPNS BNN TA. 2018 sangat transparan karena di bantu pengawasannya dari Badan Kepegawaian Negara dengan sistem CAT dan Kemenpan RB yang mengumumkan hasil kelulusan para Pelamar.Pengumuman Hasil dari Seleksi CPNS oleh BNN maupun Kementerian/ Lembaga, Kempan RB akan disampaikan secara nasional bersama kementerian / lembaga lainnya serempak oleh Kemenpan RB.Bagi pelamar CPNS BNN yang telah dinyatakan lulus dari Kemenpan RB, akan di tempatkan sesuai formasi yang mereka lamar di daerah masing-masing.

LIHAT SEMUA >>

TERKINI

Signifikansi Pemberdayaan Alternatif Masyarakat Kawasan Rawan Narkoba
10 April 2019

Signifikansi Pemberdayaan Alternatif Masyarakat Kawasan Rawan Narkoba

Dalam penanggulangan narkoba, pendekatan alternative development (AD) atau pemberdayaan alternative melalui pembinaan masyarakat di kawasan rawan narkoba penting untuk terus dioptimalkan. Pembinaan tersebut bisa dilakukan dengan pengembangan cinderamata yang bernilai jual tinggi dan dikemas secara m

JANGAN BILANG TIDAK PADA GENERASI MILENIAL
9 April 2019

JANGAN BILANG TIDAK PADA GENERASI MILENIAL

Di hari kedua Bimbingan Teknis Penggiat Anti Narkoba Lingkungan Pendidikan, Direktorat Peran Serta Masyarakat BNN turut menyajikan materi Public Speaking Dalam Penyampaian P4GN dengan Verani Indiarma, M.A sebagai pemateri. Dalam paparannya, Verani memberikan cara bagaimana menyampaikan informasi ba

Menko Polhukam Tegaskan Narkoba Ancaman Terbesar Bangsa Indonesia
29 Maret 2019

Menko Polhukam Tegaskan Narkoba Ancaman Terbesar Bangsa Indonesia

Polhukam, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto menegaskan bahwa narkoba merupakan ancaman terbesar bangsa Indonesia saat ini. Dalam satu hari saja, ada sekitar 30 rakyat Indonesia yang meninggal dunia karena menggunakan narkoba.“Saya mendapat laporan dari

Indonesia : Negara Maju Pertimbangkan Dampak Kebijakan Nakoba Bagi Negara Lain
21 Maret 2019

Indonesia : Negara Maju Pertimbangkan Dampak Kebijakan Nakoba Bagi Negara Lain

Hingga kini, Sidang Komisi Narkotika atau Commission on Narcotic Drugs (CND) ke 62 yang diselenggarakan di Wina, Austria, masih berlangsung. Di hari ke 5 Ini, peserta CND ke- 62 diagendakan melakukan beberapa sesi pertemuan.Salah satu sesi pertemuan yang menarik adalah saat Indonesia yang diwak

Lewat Bukunya, Mantan Wartawan New York Times Ungkap Dampak Buruk Ganja
21 Maret 2019

Lewat Bukunya, Mantan Wartawan New York Times Ungkap Dampak Buruk Ganja

Alex Berenson, seorang mantan wartawan New York Times yang menulis buku tentang “Tell Your Children: the Truth About Marijuana, Mental Illness and Violence” yang berada di Amerika Serikat memberikan sudut pandangnya tentang dampak buruk ganja kepada perwakilan Community Alliances Drug Free Youth

LIHAT SEMUA >>

TERPOPULER

Pengertian Narkoba Dan Bahaya Narkoba Bagi Kesehatan
7 Januari 2019

Pengertian Narkoba Dan Bahaya Narkoba Bagi Kesehatan

Saat ini bahaya dan dampak narkoba atau narkotika dan obat-obatan pada kehidupan dan kesehatan pecandu dan keluarganya semakin meresahkan.Bagai dua sisi mata uang narkoba menjadi zat yang bisa memberikan manfaat dan juga merusak kesehatan. Seperti yang sudah diketahui, ada beberapa jenis obat-ob

Apa itu Psikotropika dan Bahayanya?
2 Januari 2019

Apa itu Psikotropika dan Bahayanya?

Penggunaan obat-obatan berbahaya saat ini mulai disalahartikan. Beberapa jenis zat yang mampu merangsang syaraf pusat justru sering dipakai secara sembarangan tanpa resep yang tepat. Efek halusinasi dan juga ketenangan yang diberikan obat tersebut disalahgunakan sebagai zat untuk menghilangkan depre

4 Langkah Cara Mengatasi Kecanduan Narkoba
7 Januari 2019

4 Langkah Cara Mengatasi Kecanduan Narkoba

Narkoba atau narkotika dan obat-obatan berbahaya menjadi salah satu zat yang bisa memberikan efek kecanduan pada pemakainya. Cara mengatasi kecanduan narkoba jadi semakin sulit bila pemakainya sudah menggunakan zat berbahaya tersebut dalam dosis yang tinggi dan setiap hari.Mulanya, sebagian besa

