BNN RI – Pontianak – Ancaman penyalahgunaan dan peredaran narkoba kian mengkhawatirkan. Indonesia tak hanya menjadi tempat transit namun juga sebagai kawasan target peredaran narkoba. Berbagai cara dilakukan bandar untuk bisa memasukan narkoba ke wilayah Indonesia. Sementara itu, kondisi para penyalah guna narkoba sangat ironis dan perlu perhatian serius. Seseorang yang terus menerus mengkonsumsi narkoba secara tidak sadar akan diperbudak barang haram tersebut, hingga akhirnya mengalami masalah adiksi. Peran keluarga sangat dibutuhkan, agar para penyala guna pulih dari kecanduannya.
Hal ini disampaikan Husniah, SE, M.Si Kabid Rehabilitasi BNNP Kalimantan Barat dalam acara Bimtek Penggiat Anti Narkoba bidang P4GN di Pontianak, Kamis (15/8).
Terkait adiksi, Husniah menambahkan menerangkan, bahwa hal tersebut merupakan ketergantungan terhadap narkotika. Dalam kondisi itu, seseorang mengalami ketergantungan secara fisik dan psikologis terhadap suatu zat narkotika.
“Adiksi memiliki 7 karakteristik, diantaranya adanya toleransi terhadap zat yang dikonsumsi berupa meningkatnya dosis, adanya gejala putus zat tertentu dalam kurun waktu tertentu, menggunakan zat dalam jumlah besar, keinginan terus menerus atau usaha yang gagal untuk menghentikan penggunaan zat, berhentinya/menurunnya aktifitas penting sebagai akibat dari penggunaan zat, terus menggunakan zat walaupun masalah fisik dan psikologi terjadi”, imbuhnya.
Ada banyak alasan akhirnya seseorang terjebak narkoba, diantaranya adanya keingintahuan, mengikuti teman, supaya merasa lebih nyaman, untuk merayakan sesuatu, dan untuk merasa lebih baik dalam melakukan sesuatu.
Peran serta keluarga bagi pecandu narkoba sangatlah penting untuk bisa benar benar terlepas dari ketergantungan narkotika. Hal ini disampaikan mantan pengguna narkoba, Arie Wicaksono, yang juga hadir menjadi narasumber dalam acara bimtek tersebut.
Menurut Arie, keluarga merupakan first opinion change bagi pemulihan korban penyalahgunaan narkoba, karena keluarga bisa memberikan segala bentuk perhatian khusus dalam proses rehabilitasi.
Bentuk perhatian yang kuat diharapkan bisa melawan stigma yang seringkali jadi masalah untuk para penyalah guna narkoba yang menjalani rehabilitasi.
“Stigma sosial sering kali membuat orang kehilangan status, diskriminasi dan dikucilkan dari keterlibatannya dalam masyarakat juga mempengaruhi efektifitas terapi”, ungkap Arie.
Stigma juga membuat para penyalah guna merasa malu dan menolak untuk datang terapi. Karena itula, dukungan sosial dari keluarga merupakan solusi untuk memulihkan kepercayaan diri dari pengguna narkotika.
Disela-sela acara bimbingan teknis (Bimtek) yang diselenggarakan, peserta juga diminta membuat Rencana Aksi P4GN yang nantinya dapat dilaksanakan untuk mendukung upaya penanganan penyalahgunaan narkoba di wilayah Kalimantan Barat.
Di akhir rangkaian kegiatan Bimtek selama dua hari, para peserta dikukuhkan sebagai penggiat anti narkoba. Mereka secara simbolik diberikan pin dan sertifikat oleh BNN.
“Para Penggiat Anti Narkoba yang dilantik nantinya diharapkan bisa menjadi pioner untuk mengatasi permasalahan pengentasan narkoba di Kalimatan Barat khusunya di dunia pendidikan”, Demikian yang disampaikan Wildah Dj., M.Si, Kasubdit Lingkungan Pendidikan, Direktorat Peran Serta Masyarakat, Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN.
BIRO HUMAS DAN PROTOKOL BNN
Instagram: @infobnn_ri
Twitter. :@infobnn
Facebook Fan page : @humas.bnn
YouTube: Humasnewsbnn