Jamzer. Sebagaimana kita ketahui bahwa pada saat ini prevalensi hiv/aids di indonesia sudah mencapai tingkat epidemi yang terkonsentrasi pada sub populasi tertentu serta dalam 4 (empat) tahun terakhir ini terjadi peningkatan prevalensi hiv/aids pada kelompok pengguna narkotika, psikotropika dan bahan adiktif dengan cara suntik.Penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan bahan adiktif dengan cara suntik serta dampak penyebaran hiv/aids yang diakibatkannya sangat membahayakan dan merupakan ancaman nyata bagi pertumbuhan kehidupan bangsa dan negara.Percepatan peningkatan kasus hiv/aids tertinggi disebabkan oleh penyalahgunaan narkoba suntik, hal ini disebabkan karena tidak sterilnya alat/jarum suntik yang digunakan secara bersama.Disisi lain, perlu juga dipahami bahwa perilaku seksual berisiko juga sangat dipengaruhi oleh para pelaku penyalahguna narkoba dengan jarum suntik yang dapat menyebarkan ke masyarakat luas (umum).Disamping permasalahan tersebut di atas, pada saat ini trend dunia dibidang penyalahgunaan narkoba adalah terjadinya peningkatan penyalahgunaan ats (amphetamine type stymulants). Berdasarkan data yang ada dikhawatirkan hal ini akan menjadi permasalahan yang besar dalam penanggulangan narkoba di masa yang akan datang.Melihat permasalahan tersebut, maka bnn bersama rakyat ke depan masih akan menghadapi permasalahan narkoba yang cukup serius khususnya terhadap penyalahgunaan ats dan kokain, baik dengan cara suntik ataupun bukan, padahal narkoba yang lain belum sepenuhnya dapat diatasi, sehingga permasalahan narkoba tidak hanya yang terkait dengan idus atau hiv aids saja, namun permasalahan narkoba juga terkait dengan faktor-faktor lainnya seperti masalah politik, hukum dan keamanan yang tidak kalah peliknya. Untuk mengatasi kedua masalah tersebut, perlu komitmen dan tindakan nyata dari semua pihak, sekalipun penanggulangan masalah hiv/aids di bawah komisi penanggulangan aids (kpa), sedangkan penanggulangan masalah narkoba berada di bawah tanggung jawab badan narkotika nasional (bnn), namun menghadapi kedua epidemi tersebut haruslah bersatu padu dan bekerja sama dengan sebaik-baiknya. Di samping itu bnn perlu lebih mengaktifkan anggota bnn yang berada disektor penegakan hukum untuk lebih meningkatkan pengawasan agar dapat mengurangi tindak kriminalitas dan meningkatkan kualitas keamanan.Penandatanganan mou antara komisi penanggulangan aids (kpa) dan badan narkotika nasional (bnn) merupakan titik awal dalam upaya terpadu pencegahan hiv/aids dan penanggulangan penyalahgunaan narkoba suntik. Ini berarti kita menangani kedua epidemi tersebut secara bersamaan yaitu terhadap penyalahgunaan narkoba dan penyebaran hiv/aids. Saat ini sedang berkembang konsep ?harm reduction?, di mana dua program di antaranya yaitu ?needle syringe program (nsp) / program jarum suntik? dan ?therapi substitusi methadone? masih sering menimbulkan masalah yang dilematis, sehingga dalam melaksanakan kedua program ini haruslah sangat hati-hati dan penuh pertimbangan jauh ke depan.Mengantisipasi dua permasalahan tersebut diatas dan mempertimbangkan kepentingan bangsa yang jauh lebih besar, yaitu menyelamatkan bangsa dari epidemi hiv/aids, maka berdasarkan konsultasi kalakhar bnn dengan ketua mahkamah agung, kedua program tersebut