Dampak Langsung Dan Tidak Langsung Penyalahgunaan Narkoba
20 Maret 2014

Dampak Langsung Dan Tidak Langsung Penyalahgunaan Narkoba

Narkotika dan obat terlarang serta zat adiktif / psikotropika dapat menyebabkan efek dan dampak negatif bagi pemakainya. Danmpak yang negatif itu sudah pasti merugikan dan sangat buruk efeknya bagi kesehatan mental dan fisik.Meskipun demikian terkadang beberapa jenis obat masih dipakai dalam dunia k

Pertolongan Pertama untuk Orang Sakau Narkoba Jenis Shabu
8 Januari 2019

Pertolongan Pertama untuk Orang Sakau Narkoba Jenis Shabu

Tahukah Anda bagaimana cara melakukan pertolongan pertama ketika orang mengalami sakau karena sabu-sabu atau narkoba? Tak banyak orang yang tahu bagaimana melakukannya. Padahal cara ini begitu penting diketahui.Sebab, pengguna

LIHAT SEMUA >>

TERKINI

90.046,51 Gram Sabu, 66.889 Butir Ekstasi, dan 15.840 Gram Daun Khat Siap Dibakar Habis
16 April 2019

90.046,51 Gram Sabu, 66.889 Butir Ekstasi, dan 15.840 Gram Daun Khat Siap Dibakar Habis

Pemusnahan barang bukti narkotika kembali digelar Badan Narkotika Nasional (BNN), Selasa (16/4). Pemusnahan ketiga di tahun 2019 yang berlangsung di halaman belakang kantor BNN, Cawang, Jakarta, ini merupakan pemusnahan dari delapan kasus yang diungkap oleh BNN sepanjang bulan Februari sampai dengan Maret. Sejumlah barang bukti yang dimusnahkan diantaranya 90.046,51 gram sabu, 66.889 butir ekstasi, dan 15.840 gram daun kath. Berikut di bawah ini kronologis delapan kasus yang diungkap BNN dari seluruh barang bukti yang dimusnahkan pada hari ini.Kasus pertama Ungkap kasus ini berhasil menyita barang bukti narkotika sebanyak 29.101 butir ekstasi dari seorang tersangka berinisial DD (pria) dan seorang oknum TNI berpangkat Serda berinisial SM. Tersangka ditangkap di depan warung mie Aceh, Jalan Irian Bandar Labuhan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, pada Minggu (17/2), sekitar pukul 10.00 WIB. Selanjutnya dari hasil interogasi yang dilakukan, tim mengamankan Serda SM di Jalan Raya Lintas Sumatera Bandar Labuhan Tanjung Morawa, Deli Serdang, sekitar pukul 11.25 WIB. Kemudian kedua tersangka bersama tim menuju ke peternakan sapi di Desa Sukaraja, Kecamatan Pengajahan, Kabupaten Serdang Bedagai yang diduga sebagai tempat menyembunyikan narkotika. Petugas pun mendapatkan 6 bungkus ekstasi sebanyak 29.101 butir.Kasus kedua Sebanyak 5.250 gram sabu diamankan petugas gabungan BNN bersama dengan Direktorat Bea dan Cukai, pada Selasa (19/2), sekitar pukul 14.00 WIB. Pengungkapan berawal dari adanya informasi penyelundupan narkotika melalui jalur tikus di perbatasan darat antara Indonesia dan Malaysia di Sungai Beruang, Kecamatan Etikong, Kabupaten Sanggau. Petugas gabungan pun menyergap seorang berinisial W dan menemukan 5 bungkus sabu seberat 5.250 gram di dalam sebuah tas yang dibawa tersangka. Berdasarkan keterangan tersangka, petugas kemudian menangkap S alias Pak CU, Y alias Pak Ngah, dan HI alias Ahian, sebagai bagian dari jaringan sindikat narkotika tersebut.Kasus ketiga Kasus ketiga berupa ungkap kasus yang melibatkan seorang tersangka berinisial JD alias Junior dengan barang bukti berupa 16.000 gram daun khat. Petugas BNN melakukan penangkapan terhadap tersangka JD di PT. Amsaja Tour and Travel 15-17 Hotel Kalisma, Jalan KS Tubun, Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, setelah mendapatkan informasi dari Bea dan Cukai Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, terhadap sebuah paket yang mencurigakan. Paket tersebut diketahui berasal dari Abebe Schalkegn Lemlem Addis Ababa, Ethiopia. Namun setelah ditangkap dan diinterogasi JD mengaku bahwa paket tersebut merupakan kiriman dari sahabatnya berinisial W di Cina yang dikirimkan dengan meminjam alamat temannya berinisial SB.Kasus keempat Pada hari Jumat (8/3), petugas mengamankan barang bukti berupa 421,32 gram sabu dan 169 butir ekstasi dari tangan tiga orang tersangka, masing-masing berinisial S alias Debora, Pegy, dan TJB. Penangkapan dilakukan petugas terhadap tersangka S alias Debora sesaat setelah menerima 85 butir tablet happy five dari seorang berinisial TJB di depan Salon Blessing, Rusun Boeing 1C, Kemayoran, Jakarta Pusat. Selanjutnya petugas pun melakukan penggeledahan dan kembali menemukan barang bukti berupa sabu dan beberapa butir pil biru. Berdasarkan hasil interogasi petugas kemudian mengamankan Pegy yang telah menyerahkan sabu tersebut kepada Debora. Dalam penangkapan Pegy petugas juga menemukan barang bukti narkotika jenis sabu serta beberapa butir tablet yang diduga sebagai narkotika.Kasus kelima Tiga orang tersangka berinisial DKS alias Ujang, Es alias Denggol, dan M alias Njit alias Kaka, ditangkap petugas gabungan BNN Provinsi DKI Jakarta bersama Polres Metro Jakarta Barat dengan barang bukti 14.699 butir ekstasi. Ketiga pelaku diamankan dari dua lokasi berbeda, tersangka DKS alias Ujang dan ES ditangkap di sekitar tempat pengambilan paket pada hari Jumat (1/3), sementara tersangka M alias Njit alias Kaka diamankan keesokan harinya, yakni pada hari Sabtu (2/3), sekitar pukul 04.00 WIB, di Jalan Nurul Huda, Pal Merah, Jakarta Barat.Kasus keenam Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Kantor Pos Pasar Baru menyerahkan sejumlah barang bukti narkotika berupa 23.100 butir ekstasi kepada BNN Provinsi DKI Jakarta, pada Selasa (19/3). Barang bukti tersebut merupakan paket kiriman asal Jerman dengan nama penerima Bapak Cariman yang beralamat di Mangga Besar, Jakarta Barat.Kasus ketujuh Sebanyak 53.430 gram sabu dari jaringan Thailand - Aceh berhasil diamankan oleh Tim F1QRL Lanal Lhokseumawe Lantamal 1 Koarmada, di perairan Ujong Blang, Lhokseumawe, Nangroe Aceh Darussalam, pada Senin (18/3). Selain barang bukti narkotika diamankan pula empat orang lelaki berinisial IS alias Jamen, HS, MA, dan I. Tim F1QRL Lanal Lhokseumawe Lantamal 1 Koarmada pun selanjutnya menyerahkan barang bukti dan para tersangka kepada BNN guna dilakukan penyelidikan lebih lanjut.Kasus kedelapan Lima orang tersangka diamankan bersama barang bukti 31.126,90 gram sabu, di Jl. Raya Siantar, Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Kamis (28/2). Penangkapan bermula dari adanya laporan masyarakat, kemudian petugas pun melakukan penggeledahan terhadap sebuah mobil yang dikendarai dua orang tersangka berinisial DI dan SD. Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan 3 bungkus plastik warna hitam yang masing-masing plastik berisi 10 bungkus teh Cina berisi sabu. Selanjutnya setelah dilakukan pengembangan, petugas menangkap IH alias Benu, RP alias Rambo, dan AS.Ancaman Hukuman: Para tersangka dijerat dengan Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1), Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1), Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup. Dengan melakukan pemusnahan barang bukti ini, setidaknya lebih dari Enam Ratus Ribu anak bangsa terselamatkan dari bahaya penyalahgunaan Narkoba.

