
Direktur Pemberdayaan Alternatif BNN Brigjen Pol Teguh Iman Wahyudi, SH, MM, mengadakan Pemetaan Potensi Masyarakat Kawasan Rawan Narkoba di Kabupaten Gayo Lues (23/02/2021) di di Gampong Singah Mulo Kecamatan Putri Betung sebagai salah 1 dari 4 gampong yang sudah menjadi kesepakatan Pilot Project GDAD oleh BNN, Bappenas, Pem Prov Aceh dan Pemkab Gayo Lues. Gampong Singah Mulo ini termasuk bagian dari CP/CL 517 hektare Penanaman Jahe Merah yang diusulkan dalam program GDAD Tahun 2021 dengan luasan ± 200 hektare. Perlu diketahui bahwa di wilayah ini sangat subur tanaman komoditi Jahe Gajah (Putih), sebagaimana informasi warga pernah menanam benih Jahe dengan berat 340 kg (±lahan 0,21 ha) menghasilkan 9,7 ton. Harga Jahe Gajah (putih) pernah mencapai harga tertinggi 40.000 per kg atau Rp.388.000.000,- namun saat ini harga sedang kurang bagus mengingat pasarnya sulit. Maka kedepan akan bekerjasama dengan Kementerian Pertanian dalam Penanaman Jahe Merah dan Pemasaran melalui PT Bintang Toejoe.

Kunjungan Kerja dalam rangka Harmonisasi Program Grand Design Alternative Development (GDAD) di Kabupaten Gayo Lues
Potensi yang kedua adalah produksi pisang di Gampong Singah Mulo/kec. Putri Betung yang melimpah, setiap minggunya ada pengiriman 4 Tronton hasil pisang Medan Barangan yang dikirim keluar Gayo Lues hingga ke Jakarta. Yang selama ini diketahui bahwa pisang jenis tersebut berasal dari Medan, keluar dari Gayo Lues dengan Brand Medan. Masyarakat juga banyak yang berwirausaha kripik pisang yang juga dijual ke luar gayo Lues, namun masih secara tradisional. Kemasan saat ini masih plastik yang kripik tersebut hanya tahan hingga 1 minggu. Kedepan akan dilakukan Pelatihan Life Skill pengembangan produk dan kemasan modern oleh BNNK Gayo Lues. Potensi yang ketiga adanya Eko Wisata Pemandian Air Panas yang saat ini masih belum dimaksimalkan. Hari Sabtu-Minggu dibuka untuk umum secara gratis. Karena tujuan GDAD yaitu Agrowisata, maka potensi wilayah ini perlu dikelola secara baik terintegrasi dengan program GDAD.
Penuturan salah satu mantan penanam ganja tahun 90an, bahwa dulu pernah menanam di gunung dengan cara menebar benih (semai) dicabut ditanam dan juga rawat dan dipupuk. Ada 2 jenis Ganja yaitu jenis Unggul panen 3,5 bulan dan Jenis gajah panen 7 bulan. Hasil panen Ganja dibawa melintasi Bukit (TNGL) hingga ke kutacane ataupun Sumut secara berkelompok berjalan kaki. Setiap orang membawa Ganja seberat 25 kg berjalan hingga 7 hari. Harga upah angkut saat itu di tahun 90-an Rp 50.000,- per kg. Kunjungan Lapangan selanjutnya meninjau lahan kopi dan Jahe gajah di Gampong Agusen, milik Bapak Rismansyah, dimana tahun 2017 merupakan terakhir kali menanam Ganja dan mendapatkan program Penanaman Kopi GDAD di bulan Februari 2018, dibenarkan oleh Yudhi Widiarto saat itu mengawal program sebagai Kasi Pemetaan dan Analisis Masyarakat Desa.