BNN, Ditjen Bea Cukai, Kemenkumham Gagalkan Penyelundupan 73 Kg Shabu dan 10.000 Butir Ekstasi di Perairan Aceh Utara

1 Februari 2019

Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Direktorat Jenderal Bea Cukai, TNI AL, dan Kementerian Hukum dan Ham berhasil gagalkan penyelundupan narkotika jenis shabu seberat + 73,949 Kg dan 10.000 butir ekstasi. Penggagalan penyelundupan narkotika yang dilakukan oleh sindikat internasional tersebut terjadi pada hari Kamis, 10 Januari 2019 di perariran Aceh Utara.            Sebanyak empat (4) orang tersangka diamankan oleh petugas gabungan. Keempat tersangka tersebut berinisial SB alias Pun (pria/29th), MZU (pria/28th), MZA (pria/22th), dan ME (wanita/30th). Selain keempat tersangka tersebut, petugas juga mengamankan seorang narapidana dari Lapas Tanjung Gusta, Medan atas nama Ramli Bin Arbi alias Bang Li (pria/55th) yang berperan sebagai pengendali dan pemesan barang ke Malaysia. Barang bukti narkotika dan tersangka SB, MZU, dan MZA diamankan petugas di perairan Aceh saat mengambil Shabu dan ekstasi dari Thailand dengan menggunakan kapal boat milik seorang berinisial JAL yang hingga saat ini masih masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Selanjutnya tersangka ME yang merupakan istri dari MZU turut ditangkap pada hari Jumat, 18 Januari 2019 karena meminta suaminya untuk berangkat ke laut untuk mengambil barang bukti narkotika tersebut.     Para tersangka kini dikenakan pasal 114 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat (1) 112 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomer 35 Tahun 2009 dengan ancaman hukuman maksimal pidana mati. 

BNN Gagalkan Penyelundupan 25 Kg Shabu dari Jaringan Malaysia – Aceh

1 Februari 2019

Peredaran gelap narkotika oleh sindikat internasional Malaysia – Bireun – Aceh Utara kembali digagalkan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), Sabtu (19/1). Seorang tersangka berinisial S alias PAN (pria/40th) diamankan petugas dengan barang bukti 24 bungkus shabu seberat + 25,852 kg.Tersangka S alias PAN ditangkap di Pasar Geruegok, Kabupaten Bireun, Aceh pada hari Sabtu, 19 Januari  2019 karena kedapatan membawa 8 bungkus narkotika jenis shabu seberat + 8,630 kg yang disimpan di dalam sebuah mobil pick up berwarna hitam. Setelah menangkap S alias PAN, petugas melakukan penggeledahan di rumah tersangka di daerah Keude Mane, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara. Berdasarkan penggeledahan tersebut petugas kembali menemukan barang bukti shabu sebanyak 16 bungkus dengan berat + 17,221 Kg yang disembunyikan di sebuah mobil berwarna putih yang terparkir di belakang rumah tersangka.Berdasarkan hasil penggeledahan di kedua lokasi tersebut, maka total barang bukti yang berhasil diamankan petugas yakni seberat + 25,852 Kg. Tersangka S alias PAN mengaku bahwa barang bukti yang ada di tangannya didapatkan dari seorang lelaki yang tidak dikenal di Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhoksumawe, Aceh. Ungkap kasus ini merupakan pengembangan dari jaringan sindikat Ramli Bin Arbi alias Bang Li.            Kini atas perbuatannya, tersangka terancam pasal 114 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat (1) 112 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 dengan ancaman maksimal pidana mati.  