BNN Gandeng Bank BCA Kejar Pencucian Uang Hasil Peredaran Gelap Narkotika
5 April 2019

BNN Gandeng Bank BCA Kejar Pencucian Uang Hasil Peredaran Gelap Narkotika

Kejahatan narkotika yang merupakan extraordinary crime ternyata tidak hanya berdiri sendiri. Berdasarkan temuan di lapangan, kejahatan narkotika juga melibatkan pencucian uang lintas negara. Oleh sebab itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) berupaya untuk menanggulangi hal tersebut dengan menggandeng Bank Central Asia (BCA) sebagai salah satu bank besar di Indonesia dan memiliki cakupan yang cukup luas di Asia.BNN dan BCA sepakat untuk bekerja sama dengan menandatangani nota kesepahaman terkait dengan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika (P4GN), Jumat (5/4). Penandatanganan yang berlangsung di Menara BCA tersebut diwakili oleh Heru Winarko selaku Kepala BNN bersama Jahja Setiaatmadja selaku Presiden Direktur dan kuasa dari Vera Eve Lim selaku Direktur mewakili Direksi PT. Bank Central Asia Tbk.Beberapa poin penting yang menjadi ruang lingkup dalam kerja sama ini diantaranya peningkatan peran serta BCA dalam mendukung kegiatan P4GN dengan penyebaran informasi melalui berbagai sarana dan prasarana yang dimiliki BCA, koordinasi terkait data dan informasi tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam kasus tindak pidana narkotika, pembentukan relawan anti narkoba, membantu pembinaan dan peran BCA sebagai penggiat anti narkoba, serta donasi sukarela dalam mendukung kegiatan P4GN. Selain poin-poin tersebut, kedua belah pihak juga sepakat terkait dengan penyediaan dan pemanfaatan produk serta layanan perbankan serta pelaksanaan tes uji narkoba dan berbagai bidang-bidang lain dalam rangka mendukung program P4GN.Kerja sama antara BNN dan BCA dalam bidang P4GN ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan kerja yang bersih dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Secara lebih luas, kerja sama ini juga diharapkan akan memudahkan langkah BNN dalam mengungkap berbagai tindak kejahatan pencucian uang terkait dengan bisnis peredaran gelap narkotika yang saat ini tidak hanya ada pada lingkup nasional tetapi juga regional bahkan internasional.HUMAS BNN

pengumuman pembatalan kelulusan peserta pengadaan CPNS di lingkungan BNN TA 2018.
26 Maret 2019

pengumuman pembatalan kelulusan peserta pengadaan CPNS di lingkungan BNN TA 2018.

terlampir adalah pengumuman dengan perihal pembatalan kelulusan peserta pengadaan CPNS di lingkungan BNN TA 2018.

