Skip to main content
Artikel

Problematika Wanita Pecandu Narkoba Afganistan

Oleh 08 Mei 2012Agustus 2nd, 2019Tidak ada komentar
#BNN #StopNarkoba #CegahNarkoba 

Sumber : Reuters, April 2012Tradisi masyarakat Afganistan yang kaku telah menjadi belenggu bagi para wanita yang memiliki masalah ketergantungan Narkoba. Mereka pada dasarnya ingin keluar rumah untuk mencari pertolongan dan mencari perawatan, namun di saat yang sama, mereka tidak diperbolehkan keluar rumah karena sulitnya mendapatkan ijin dari suami ataupun orang tuanya.Masalah kecanduan Narkoba di Afganistan bisa tergolong mengkhawatirkan. Konsumsi opium di Afganistan belakangan ini memang dikenal hanya untuk bersenang-senang. Yang jadi persoalan adalah, prevalensi penyalahgunaan Narkoba di negeri ini pun terus meningkat tajam. Menurut data yang dihimpun oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), jumlah pecandu heroin lebih dari 30 juta dari total populasi jiwa negeri ini. Kondisi ini tidaklah aneh karena memang Afganistan merupakan sumber heroin yang menyediakan lebih dari 90% di dunia.Pada tahun 2011, produksi opium di negeri ini telah meningkat dua kali lipat. Jika dinominalkan dalam jumlah uang maka produksi tesebut bisa berkisar 1,4 miliar. Bisnis opium di negera ini bahkan telah mencapai 15% dari ekonomi Afganistan itu sendiri.Secara terperinci, data pecandu wanita Afganistan belum bisa terestimasi. Namun menurut data yang dimiliki oleh unit layanan rehabilitasi Nejat, diperkirakan ada lebih dari 60 ribu wanita di Afganistan yang menyalahgunakan Narkoba, termasuk hashis dan mariyuana.Data ini tentu saja sangat mencengangkan, karena penyalahgunaan Narkoba di kalangan wanita ternyata begitu tinggi. Banyak di antara mereka hanya tinggal di rumah dan berkutat dengan masalah adiksinya, dan tidak sedikit pula banyak wanita yang menghabiskan waktunya di penjara akibat ulahnya menyalahgunakan Narkoba. Sementara itu, hanya sedikit wanita yang masih beruntung mendapatkan layanan rehabilitasi Narkoba di lingkungannya.Di salah satu tempat rehabilitasi di Kabul, tampak seorang wanita dengan mata tetap berbinar, dan tersenyum dengan bibirnya yang terkesan tidak mulus lagi, akibat konsumsi opium selama bertahun-tahun.Saya tidak bisa menyusui bayi saya, kata Anita, seorang wanita pecandu Narkoba berusia 32 tahun ini. Kecemasan pun tampak dari mata sang mantan pecandu ini, karena ia melarikan diri dari rumahnya untuk mendapatkan layanan rehabilitasi.Anita bersama dengan wanita lainnya, sedang menjalani rehabilitasi di Panti Rehabilitasi Nejat. Kegiatan operasional panti ini didanai oleh PBB. Untuk menjalani rehab ini, Anita mengalami kendala yang sangat besar, karena sesuai dengan tradisi yang ada wanita tidak boleh keluar rumah, sedangkan di sisi lainnya, ia membutuhkan perawatan guna menghilangkan ketergantungan Narkoba dari dirinya.Sesuai dengan kultur yang ada di sana, wanita tidak diperbolehkan terlihat di tempat umum. Untuk bisa keluar rumah, para wanita harus meminta ijin terlebih dahulu. Pada faktanya mereka sulit mendapatkan ijin seperti itu.Saya tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah, bahkan untuk memeriksakan diri ke dokter. Apa yang harus saya lakukan? Saya hanyalah seorang wanita, imbuh Anita.Layanan rehab yang ada di Nejat sangatlah jauh dari sempurna. Di tempat ini tidak tersedia metadon, karena anggaran untuk kegiatan rehab di sini cukup rendah. Kawasan Nejat sendiri merupakan kawasan bekas konflik yang tergolong miskin lebih dari tiga dekade.Seperti wanita yang lainnya, Anita hanya boleh menggunakan nama depannya. Saat wawancara dengan media, Anita pun sangat hati-hati. Jika ia memang tidak begitu percaya dengan media tersebut, ia tidak akan berani mengeluarkan pernyataan apapun. Hal ini dialami oleh beberapa pecandu wanita lainnya, yang memang hanya akan mengeluarkan pernyataan yang jelas, jika mereka merasa nyaman dengan media yang mereka percaya.Fenomena tingginya penyalahgunaan Narkoba sebenarnya