dapat dilaksanakan secara terbatas dan sangat hati-hati dengan pengawasan yang sangat ketat.Mempertimbangkan hal-hal tersebut diatas, bnn tidak ingin membiarkan permasalahan ini tidak tertangani karena alasan-alasan tersebut diatas. Sehingga dalam menanggulangi masalah percepatan peningkatan penularan hiv/aids melalui penyalahgunaan narkoba dengan cara suntik di indonesia, perlu tindakan yang terpadu dan menyeluruh, meliputi :a. Mencegah penyalahguna baru.b. Mencegah penyalahguna narkoba agar tidak menjadi ketergantungan/ kecanduan.c. Mencegah penyalahgunaan narkoba dengan cara suntik.d. Mencegah penyebaran komplikasi (hiv/aids) di kalangan penyalahguna narkoba cara suntik.e. Mencegah penularan hiv/aids oleh penyalahguna narkoba kepada populasi umum.Pada prinsipnya pelaksanaan harm reduction di lapangan harus dilakukan sesuai dengan pentahapan secara benar dan terukur, dimulai dengan pilot project di lokasi terpilih di bawah kendali dan pengawasan institusi pemerintah (lapas, pusat-pusat t & r), keikutsertaan lsm yang memberi kontribusi terutama untuk kegiatan penjangkauan di lapangan (outreach), melakukan monitoring dan evaluasi secara ilmiah untuk membuktikan efektivitas program, beberapa hal tersebut diatas perlu dipersiapkan secara matang dalam mencapai target terjangkaunya injecting drug use (idu) 25% pada tahun 2004 dan 50% pada tahun 2005.Penyebaran hiv/aids melalui penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat/bahan adiktif dengan cara suntik dapat dicegah melalui pendekatan yang komprehensif dan dilaksanakan secara koordinatif.Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka perlu saya sampaikan kepada rekan-rekan kpa agar secara bersama-sama dengan bnn, bnp dan bnk dapat segera melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan harm reduction dalam rangka mencegah semakin berkembangnya hiv/aids.
Berita Utama
Diskusi Pencerahan Dalam Rangka Program Intensifikasi Harm Reduction
Terkini
-
BNN Perkuat Pemutakhiran Data Kawasan Rawan Narkoba melalui Pengukuran IKRN Tahun 2026 Berbasis Website 04 Nov 2026 -
BNN GELAR PELATIHAN UTC 19 BAGI PETUGAS KESEHATAN 04 Nov 2026 -
DUA ANGGOTA BPK RI RESMI DILANTIK, INSPEKTUR UTAMA BNN RI TURUT HADIR 03 Nov 2026 -
BNN BEKALI SISWA SMPIT INSAN MANDIRI DENGAN LITERASI NARKOBA DAN KETAHANAN DIRI 03 Nov 2026 -
122 HEKTARE LAHAN GANJA DIMUSNAHKAN, BNN DAN POLRI PUTUS RANTAI PASOK NARKOTIKA 02 Nov 2026 -
BNN Perkuat Kemandirian Ekonomi Masyarakat Kawasan Rawan Narkoba melalui Pelatihan Konten Kreator di Kabupaten Bogor 02 Nov 2026 -
TANPA PERLAWANAN BERARTI, TIM GABUNGAN GREBEK KAWASAN RAWAN KAMPUNG BAHARI 01 Nov 2026
Populer
- PERKUAT KEBIJAKAN REHABILITASI BERBASIS BUKTI, BNN GELAR BIMTEK PENGISIAN INTAN IBM TAHUN 2026 07 Okt 2026

- BNN EVALUASI CAPAIAN REHABILITASI BERKELANJUTAN TRIWULAN III TAHUN 2026 05 Okt 2026

- PEJABAT UTAMA BNN RI IKUTI ARAHAN PRESIDEN PRABOWO DI ISTANA NEGARA 07 Okt 2026

- TUJUH K/L GELAR RAPAT KOORDINASI PENANGANAN OVERCAPACITY LAPAS 06 Okt 2026

- BNN PERKUAT PEMANTAUAN PEMULIHAN MELALUI REKONSILIASI DATA REHABILITASI 06 Okt 2026

- DUKUNG PENANGANAN OVER KAPASITAS LAPAS, BNN SIAPKAN SKEMA REHABILITASI WARGA BINAAN 10 Okt 2026

- DIREKTORAT ADVOKASI BNN PERKUAT SINERGI P4GN DENGAN DINAS PENDIDIKAN SULAWESI UTARA 10 Okt 2026