SATUKAN SUARA, BNN GELAR RAPIMNAS 2019
25 Maret 2019

SATUKAN SUARA, BNN GELAR RAPIMNAS 2019

Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk pertamakalinya menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) yang dihadiri seluruh pimpinan BNN Provinsi dan BNN Kabupaten/Kota seluruh Indonesia. Tak hanya jajaran pemimpin BNN, Rapimnas ini juga dihadiri kementerian terkait yang memiliki peran dalam pelaksanaan undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.Sesuai dengan temanya, “Melalui Rapimnas BNN RI, Kita Mantapkan Pelaksanaan P4GN guna mewujudkan Generasi Millenial Bersih Narkotika”, materi rapat akan terfokus pada upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) yang menyasar pada generasi milenial.Diselenggarakannya kegiatan ini didasari oleh masih tingginya angka penyalahgunaan narkotika, meski upaya yang telah dilakukan pemerintah sudah sangat maksimal. Kemunculan Inpres Nomor 6 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) menjadi semangat baru bagi BNN untuk terus membangun sinergitas bersama semua pihak dalam menekan laju angka penyalahgunaan narkoba.Disamping upaya kerjasama, BNN juga harus memadukan seluruh sumber daya yang dimiliki agar dapat berfungsi dan bekerja secara sinergis dan komperhensif. Untuk itu diperlukan kesatuan persepsi baik dibidang penataan organisasi, nilai-nilai dan etika serta kegiatan operasional lapangan maupun membangun budaya dan solidaritas organisasi.Melalui kegiatan ini diharap akan terbentuk keharmonisan dan kesepahaman penyelenggaraan berbagai kebijakan terkait P4GN dari tingkat pusat hingga ke daerah. Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 260 orang ini juga diharap dapat berdampak pada optimalisasi kinerja pemerintah dibidang P4GN.Humas BNN

Pemusnahan Sabu, Ekstasi dan Ganja  Sepertiga Juta Anak Bangsa Terhindar Dari Jeratan Narkoba
12 Maret 2019

Pemusnahan Sabu, Ekstasi dan Ganja Sepertiga Juta Anak Bangsa Terhindar Dari Jeratan Narkoba

BNN memusnahkan barang bukti narkotika kedua kalinya dalam tahun ini berupa ganja seberat 1,3 Ton, sabu seberat 18,6 Kg dan ekstasi sebanyak 19.080 butir (Sembilan belas ribu delapan puluh butir). Dengan pemusnahan barang bukti tersebut, lebih dari sepertiga juta anak bangsa terselamatkan dari penyalahgunaan narkoba. Seluruh barang bukti tersebut disita dari beberapa kasus, antara lain : 1. Kasus 1,3 Ton Ganja Lewat Jalur Darat dan UdaraBNN mendapatkan informasi tentang adanya pengiriman ganja ke daerah Bogor. Pada tanggal 30 Januari 2019, petugas berhasil menangkap BS di daerah jalan Loder Baranangsiang, Bogor dengan barang bukti 506 bungkus ganja kering seberat 715 kg. Ganja tersebut ia sembunyikan dalam kompartemen truk yang dimodifikasi. Masih pada hari yang sama, Petugas melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan IM di kawasan Cargo Bandara Soekarno Hatta. Ia diamankan setelah mengambil paket yang berisi ganja seberat 336 kg. Kemudian pada tanggal 31 Januari, petugas berhasil meringkus tersangka lainnya yaitu AS dan AB dengan barang bukti ganja seberat 307 kg, di sebuah rumah di daerah jalan Mandor Tajir, Bojongsari, Depok. Total ganja yang disita dari jaringan ini adalah seberat 1,3 ton. 2. Kasus 3 Ons Sabu Dalam  Charger Aki di BerauPetugas menangkap seorang tersangka berinisial RG di sebuah hotel di jalan Tanjung Redeb, Berau, Kaltim dengan barang bukti sabu seberat 300 gram, pada tanggal 29 Januari 2019. Sabu tersebut disembunyikan dalam kardus blender berisi charger aki yang di dalamnya terdapat sabu. 3. Kasus Sabu 6 kg di SebatikBerdasarkan informasi masyarakat tentang adanya peredaran narkoba di daerah Sei Pancang, Sebatik, Nunukan, Kaltara, petugas BNN melakukan penyelidikan. Pada tanggal 29 Januari 2019, petugas menggeledah sebuah  rumah milik RUS, dan berhasil menyita barang bukti sabu seberat 6,47 Kg. Saat penggeledahan, RUS tidak berada di rumah, sehingga dilakukan pengejaran. Dalam pengembangan kasus ini, petugas berhasil menangkap AG di daerah Sei Pancang, Sebatik. AG diketahui berperan sebagai pengendali RUS. Sementara itu penangkapan RUS berhasil dilakukan pada tanggal 31 Januari 2019 di perkebunan sawit di kawasan Tanjung Karang. 4. Kasus 10,9 Kg Sabu Dalam Truk BNN mengamankan dua sopir truk berinisial AA dan M yang membawa sabu seberat 10,9 Kg dari Aceh menuju Jakarta. Keduanya ditangkap  di area parkir pelabuhan PT Bandar Bakau Jaya, Pelabuhan Bojonegara, Desa Margagiri, Serang Banten, pada 10 Februari 2019. Sabu tersebut disembunyikan di tempat penyimpanan terpal yang berada di atas kepala truk. selanjutnya petugas melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan  ZA yang merupakan napi di Rutan Tanjung Gusta, Medan yang diduga kuat sebagai pengendali jaringan. 5. Kasus 1 Kg Sabu di Parkiran Stasiun Kereta Api SenenSeorang tersangka berinisial AD ditangkap petugas BNN karena membawa sabu seberat 1,027 Kg, di depan CFC area parkir stasiun kereta api Pasar Senen, Jakarta, pada 12 Februari 2019. 6. Kasus 19 Ribu Butir Ekstasi di Lubuk LinggauBNN mengamankan tiga tersangka yaitu HR, S, dan H di Jalan A. Yani, Lubuk Linggau Utara, Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, pada 17 Februari 2019. Ketiganya terlibat dalam peredaran narkoba jenis ekstasi sebanyak 19.100 butir. Ekstasi tersebut dibawa dari Medan menuju Lubuk Linggau melalui jalur darat.  Para pelaku kasus peredaran ganja dikenakan pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 (1), Pasal 111 ayat (2), Pasal 115 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman maksimal hukuman mati. Sedangkan terhadap para tersangka  kasus peredaran ekstasi dan sabu, dikenakan pasal 114 ayat (2), Jo Pasal 132 ayat (1), Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No.35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati. 

LIHAT SEMUA >>

TERPOPULER

PENGUMUMAN PENGADAAN CPNS 2018
19 September 2018

PENGUMUMAN PENGADAAN CPNS 2018

Badan Narkotika Nasional membuka kesempatan kepada Warga Negara Indonesia pria dan wanita yang memiliki kemampuan tinggi untuk menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang akan ditugaskan di Badan Narkotika Nasional Pusat mapun Daerah di seluruh Indonesia.Informasi selengkapnya dapat dibaca melalui dokumen dibawah ini.Dokumen :Pengumuman Pengadaan CPNS 2018 (DOWNLOAD)Pengumuman Perpanjangan Jadwal Pendaftaran Pengadaan CPNS 2018 (DOWNLOAD)Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi CPNS BNN 2018 (DOWNLOAD)Pengumuman SKD CPNS BNN 2018(DOWNLOAD)Lampiran I Pengumuman SKD CPNS BNN 2018 Jakarta(DOWNLOAD)Lampiran II Pengumuman SKD CPNS BNN 2018 Medan(DOWNLOAD)Lampiran III Pengumuman SKD CPNS BNN 2018 Yogyakarta(DOWNLOAD)Lampiran IV Pengumuman SKD CPNS BNN 2018 Palembang(DOWNLOAD)Lampiran V Pengumuman SKD CPNS BNN 2018 Makassar(DOWNLOAD)Lampiran VI Pengumuman SKD CPNS BNN 2018 Denpasar(DOWNLOAD)Lampiran VII Pengumuman SKD CPNS BNN 2018 Banjarmasin(DOWNLOAD)Lampiran VIII Pengumuman SKD CPNS BNN 2018 Manado(DOWNLOAD)Lampiran IX Pengumuman SKD CPNS BNN 2018 Jayapura(DOWNLOAD)Lampiran X Tata Tertib SKD CPNS BNN 2018(DOWNLOAD)Pengumuman hasil SKD dan pelaksanaan SKB CPNS BNN 2018Pengumuman (Download)Lampiran I Hasil SKD CPNS BNN 2018 (Download)Lampiran II Daftar Peserta Lulus SKD Mengikuti SKB (Download)Lampiran III Kelengkapan Berkas Periksa Kesehatan (Download)

World Drug Report 2018: krisis opioid, penyalahgunaan narkoba meningkat; kokain dan opium mencatatkan rekor tinggi (UNODC)
27 Juni 2018

World Drug Report 2018: krisis opioid, penyalahgunaan narkoba meningkat; kokain dan opium mencatatkan rekor tinggi (UNODC)