sulit diterima dengan akal sehat. Dari aspek harga, harga Narkoba jenis heroin di Afganistan cukup mahal, yaitu berkisar 4 dolar atau 200 Afganis. Harga ini relatif mahal untuk ukuran negara yang di ambang garis kemiskinan.Yang membuat semua orang prihatin adalah, para pecandu dari kalangan wanita bahkan rela berbuat apa saja untuk mendapatkan barang haram tersebut. Mereka boleh dikatakan cukup keterlaluan, karena untuk memenuhi kebutuhan opium tersebut, mereka tega memerintahkan anak-anaknya untuk mengumpulkan sampah botol dan menjualnya, dan uang dari hasil tersebut dibelikan untuk Narkoba.Alasan disharmonis dengan suami menjadi apologi bagi kebanyakan wanita pecandu Narkoba.Suami saya beralih ke istri mudanya dan mulai berpaling dari saya, sehinga saya mulai menghisap opium dan kini kami harus meminta-minta, ujar Fauzia, seorang wanita pecandu yang menjalani pemulihan di Nejat.Pilihan masyarakat untuk mendapatkan layanan rehab memang sangat terbatas. Meski demikian, sebuah projek perintis diluncurkan dua tahun lalu oleh Medecins du Monde, yang telah menyelenggarakan rumatan metadon satu-satunya di negeri tersebut.Program Pengendalian AIDS (NACP) pada dasarnya ingin memperluas jangkauan program metadon ini, namun Kementerian Anti Narkotika Afganistan keberatan dengan program metadone ini karena manuver tersebut diprediksi bakal memperluas kemungkinan beredarnya jenis substitusi tersebut ke dalam pasar gelap.Sementara itu, Najia, seorang pecandu lainnya yang berusia 30 tahun mengaku menjalani kehidupan yang sangat berat. Ia adalah seorang pecandu opium dalam 9 tahun terakhir ini.Saya mengalami kehidupan yang berat. Saya memiliki banyak anak, dan saya miskin. Lebih parah lagi saya menganggur, sementara itu suami saya tidak memperbolehkan saya untuk bekerja, ujar Najia.Najia mengaku mulai kecanduan karena mengikuti kebiasaan buruk suaminya juga yang notabene kecanduan opium. Suami Najia mulai kecanduan opium sejak kembali dari Iran. Saat itu ia menjadi pekerja kasar di negara tersebut.Menurut analisis Raoufi, seorang petugas di Pusat Rehab Nejat, maraknya penyalahgunaan opium di kalangan wanita dipicu oleh beberapa faktor antara lain: yang pertama banyaknya pekerja migrant dan pengungsi yang kembali ke negeri ini setelah sejak lama berada di Iran dan Pakistan. Kedua, perang sipil terus berkecamuk dan diperparah dengan kekuasaan Taliban.Bahkan, setelah kekuasaan Taliban hancur pun, negeri ini tidak lepas dari penyakit masyarakat lainnya yaitu prostitusi jalanan. Dan hal ini juga turut memberikan pengaruh pada maraknya penyalahgunaan opium.Hampir semua pecandu mencari Pekerja Seks Komersial di Iran, dan kebanyakan dari mereka telah memiliki istriMasalah lainnya yang tengah dihadapi oleh negara Afganistan adalah banyaknya wanita yang menghuni penjara, akibat masalah Narkotika. Di salah satu penjara terbesar di Afganistan, yaitu di Badam Bagh, yang berada di pinggiran Kabul, lebih dari 164 napi, 64 diantaranya merupakan pecandu heroin.Ada beberapa jenis Narkoba di sana yang tersedia untuk para wanita, kata Hanifa Amiri, seorang dokter klinik, yang bertugas di Lapas.Salah satu dari 7 orang pengguna heroin dengan jarum suntik di Lapas Badam Bagh, terdapat seorang wanita yang juga tinggal satu penjara dengan anak lelakinya yang masih belia. Wanita ini sudah mendekam selama tujuh tahun penjara akibat kasus pembunuhan terhadap suaminya sendiri.Ia mengatakan bahwa suaminya dibunuh karena sang suami telah melarang dirinya untuk menjadi pelacur.Merebaknya penyalahgunaan Narkotika, terutama di kalangan pecandu Narkotika lewat jarum suntik telah berdampak pada peningkatan angka pengidap HIV/AIDS.Menanggapi hal ini, Kementerian Kesehatan Afganistan berupaya keras untuk membangun layanan konsultasi dan tes HIV, yang lebih fokus untuk kalangan wanita. (BK, sumber dari Reuters)

Baca juga:  Diawali Dari Rumah, Mencegah Penyalahgunaan Narkoba

Kirim Tanggapan

made with passion and dedication by Vicky Ezra Imanuel