Menanggulangi masalah Narkoba bukan perkara yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Sebagai garda terdepan dalam penanggulangan masalah Narkoba, Badan Narkotika Nasional (BNN) membutuhkan sinergitas dengan seluruh elemen bangsa. Sebagai salah satu bentuk implementasinya, BNN terus membangun jejaring dengan berbagai unsur masyarakat, seperti tokoh masyarakat, agama, serta pemuda yang tujuannya adalah untuk mengoptimalkan upaya bersama dalam rangka melaksanakan kegiatan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).Sebagai implementasi konkretnya, BNN, melalui Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat menggelar kegiatan Lokakarya Tokoh Masyarakat, Agama, Pemuda di DKI Jakarta, Selasa (27/3). Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat, yang sudah cukup aktif dalam upaya penanggulangan Narkoba di berbagai kawasan di Jakarta.Dalam sambutannya, Deputi Pemberdayaan Masyarakat, Ismu Haryono mengatakan agar seluruh tokoh baik itu tokoh masyarakat, agama, dan juga pemuda, untuk senantiasa berjuang dengan tulus dalam menciptakan lingkungan yang bersih dari penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba.Untuk merubah lingkungan yang sudah berpredikat zona merah, alias rawan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba, bukan hal yang mudah, dan tentu saja tidak bisa diubah dalam waktu yang singkat.Meski sulit untuk mengubah mindset masyarakat yang masih terkoneksi dengan kejahatan Narkoba, kita harus terus berjuang dengan penuh ketulusan dan komitmen yang kuat, ujar Deputi Dayamas.Sementara itu, Andi Muhammad Jufri, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hubungan Antar Kelompok dan Resolusi Konflik, Universitas Indonesia, mengatakan, tokoh masyarakat sebagai fasilitator harus memahami betul permasalahan Narkoba dari mulai hal sederhana seperti bahasa-bahasa atau istilah yang dipakai para pemakai atau pengedar di lingkungannya. Selain itu, mereka juga harus bisa membaca modus atau taktik yang digunakan para aktor peredaran Narkoba untuk beraksi di lingkungannya.Dengan kondisi lingkungan masyarakat yang semakin terancam, seluruh elemen masyarakat, baik itu dari kalangan tokoh atau pun masyarakat biasa, harus sudah mulai sadar tentang bagaimana proyeksi kampungnya, misalnya kondisi 20 tahun ke depan akan seperti apa. Pertanyaannya, apakah semua orang memang menginginkan kampung sendiri menjadi hancur dan tidak berdaya guna sama sekali?Karena itulah, rasa kepedulian yang tinggi sepertinya harus terus dipertajam, karena pasti semua orang tidak ingin kampungnya hancur karena masalah Narkoba.Andi menghimbau agar setiap orang untuk mulai memimpikan lingkungannya yang tadinya zona merah menjadi zona bersih, yang hijau, dan menjadi pusat pengkajian atau pembelajaran banyak orang.Butuh mimpi bersama untuk melihat masa depan kampung sendiri bebas dari penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba, tambahnya.Terkait dengan upaya pemberdayaan masyarakat dalam upaya penanggulangan Narkoba, Andi merekomendasikan beberapa poin penting yang bisa menjadi masukan untuk pemerintah dalam hal ini BNN. Pertama, Andi menekankan agar apa pun program yang dikembangkan harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Pemerintah harus bertanya tentang apa kebutuhan masyarakat di kalangan grass root, sehingga program itu sendiri tepat sasaran.Bentuk konkret dari konsep tersebut bisa dilihat dari contoh kegiatan yang berhasil dilaksanakan BNN beberapa waktu lalu. BNN telah melaksanakan program pemberdayaan alternatif dengan strategi pelatihan servis Handphone, di Kampung Bonang dan Kampung Bali. Strategi ini mendapatkan respon yang positif dari peserta yang mengikuti pelatihan tersebut. Bagi mereka, wahana pelatihan tersebut telah memberikan ruang gerak bagi mereka untuk selangkah lebih maju, karena dengan kemampuan yang mereka dapatkan, maka mata pencaharian pun bisa diciptakan.Dalam paparannya, Andi juga mengulas tentang cara menanggulangi permasalahan Narkoba. Ia mengataakn bahwa ada tiga strategi yang