NEW YORK/VIENNA/GENEVA/NAIROBI, 26 June 2018 –Penggunaan non-medis atas obat-obatan yang membutuhkan resep dokter tengah menjadi ancaman utama terhadap kesehatan publik dan penegakan hukum di seluruh dunia dengan opioid sebagai penyebab paling berbahaya dan terkait dengan 76 persen kematian akibat penyalahgunaan obat, menurut data terkini World Drug Report (Laporan Obat Dunia) yang dirilis hari ini oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC).Fentanyl dan anolognya tetap menjadi permasalahan di Amerika Utara, sedangkan tramadol – suatu opioid untuk penanganan rasa sakit moderat hingga moderat-berat – telah berkembang secara mengkhawatirkan di beberapa bagian Afrika dan Asia. Akses terhadap fentanyl dan tramadol untuk penggunaan medis cukup vital dalam menangani rasa sakit, namun para penyelundup memproduksi secara ilegal dan mempromosikan di pasar ilegal yang menyebabkan ancaman serius hingga kematian.Penyitaan global atas pharmaceutical opioids di tahun 2016 sebesar 87 ton, hampir sama jumlah heroin pada tahun yang sama. Penyitaan tersebut – terutama tramadol di Afrika Barat dan Tengah, dan Afrika Utara mencapai 87 persen dari total global tahun 2016. Negara-negara di Asia, yang sebelumnya mencapai lebih dari setengah atas penyitaan global, melaporkan hanya 7 persen dari total global tahun 2016.Produksi kokain global di tahun 2016 mencapai level tertinggi, diperkirakan sebesar 1.410 ton yang diproduksi. Kebanyakan kokain berasal dari Kolombia, meskipun data WDR 2018 juga menunjukkan bahwa Afrika dan Asia berkembang sebagai penyelundupan kokain dan titik-titik konsumsi.Dari 2016-2017, produksi opium global melonjak 65 persen mencapai 10.500 ton, angka perkiraan tertinggi yang dicatat UNODC sejak dilakukan pemantauan produksi opium global yang dimulai dari awal abad ke-21. Peningkatan yang ditandai pada penanaman opium poppy dan peningkatan produksi secara bertahap di Afganistan menghasilkan produksi opium di sana tahun lalu mencapai 9.000 ton.Temuan-temuan dari WDR tahun ini menunjukkan bahwa pasar-pasar obat tengah meluas, dengan produksi kokain dan opium mencapai rekor yang tinggi, menghadirkan berbagai tantangan di berbagai garis depan, ucap Direktur Eksekutif UNODC Yury Fedotov. Ia menegaskan bahwa UNODC berkomitmen bekerja sama dengan Negara-negara untuk mencari solusi terintegrasi dan seimbang terhadap tantangan obat-obatan dan mencapai kemajuan Sustainable Development Goals.WDR menghadirkan pilar kunci dari dukungan kami, bersama dengan pendampingan untuk menerjemahkan kewajiban-kewajiban internasional menjadi aksi dan peningkatan kapasitas di lapangan untuk memampukan respon efektif, dan melindungi kesehatan dan kesejahteraan umat manusia, kata Fedotov.Ganja adalah narkoba yang paling banyak dikonsumsi pada tahun 2016, dengan 192 juta orang menggunakannya setidaknya satu kali di tahun sebelumnya. Angka global pengguna ganja terus naik dan meningkat sebesar 16 persen satu dekade terakhir hingga 2016, mencerminkan petumbuhan populasi dunia.Narkoba seperti heroin dan kokain yang telah beredar sejak lama hidup berdampingan dengan new psychoactive substances (zat psikoaktif baru/NPS) dan obat-obatan resep (prescription drugs). Semakin banyak sediaan farmasi yang tidak jelas asal-usulnya yang ditujukan untuk penggunaan non-medis, bersama dengan penggunaan poly drug dan perdagangan poly drug, menambah tingkat kerumitan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada masalah narkoba.Kerentanan berbagai usia dan kelompok genderJumlah orang di seluruh dunia yang menggunakan narkoba setidaknya sekali setahun tetap stabil pada tahun 2016, sekitar 275 juta orang, atau sekitar 5,6 persen dari populasi global berusia 15-64 tahun.Melihat kerentanan berbagai kelompok usia, laporan ini menemukan bahwa penggunaan narkoba dan bahaya yang terkait adalah yang tertinggi di antara orang-orang muda dibandingkan dengan orang-orang tua. Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa usia remaja awal (12-14 tahun) hingga akhir (15-17 tahun) merupakan periode risiko kritis untuk inisiasi penggunaan zat dan mungkin memuncak di kalangan anak muda (usia 18-25 tahun).Ganja adalah narkoba pilihan yang umum untuk kaum muda. Namun, penggunaan narkoba di kalangan anak muda berbeda dari satu negara ke negara lain dan tergantung pada keadaan sosial dan ekonomi mereka. Ada dua tipologi penggunaan narkoba yang ekstrem di kalangan anak muda: narkoba dalam kehidupan malam (night clubs) dan tempat rekreasi di kalangan anak muda yang makmur; dan penggunaan inhalansia di antara anak-anak jalanan untuk mengatasi keadaan mereka yang sulit.Penggunaan narkoba di kalangan generasi yang lebih tua (berusia 40 tahun ke atas) telah meningkat pada tingkat yang lebih cepat daripada di antara mereka yang lebih muda. Meskipun hanya tersedia data yang terbatas, ini membutuhkan perhatian. Orang yang mengalami masa remaja pada saat obat-obatan populer dan tersedia secara luas lebih cenderung mencoba narkoba dan, mungkin, terus menggunakannya.Pengguna narkoba yang lebih tua mungkin sering memiliki beberapa masalah kesehatan fisik dan mental, membuat pengobatan yang efektif menjadi lebih sulit, namun baru ada sedikit perhatian yang telah diberikan terhadap gangguan penggunaan narkoba di kalangan orang tua.Secara global, kematian yang secara langsung disebabkan oleh penggunaan obat-obatan meningkat sebesar 60 persen dari tahun 2000 hingga 2015. Orang-orang yang berusia di atas 50 menyumbang 27 persen dari kematian ini pada tahun 2000, tetapi ini telah meningkat menjadi 39 persen pada tahun 2015. Sekitar tiga seperempat kematian akibat gangguan penggunaan narkoba di antara mereka yang berusia 50 dan lebih tua adalah di antara kelompok penuaan pengguna opioid.Laporan ini menemukan, mayoritas orang yang menggunakan narkoba adalah laki-laki, tetapi perempuan memiliki pola penggunaan narkoba yang spesifik. Prevalensi penggunaan opioid dan penenang secara non-medis oleh perempuan tetap pada tingkat yang sebanding dengan laki-laki, jika tidak benar-benar lebih tinggi. Sementara wanita biasanya mulai menggunakan zat lebih lambat daripada pria, setelah mereka memulai penggunaan zat, wanita cenderung meningkatkan tingkat konsumsi alkohol, ganja, kokain dan opioid lebih cepat daripada pria serta cepat mengembangkan gangguan penggunaan narkoba.Wanita dengan gangguan penggunaan zat dilaporkan memiliki tingkat gangguan stres pasca-trauma yang tinggi dan mungkin juga mengalami kesulitan masa kecil seperti kelalaian fisik, pelecehan atau pelecehan seksual. Rasio perempuan terdapat satu dari lima orang dalam pengobatan. Proporsi wanita dalam perawatan cenderung lebih tinggi untuk penenang dan obat penenang daripada untuk zat lain. Penggunaan obat-obatan dan pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV harus disesuaikan dengan kebutuhan khusus wanita.***Laporan Obat Dunia Tahun 2018 dan konten lebih lanjut tersedia di sini: https://www.unodc.org/wdr2018/index.htmlLaporan Obat Dunia Tahun 2018 memberikan gambaran umum global tentang pasokan dan permintaan opiat, kokain, ganja, stimulan tipe amphetamine dan zat psikoaktif baru (NPS), serta dampaknya terhadap kesehatan. Ini menyoroti pola penggunaan narkoba yang berbeda dan kerentanan kelompok usia dan gender tertentu, dan menyoroti pergeseran di pasar obat global.* *** *For further information please contact:Brian HansfordChief, UNODC Advocacy SectionTelephone: (+43-1) 26060-83225Mobile: (+43-699) 1458-3225Email: brian.hansford[at]un.org