Kerja Sama BNN dan Ditjen Bea Cukai Bongkar Kasus 1,4 Ton Ganja

1 Februari 2019

Sinergitas Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama dengan Direktorat Jenderal Bea Cukai kembali berhasil mengungkap peredaran gelap narkotika oleh jaringan Aceh. Ganja dengan berat bruto 1,4 ton berhasil diamankan bersama dengan lima (5) orang tersangka, Rabu (30/1). Modus penyelundupan ganja tersebut dilakukan dengan memecah kiriman menjadi dua, yaitu menggunakan jalur darat dan jalur udara (via kargo) guna mengelabuhi petugas. Keseluruhan barang bukti selanjutnya berhasil disita oleh petugas gabungan di tiga lokasi berbeda yakni di kargo Bandara Soekarno Hatta; Depok; dan Bogor, Jawa Barat.Kronologis penangkapanBerawal dari informasi masyarakat, tim gabungan melakukan penyelidikan terhadap sebuah truk jenis engkel box dari Aceh yang diduga memuat narkotika golongan 1 jenis ganja. Petugas pun selanjutnya mengikuti truk dan melakukan penangkapan sesampainya di Baranangsiang, Bogor, Jawa Barat, sekitar pukul 13.35 WIB, Rabu (30/1). Penangkapan tersebut dilakukan pada saat supir truk berinisial BS akan meninggalkan kendaraan dan menitipkan kuncinya kepada tukang parkir. Setelah menangkap tersangka, petugas kemudian melakukan penggeledahan truk yang dikamuflase sebagai reefer truck dengan menggunakan unit K9 (Anjing Pelacak Narkotika) BNN dan menemukan bungkusan-bungkusan ganja yang disembunyikan dalam kompartemen khusus di dasar truk yang ditutup dengan plat besi.Selanjutnya di hari yang sama petugas gabungan juga melakukan penyitaan ganja yang dikirim melalui kargo Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 19.45 WIB. Dari penyitaan tersebut petugas kemudian mengamankan dua orang tersangka berinisial IM dan SP. Tersangka SP sendiri merupakan warga binaan di Rutan Kebon Waru, Bandung yang diduga sebagai pengendali dari jaringan ini.Berdasarkan informasi yang didapatkan, petugas kembali menyita sejumlah ganja pada hari Kamis 31 Januari 2019 di daerah Sarua, Depok, Jawa Barat. Dalam penyitaan tersebut petugas mengamankan 2 orang tersangka berinisial AS dan AB. Ganja tersebut juga diketahui merupakan kiriman dari Aceh melalui kargo yang telah diambil oleh salah seorang tersangka dan dibawa kerumahnya di Sarua, Depok.Selain barang bukti ganja dengan total berat bruto 1,4 ton dalam ungkap kasus ini beberapa barang bukti juga disita seperti satu buah truk engkel box, satu mobil pick up, satu mobil kijang kapsul, beberapa buah telepon genggam, dan kartu identitas dari para tersangka. Atas pebuatannya kelima tersangka terancam Pasal 114 Ayat (2) Sub 111 Ayat (2) Sub 132 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara atau seumur hidup. 

BNN-Bakamla Bentengi Laut Dari Penyelundupan Narkoba

9 Januari 2019

Penyelundupan narkoba melalui jalur laut masih dominan hingga saat ini. Hampir semua kasus yang diungkap BNN sepanjang tahun 2018 berasal dari jalur laut. Salah satu kasus terbesar yang diungkap BNN bersama TNI, dan Bea Cukai adalah penyelundupan shabu 1,037 ton di perairan Batam, Kepulauan Riau, Februari 2018. Hal ini perlu menjadi antisipasi bersama terutama oleh para stakeholder yang menangani keamanan wilayah laut Indonesia. Dalam rangka memperkuat upaya pencegahan masuknya narkoba lewat laut, BNN kembali menjalin kerja sama dengan Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI, melalui penandatanganan nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama, di Jakarta, Rabu (9/1).Kerja sama kedua pihak ini akan fokus pada pelaksanaan operasi keamanan laut terpadu terkait Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika (P4GN) di wilayah perairan dan yurisdiksi Indonesia. Selain itu, kedua pihak juga berkomitmen untuk melaksanakan pertukaran data dan informasi terkait P4GN. Sementara itu, dalam bidang pencegahan, melalui perjanjian kerja sama yang disepakati kedua pihak, fokus kegiatan ke depan antara lain pembentukan relawan anti narkotika dan penyebarluasan informasi tentang P4GN. Sedangkan dalam bidang pemberdayaan masyarakat, BNN dan Bakamla fokus dalam hal pemberdayaan penggiat anti narkoba, pelaksanaan tes atau uji narkoba, pemberdayaan potensi masyarakat pesisir dan pulau serta pembinaan fasilitator atau mentor masyarakat pesisir dan pulau. Dalam upaya penanggulangan narkoba, upaya kerja sama antara BNN dengan Bakamla sangat strategis. Bakamla mempunyai tugas patroli keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia. Dengan kewenangan seperti itu, kedua pihak bisa saling bersinergi untuk membentengi perairan Indonesia dari serbuan narkoba. 