harus dilakukan secara integral. Pertama, dalam koridor prevensi, maka pemerintah mesti membentuk kesadaran publik, kemudian pemberdayaan masyarakat terpadu untuk menyelesaikan akar masalah (pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, dan lain-lain), dan terakhir adalah membangun kerjasama dengan penegak hukum untuk meredam dan membentengi masuknya jaringan peredaran Narkoba.Kedua, dalam konteks pengobatan atau perawatan pada penyalahguna Narkoba, maka yang perlu segera dilakukan adalah pengobatan dan rehabilitasi; pelaksanaan program pengurangan dampak buruk (Harm Reduction); program kelompok dampingan sebaya; bantuan segera (basic needs) berupa bantuan kesehatan, pendampingan psikologis, shelter khusus, makanan/minuman; dan terakhir adalah advokasi dan penegakan hukum.Sementara itu, strategi ketiga, sebagai langkah untuk mengakomodir kebutuhan para mantan penyalahguna Narkoba maka langkah yang perlu diambil adalah implementasi pemberdayaan alternatif masyarakat secara terpadu untuk (pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, dan lain-lain).Terkait dengan upaya transformasi mindset kawasan rawan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba menjadi kawasan berdayaguna, pada dasarnya sejumlah tokoh di beberapa kampung, seperti di Kampung Pemata, Kampung Bonang, dan beberapa kampung lainnya di Jakarta, telah melakukan progress yang cukup signifikan.Komarudin, salah seorang tokoh yang giat membangun kawasan Pegangsaan RW 06, yang letaknya di dekat Tugu Proklamasi, mengatakan bahwa mengubah kawasan yang rawan dengan penyalahgunaan Narkoba memang membutuhkan perjuangan yang tidak gampang.Sejak mendirikan Komunitas Proklamasi 2009, ia bersama rekan-rekannya menghadapi dua tantangan yang sangat berat, yaitu penyalahgunaan dan peredaran Narkoba serta tawuran. Namun sejak saat itu pula, ia telah bekerja keras untuk merubah citra buruk kawasan yang sangat rawan, menjadi kawasan yang lebih damai, dan bersih dari penyalahgunaan Narkoba.Untuk membentengi masyarakat dari bahaya penyalahgunaan Narkoba, Komarudin menciptakan berbagai bidang kegiatan yang positif, dari mulai pendirian rumah belajar, penghijauan, ternak lele, hingga sosialisasi bahaya penyalahgunaan Narkoba. Semua hal yang ia lakukan pada dasarnya berawal dari mimpi bersama memiliki kampung yang damai, hijau, dan menjadi destinasi banyak orang untuk objek pembelajaran.Menurut Alim, rekan aktivis Komarudin, mengatakan, sejak tahun 2009 hingga saat ini, beberapa kawasan seperti di Matraman, Pegangsaan hingga Manggarai, sudah menunjukkan tren yang positif, artinya angka penyalahgunaan Narkoba semakin turun, dan angka tawuran juga sudah menurun secara drastis. (BK)
Berita Utama
BNN Gandeng Tokoh Masyarakat, Gencarkan P4GN!
Terkini
-
BNN HADIRI GELAR GRIYA IDULFITRI 1446 H DI ISTANA KEPRESIDENAN JAKARTA 01 Apr 2025
-
BNN DAN TEMPO JALIN KOLABORASI STRATEGIS, PERANGI NARKOBA DI JAKARTA 28 Mar 2025
-
DUKUNG MUDIK AMAN DI 2025, BNN LAKUKAN TES URINE DI 4 TERMINAL JAKARTA 27 Mar 2025
-
TEMUI MENLU SUGIONO, KEPALA BNN RI UPAYAKAN PENGEJARAN DPO DAN PERAMPASAN ASET DI LUAR NEGERI 26 Mar 2025
-
BNN DAN PGI BERSATU LAWAN NARKOBA, FOKUS PADA PENCEGAHAN DAN REHABILITASI 26 Mar 2025
-
BNN PERINGATI HARI JADI KE-23 SECARA SEDERHANA DAN PENUH MAKNA 24 Mar 2025
-
PUSLITDATIN BNN SEPAKATI PERJANJIAN KERJA SAMA DENGAN BPS DALAM RANGKA PENGUKURAN PREVALENSI 24 Mar 2025
Populer
- SEMPAT TERTUNDA, BNN DAN EKUADOR LANJUTKAN KERJA SAMA PEMBERANTASAN NARKOTIKA 04 Mar 2025
- GELAR ACARA PELEPASAN PEJABAT PURNA TUGAS, KEPALA BNN RI: “TERIMA KASIH ATAS PENGABDIAN DAN BIMBINGANNYA” 05 Mar 2025
- KEPALA BNN RI HADIRI RAPAT TERBATAS BERSAMA PRESIDEN, PERKUAT KONSOLIDASI PROGRAM PEMERINTAH 05 Mar 2025
- BNN CAPAI INDEKS RB DI ATAS RATA-RATA K/L 07 Mar 2025
- KEPALA BNN RI TIBA DI BUMI SERUMPUN SEBALAI, BUKA FORUM KOMUNIKASI P4GN 06 Mar 2025
- KUNJUNGI BNN, TRC PPAI BAHAS PERLINDUNGAN PEKERJA MIGRAN INDONESIA DARI BANDAR NARKOBA 13 Mar 2025
- KEPALA BNN RI BERIKAN MOTIVASI KE JAJARAN DI BANGKA BELITUNG 08 Mar 2025