PENGUMUMAN HASIL SKD DAN PELAKSANAAN SKB CPNS BNN 2018
4 Desember 2018

PENGUMUMAN HASIL SKD DAN PELAKSANAAN SKB CPNS BNN 2018

Pengumuman hasil SKD dan pelaksanaan SKB CPNS BNN 2018Pengumuman (Download)Lampiran I Hasil SKD CPNS BNN 2018 (Download)Lampiran II Daftar Peserta Lulus SKD Mengikuti SKB (Download)Lampiran III Kelengkapan Berkas Periksa Kesehatan (Download)

SIARAN PERS AKHIR TAHUN 2018
20 Desember 2018

SIARAN PERS AKHIR TAHUN 2018

Bangsa ini tengah dihadapkan pada situasi darurat narkoba sehingga diperlukan upaya serius untuk mengatasinya. Upaya pengurangan supply dan demand pun terus dilakukan secara berimbang. Pada sisi supply reduction, melalui upaya pemberantasan, BNN telah melakukan berbagai ungkap kasus sepanjang tahun 2018, diantaranya 914 kasus narkotika/prekursor narkotika yang melibatkan 1.355 orang tersangka dan sebanyak 53 ungkap kasus TPPU yang melibatkan 70 orang tersangka dengan total aset Rp 229 miliar. Sementara Polri berhasil mengungkap kasus narkotika/prekursor narkotika sebanyak 33.060 kasus dengan jumlah tersangka 43.320 orang dan kasus TPPU sejumlah 7 kasus dengan jumlah tersangka 8 orang. Sementara itu jumlah barang bukti yang disita sepanjang tahun 2018 oleh BNN dan Polri serta Bea CukaiDari seluruh kasus yang diungkap, BNN mengidentifikasi di tahun 2018 ada 83 jaringan sindikat narkoba, sedangkan pada tahun 2017 sebanyak 99 jaringan. Banyaknya kasus dan jumlah barang bukti yang diungkap merupakan bukti dari kerja keras BNN dan kerja sama yang kuat dengan instansi terkait baik TNI, Polri dan Bea Cukai. Salah satu bukti sinergi yang dilakukan, yaitu pengungkapan kasus 1,037 ton shabu di perairan Batam, pada Februari 2018 lalu. Langkah pemberantasan tidak akan menghasilkan dampak yang signifikan jika tidak diimbangi dengan demand reduction atau pengurangan permintaan narkoba melalui langkah pencegahan. Dalam rangka pencegahan mulai dari kawasan pedesaan, BNN bersama dengan Kemendagri dan Kementerian Desa PDTT telah merintis program desa bersinar atau desa bersih dari narkoba. Program ini melibatkan tiga pilar, yaitu Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan Kepala Desa beserta Puskesmas. Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya narkoba, BNN juga telah melaksanakan kampanye stop narkoba kepada 5.500 orang, dan pembentukan relawan anti narkoba sebanyak 4.498 orang. BNN telah mengidentifikasi 654 lokasi kawasan rawan narkoba dan melakukan intervensi melalui program pemberdayaan anti narkoba di 55 lokasi yaitu di 36 kawasan perkotaan dan 19 kawasan pedesaan. Pada tahun ini juga BNN bersama dengan instansi terkait melanjutkan program Grand Design of Alternative Development, di tiga titik pilot project yaitu Aceh Besar, Bireuen, dan Gayo Lues. Melalui program ini masyarakat diharapakan tidak lagi menanam ganja tapi menggantinya dengan tanaman legal dan bernilai ekonomi tinggi. Selain itu, dalam upaya pemberdayaan masyarakat, BNN juga mendayagunakan peran serta masyarakat guna menciptakan lingkungan yang bersih dari narkoba, baik dengan sosialisasi bahaya narkoba maupun pelaksanaan uji narkoba di seluruh indonesia. Dalam tahun ini BNN telah melakukan tes urine sebanyak 4.652 kali dengan peserta sebanyak 297.918 orang. Dalam rangka upaya penyelamatan para penyalahguna dari jeratan narkoba, pada tahun ini BNN telah meningkatkan kapasitas petugas rehabilitasi pada 522 lembaga baik instansi pemerintah maupun komponen masyarakat. Sementara itu, jumlah penyalahguna yang sudah direhabilitasi oleh lembaga rehabilitasi milik pemerintah dan komponen masyarakat sebanyak 15.263 orang. BNN juga telah memberikan layanan pasca rehabilitasi kepada 4.231 mantan penyalahguna narkobaGuna mengoptimalkan terselenggaranya program rehabilitasi, BNN melatih para aparat penegak hukum untuk menyamakan persepsi terkait penanganan penyalahguna narkotika yang akan ditempatkan di lembaga rehabilitasi di lima wilayah. Langkah ini merupakan kerja sama dengan badan dunia yang mengurusi masalah kriminal dan narkoba atau UNODC. Untuk menguatkan perlawanan terhadap narkoba, BNN membangun sinergi dengan seluruh komponen bangsa, baik di dalam maupun luar negeri. Pada tahun ini BNN telah menjalin kerja sama dengan 7 instansi pemerintah, 9 BUMN, 6 lingkungan pendidikan, dan 13 komponen masyarakat dengan total dokumen kerja sama sebanyak 54 dokumen. Secara khusus, BNN menguatkan kerja sama dengan Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham dalam rehabilitasi narkotika bagi tahanan, warga binaan pemasyarakatan, dan petugas pemasyarakatan. Dalam tataran internasional, BNN telah menggalang kerja sama dengan sejumlah negara seperti, Malaysia, Thailand, Filipina, Australia, India, Fiji, Maroko, dan Nigeria. Hal ini sebagai bukti BNN tidak lagi defensif, tapi ofensif menangkal narkoba dari luar negeri. Bahkan BNN mendorong agar para dubes di beberapa negara lebih proaktif dalam mencegah masuknya narkoba ke Indonesia. Menyikapi persoalan narkoba yang masih mengancam, Presiden RI telah mengeluarkan Inpres No. 6 tahun 2018 tentang rencana aksi nasional P4GN. Melalui Inpres ini, seluruh kementerian dan lembaga serta pemerintah daerah harus melakukan aksi P4GN yang nantinya dilaporkan ke Presiden RI. Inpres ini juga mendorong dibuatnya peraturan P4GN di kementerian/lembaga atau perda di tingkat provinsi dan kab/kota. Sebagai respon positif terhadap Inpres tersebut, sejumlah kementerian atau lembaga, Pemda, BUMN, dan instansi swasta telah melakukan aksi nyata, baik dalam bentuk sosialisasi bahaya narkoba, tes urine, ataupun pembentukan kader anti narkoba dalam mendukung terselenggaranya Inpres No. 6 tahun 2018.

Kumpulan Materi Seputar Narkoba
2 Oktober 2014

Kumpulan Materi Seputar Narkoba

LIHAT SEMUA >>

Suara Masyarakat

test123

percobaan kedua

test

ok masuk

TAUTAN TERKAIT