SIARAN PERS AKHIR TAHUN 2018

20 Desember 2018

Bangsa ini tengah dihadapkan pada situasi darurat narkoba sehingga diperlukan upaya serius untuk mengatasinya. Upaya pengurangan supply dan demand pun terus dilakukan secara berimbang. Pada sisi supply reduction, melalui upaya pemberantasan, BNN telah melakukan berbagai ungkap kasus sepanjang tahun 2018, diantaranya 914 kasus narkotika/prekursor narkotika yang melibatkan 1.355 orang tersangka dan sebanyak 53 ungkap kasus TPPU yang melibatkan 70 orang tersangka dengan total aset Rp 229 miliar. Sementara Polri berhasil mengungkap kasus narkotika/prekursor narkotika sebanyak 33.060 kasus dengan jumlah tersangka 43.320 orang dan kasus TPPU sejumlah 7 kasus dengan jumlah tersangka 8 orang. Sementara itu jumlah barang bukti yang disita sepanjang tahun 2018 oleh BNN dan Polri serta Bea CukaiDari seluruh kasus yang diungkap, BNN mengidentifikasi di tahun 2018 ada 83 jaringan sindikat narkoba, sedangkan pada tahun 2017 sebanyak 99 jaringan. Banyaknya kasus dan jumlah barang bukti yang diungkap merupakan bukti dari kerja keras BNN dan kerja sama yang kuat dengan instansi terkait baik TNI, Polri dan Bea Cukai. Salah satu bukti sinergi yang dilakukan, yaitu pengungkapan kasus 1,037 ton shabu di perairan Batam, pada Februari 2018 lalu. Langkah pemberantasan tidak akan menghasilkan dampak yang signifikan jika tidak diimbangi dengan demand reduction atau pengurangan permintaan narkoba melalui langkah pencegahan. Dalam rangka pencegahan mulai dari kawasan pedesaan, BNN bersama dengan Kemendagri dan Kementerian Desa PDTT telah merintis program desa bersinar atau desa bersih dari narkoba. Program ini melibatkan tiga pilar, yaitu Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan Kepala Desa beserta Puskesmas. Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya narkoba, BNN juga telah melaksanakan kampanye stop narkoba kepada 5.500 orang, dan pembentukan relawan anti narkoba sebanyak 4.498 orang. BNN telah mengidentifikasi 654 lokasi kawasan rawan narkoba dan melakukan intervensi melalui program pemberdayaan anti narkoba di 55 lokasi yaitu di 36 kawasan perkotaan dan 19 kawasan pedesaan. Pada tahun ini juga BNN bersama dengan instansi terkait melanjutkan program Grand Design of Alternative Development, di tiga titik pilot project yaitu Aceh Besar, Bireuen, dan Gayo Lues. Melalui program ini masyarakat diharapakan tidak lagi menanam ganja tapi menggantinya dengan tanaman legal dan bernilai ekonomi tinggi. Selain itu, dalam upaya pemberdayaan masyarakat, BNN juga mendayagunakan peran serta masyarakat guna menciptakan lingkungan yang bersih dari narkoba, baik dengan sosialisasi bahaya narkoba maupun pelaksanaan uji narkoba di seluruh indonesia. Dalam tahun ini BNN telah melakukan tes urine sebanyak 4.652 kali dengan peserta sebanyak 297.918 orang. Dalam rangka upaya penyelamatan para penyalahguna dari jeratan narkoba, pada tahun ini BNN telah meningkatkan kapasitas petugas rehabilitasi pada 522 lembaga baik instansi pemerintah maupun komponen masyarakat. Sementara itu, jumlah penyalahguna yang sudah direhabilitasi oleh lembaga rehabilitasi milik pemerintah dan komponen masyarakat sebanyak 15.263 orang. BNN juga telah memberikan layanan pasca rehabilitasi kepada 4.231 mantan penyalahguna narkobaGuna mengoptimalkan terselenggaranya program rehabilitasi, BNN melatih para aparat penegak hukum untuk menyamakan persepsi terkait penanganan penyalahguna narkotika yang akan ditempatkan di lembaga rehabilitasi di lima wilayah. Langkah ini merupakan kerja sama dengan badan dunia yang mengurusi masalah kriminal dan narkoba atau UNODC. Untuk menguatkan perlawanan terhadap narkoba, BNN membangun sinergi dengan seluruh komponen bangsa, baik di dalam maupun luar negeri. Pada tahun ini BNN telah menjalin kerja sama dengan 7 instansi pemerintah, 9 BUMN, 6 lingkungan pendidikan, dan 13 komponen masyarakat dengan total dokumen kerja sama sebanyak 54 dokumen. Secara khusus, BNN menguatkan kerja sama dengan Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham dalam rehabilitasi narkotika bagi tahanan, warga binaan pemasyarakatan, dan petugas pemasyarakatan. Dalam tataran internasional, BNN telah menggalang kerja sama dengan sejumlah negara seperti, Malaysia, Thailand, Filipina, Australia, India, Fiji, Maroko, dan Nigeria. Hal ini sebagai bukti BNN tidak lagi defensif, tapi ofensif menangkal narkoba dari luar negeri. Bahkan BNN mendorong agar para dubes di beberapa negara lebih proaktif dalam mencegah masuknya narkoba ke Indonesia. Menyikapi persoalan narkoba yang masih mengancam, Presiden RI telah mengeluarkan Inpres No. 6 tahun 2018 tentang rencana aksi nasional P4GN. Melalui Inpres ini, seluruh kementerian dan lembaga serta pemerintah daerah harus melakukan aksi P4GN yang nantinya dilaporkan ke Presiden RI. Inpres ini juga mendorong dibuatnya peraturan P4GN di kementerian/lembaga atau perda di tingkat provinsi dan kab/kota. Sebagai respon positif terhadap Inpres tersebut, sejumlah kementerian atau lembaga, Pemda, BUMN, dan instansi swasta telah melakukan aksi nyata, baik dalam bentuk sosialisasi bahaya narkoba, tes urine, ataupun pembentukan kader anti narkoba dalam mendukung terselenggaranya Inpres No. 6 tahun 2018.