Artikel

Mencari Jalan Keluar Pecandu Narkoba

Dibaca: 54 Oleh 26 Jun 2020Juni 29th, 2020Tidak ada komentar
Mencari Jalan Keluar Pecandu Narkoba
#BNN #StopNarkoba #CegahNarkoba 

Penulis :

Fathurrohman ( Analis Kejahatan Narkotika )

Rashi K. Shukla (2016) dalam bukunya Methamphetamine: A Love Story mengurai dengan brilian empat tahun melakukan penelitian di sebuah pemukiman pedesaan Oklahoma. Penelitian kriminologis selama ini berfokus pada komunitas perkotaan dan berdiri pada asumsi bahwa kota-kota kecil relatif aman dan bebas dari kejahatan.

Namun, Shukla menjelaskan situasi kemiskinan di pedesaan sarat dengan penyalahgunaan obat terlarang. Narkoba telah menjadi pusat kehidupan beberapa warga di pedesaan. Shukla menguraikan dengan jeli 33 responden dalam penelitiannya yang berlangsung selama 4 tahun. Dia melakukan wawancara mendalam dan bahkan turut mengadvokasi untuk memberikan jalan terang dari lorong gelap para penyalahguna dan pengedar narkoba.

Di bukunya, Shukla bermaksud menggambarkan pengalaman hidup orang-orang yang tinggal di pedesaan permukiman Oklahoma dan untuk meningkatkan pemahaman tentang risiko kesehatan masyarakat yang diciptakannya bagi pengguna dan masyarakat umum. Shukla kemudian mendirikan “rumah pendidikan narkoba” untuk memberikan gambaran utuh tentang persoalan narkoba dan menawarkan sarananya tersebut sebagai tata cara efektif untuk memerangi masalah ini.

Kampung Narkoba
Apa yang terjadi di daerah pemukiman pedalaman Oklahoma, Amerika Serikat sesungguhnya juga terjadi di desa-desa belahan dunia lain. Di Tiongkok, provinsi Guangdong dikenal sebagai pemasok utama narkoba di dalam dan luar negeri Tiongkok. Di antara kampung narkoba di provinsi Guangdong adalah Desa Boshe, desa kecil di pantai selatan provinsi tersebut. Dalam satu kali operasi akhir tahun 2013, polisi menangkap 182 tersangka yang berasal dari 18 kelompok, 77 laboratorium narkoba, tempat produksi bom. Petugas juga melakukan penyitaan sebanyak 2.925 kilogram sabu, 260 kilogram ketamine, lebih dari 100 ton precursor, dan sejumlah alat bukti lainnya.

Di Indonesia, terdapat daerah-daerah tertentu yang dikenal dengan sebutan kampung narkoba. Kampung narkoba adalah sebutan untuk daerah di mana peredaran narkoba cukup masif beredar di daerah tersebut. Di antara yang dikenal adalah Kampung Bahari dan Kampung Ambon di Jakarta, Kampung Dalam di Riau, Kampung Beting di Kalimantan Barat, Jalan Multatuli di Medan Sumatera Utara, dan seterusnya.

Kampung-kampung seperti ini harus diintervensi agar mereka tidak merasa nyaman untuk terus menjadi penyalahguna dan pengedar narkoba. Jika dibiarkan maka akan membesar dan berpengaruh negatif terhadap yang lain.

Di kampung-kampung seperti itu, sebagian orang mulai menggunakan narkoba sebagai karier. Mereka menggunakan narkoba sebelum masa remajanya. Bahkan, seperti temuan Shukla (2016), mereka menjadi jatuh cinta secara mendalam terhadap narkoba. Mereka terjebak dalam siklus penyalahgunaan narkoba. Akhirnya, ketika kecanduan mereka meningkat, penggunaannya menjadi sulit untuk dipertahankan secara hukum.

Seiring dengan meningkatnya penggunaan partisipannya untuk bertransaksi, jejaring sosial mereka mulai secara eksklusif berputar di sekitar narkoba. Penyalahguna, pengedar, bandar, dan produksi narkoba dilakukan di kampung narkoba tersebut. Mereka cenderung curiga dan menutup diri terhadap dari orang lain yang tidak dikenal.

Mencarikan Jalan Keluar
Seperti pengalaman Shukla di Oklahoma, Amerika Serikat, pada akhirnya, 33 orang yang menjadi responden penelitiannya mampu keluar dari jeratan lingkatan setan narkoba, menyeberang dari kegelapan dan menuju kehidupan pemulihan. Seperti yang dicatat oleh Shukla, mengatasi kecanduan tidak mungkin terjadi tanpa membangun kembali ikatan sosial sebagai sarana dukungan dan secara individual mengambil langkah-langkah untuk membangun kembali kehidupan konvensional yang taat hukum. Menjadi manusia normal seperti pada umumnya.

Upaya harus dimulai dengan meningkatkan kesadaran publik, meningkatkan program pencegahan narkoba dan pendidikan, dan yang penting adalah membuka tempat yang aman untuk dialog terbuka tentang perilaku berisiko. Para penyalahguna harus diberikan kesempatan dengan bijaksana dan petugas menjadi referensi utama mereka ketika mereka ingin kembali menjadi manusia normal, sehat 100%.

Kita dapat memulai dengan memotret pengalaman nyata bahwa apa yang dimulai sebagai gaya hidup yang menyenangkan dan berbahan bakar narkoba pada akhirnya berakhir dengan cara yang sama yaitu kehancuran, kehidupan yang sia-sia. Tampaknya cerita-cerita tentang kehilangan dan kegagalan harus dikumpulkan dari para penyalahguna karena sebagiannya adalah kehilangan keluarga, kehilangan stabilitas ekonomi, dan yang lain kehilangan segalanya kecuali nyawa.

Dalam satu wawancara penulis terhadap lima orang penyalahguna di salah satu tempat hiburan malam di Jakarta, mereka mengakui bahwa pada awalnya takut untuk menggunakan, terpaksa karena pekerjaan dan lingkungan, lalu merasa aman dan nyaman melakukan karena jaminan keamanan dari penegak hukum.

Namun, mereka mengakui bahwa apa yang mereka lakukan harus dihentikan karena tidak baik untuk kesehatan diri dan keluarga. Sebagiannya menyatakan takut kalau ini menjadi kebiasaan. Namun, mereka juga bingung apakah program rehabilitasi yang dijalankan oleh pemerintah akan menjaga privasi mereka. Mereka takut jika orang lain mengetahui bahwa mereka adalah penyalahguna narkoba dan hal itu berakibat buruk terhadap karir dan pergaulan normal mereka.

Pengakuan mereka bahwa mereka salah adalah pintu masuk untuk mengembalikan mereka kembali pulih. Seperti Shukla yang berhasil mengembalikan 33 orang responden penelitiannya yang berlangsung selama empat tahun, berapa lama kita bersabar membantu mereka kembali ke jalan yang benar.

#HariAntiNarkobaInternasional2020
#Hidup100%
#BetterKnowledgeForBetterCare

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel