KEPALA BNN RI HADIRI FAMILY SUPPORT GROUP DI LIDO BOGOR

12 Juli 2019

Kepala BNN RI drs. Heru Winarko, SH didampingi Deputi Rehabilitasi BNN, Yunis Farida Oktoris dan Kepala Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido, Ali Azhar menghadiri acara Family Support Group (FSG) dengan tema "Keluarga Mengantarku Pada Kehidupan Yang Baru", yang dilaksanakan di Gedung Serba Guna Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido Kabupaten Bogor, Kamis (11/7).Pada kesempatan itu, HW sebutan Kepala BNN RI menyempatkan diri mengunjungi Stand Pameran karya para Residen Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido yang ikut memeriahkan acara FSG tersebut.Menurut penjelasan Karo Humas dan Protokol BNN RI, Sulistyo Pudjo, selain acara seremonial dan stand pameran juga terdapat agenda pemberian alat musik angklung oleh musisi terkenal Indonesia, Bens Leo yang langsung menyerahkan angklung tersebut untuk kepada pengajar guna menambah fasilitas kesenian dalam bermusik bagi para residen di Balai dan Loka Rehabilitasi BNN RI.Pemberian alat musik angklung tersebut dipilih karena merupakan alat musik asli Indonesia yang sudah terkenal di dunia dan merupakan bahasa universal penuh cinta yang dapat menghasilkan harmoni yang menggambarkan kebersamaan antara residen, keluarga residen, dan BNN.Pada acara hiburan dan ramah tamah, secara mengejutkan Kepala BNN RI tampil ke atas panggung dan langsung memainkan alat musik keyboards serta bernyanyi bersama SLANK grup musik legendaris Indonesia yang hadir mengisi acara tersebut.Lebih dari dua lagu dibawakan HW bersama Kaka, Bimbim dan SLANK dengan diakhiri lagu "Ku Tak Bisa" yang secara spontanitas dinyanyikan bersama-sama para undangan dan pengunjung yang hadir layaknya sebuah konser pada acara tersebut.#Kabag Publikasi dan Media Sosial BIRO HUMAS DAN PROTOKOL BNN RI Bersinar

LATIH PETUGAS RSJ DAN LAPAS: BUKTI KOMITMEN & SINERGITAS

10 Juli 2019

Ketersedian sumber daya manusia pelaksana rehabilitasi yang terbatas menjadi kendala yang dihadapi pemerintah dalam mengatasi Demand terhadap narkoba di Indoensia. Maka dari itu, Badan Narkotika Nasional dalam hal ini Deputi Bidang Rehabilitasi melaksanakan Peningkatan Kemampuan dalam bentuk pelatihan bagi petugas rehabilitasi, dan hal tersebut telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Pelatihan kali ini diselenggarakan bagi petugas di Rumah Sakit Jiwa dan Lembaga Pemasyarakatan Narkotika, dengan tujuan dapat terselenggaranya layanan rehabilitasi penyalah guna narkoba di RSJ dan Lapas. Selain itu, Undang-Undang Kesehatan Jiwa telah mengamanatkan bahwa RSJ wajib menyisihkan 10% dari total kapasitas untuk rehabilitasi pecandu narkotika dan juga masih terdapat penylah guna yang di penjara karena kasus narkoba.Pada kesempatan tersebut Deputi Rehabilitasi Dra. Yunis Farida Oktoris, M.Si menyampaikan bahwa ini merupakan tanggung jawab dan komitmen pemerintah dalam menangani permasalahan narkoba di Indonesia. Deputi Rehabilitasi juga berharap agar petugas yang dilatih saat ini dapat menyebarkan ilmu yang telah didapat kepada rekan-rekan di daerah masing-masing. Selain itu, juga diharapkan khususnya RSJ agar tidak pasif dalam menyukseskan rehabilitasi bagi penyalah guna, diperlukan upaya "jemput bola" kepada masyarakat, mengingat penyalah guna merupakan "hidden population".

Dikemas Kreatif Promosi Rehabilitasi Gratis BNN Lebih Dilirik

8 Juli 2019

Langkah rehabilitasi dalam upaya penanggulangan narkoba sangat penting, karena dapat menjadi salah satu jalan memutus demand atau permintaan narkoba. Sayangnya, rehabilitasi belum banyak disadari atau dipahami oleh banyak orang. Karena itulah, Balai Besar (Babes) Rehabilitasi BNN Lido secara proaktif menyapa warga Bogor dan sekitarnya untuk memberikan pemahaman tentang rehabilitasi, termasuk prosedur dan cara pendaftarannya.Seperti disampaikan Kabag Umum Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido, Rose Handayani, aspek rehabilitasi masih belum banyak dikenal secara luas, bahkan masih ada bertanya tanya rehabilitasi di BNN itu bayar atau tidak. Untuk memberikan pemahaman tentang rehabilitasi, Babes Rehabilitasi BNN turun menyapa masyarakat dengan membuka booth dan pojok konseling di berbagai tempat, dan kali ini hadir di mall Lippo Ekolokasari Bogor, Minggu (7/7).Menurut Rose, saat ini klien yang dari tempat terdekat dari Bogor justru sangat minim, sehingga diharapkan warga Bogor bisa lebih mengenal tempat rehabilitasi milik BNN di Lido."Target lain yang ingin dicapai adalah masyarakat menjadi tahu bahwa rehabilitasi di BNN itu gratis, dan mengajak kaum milenial agar lebih aware pada rehabilitasi,"imbuh Rose.Dari pantauan beberapa kegiatan sebelumnya, ia menilai animo masyarakat tentang rehabilitasi sudah mulai meningkat. Ke depan pihak Balai Besar akan terus menggelar kegiatan serupa di berbagai tempat atau pusat keramaian agar masyarakat lebih paham tentang signifikansi rehabilitasi." Atas arahan pimpinan, kami akan menggelar di mal lainnya, tak hanya Bogor tapi juga di kota lain yang available," pungkas Rose.Agar menarik perhatian masyarakat secara luas, Babes Rehabilitasi BNN mengemas kegiatan hari ini dengan cara kreatif dan menyasar kalangan Milenial. Penyampaian pesan bahaya narkoba dan rehabilitasi, tidak hanya melalui konsep pojok konseling, tapi juga dengan adu bakat dari mulai lomba dance, lomba fotografi, hingga penampilan silat. Salah satu anak Milenial berprestasi yang hadir mengisi acara ini, yaitu Muhamad Yusrifal dan Muhamad Wahyu Setyanto, pesilat muda yang mencetak banyak prestasi. Keduanya berbagi sudut pandangnya tentang narkoba dan isu rehabilitasi dengan jurnalis Humas BNN.Ketika ditanyakan tentang bagaimana mencegah narkoba, keduanya kompak mengatakan agar anak muda menekuni kegiatan yang positif seperti olahraga."Tidak hanya dengan olahraga tapi apapun kegiatan positif lainnya jika digeluti dengan tekun, maka bisa menangkal rayuan narkoba," imbuh peraih prestasi 7 Penampil Terbaik Nusantara tahun 2017 di TMII lewat aksi pencak silat ganda putra.Kedua pesilat di perguruan Tunas Muda Indonesia di bawah pelatih Pahrudin, mengaku belum pernah mendapatkan pengalaman ditawari narkoba di lingkungan sekolahnya. Meski demikian, keduanya tetap waspada dan harus tahu jika ada rekannya yang terkena narkoba." jika masih pada tahapan coba-coba, maka kita harus tegur dia, tapi jika sudah parah dan ketergantungan maka harus segera diajak rehabilitasi," ujar pesilat yang juga pernah menjalani PKL di Balai Besar Rehabilitasi BNN.Biro Humas dan Protokol BNN RI#bersinar #stopnarkoba

Kriteria inklusi layanan pascarehabilitasi intensif

1 Juli 2019

Layanan Pascarehabilitasi intensif merupakan layanan pascarehabilitasi rawat inap di Rumah Damping.Klien yang dapat mengakses layanan pascarehabilitasi rawat inap di Rumah Damping adalah sebagai berikut:1. Klien yang telah menyelesaikan program rehabilitasi (medis dan sosial), dengan kondisi medis, psikologis, sosial telah dinyatakan stabil dan dalam keadaan abstinentia; 2. Klien yang belum mendapat dukungan sosial, yaitu keluarga atau masyarakat di lingkungannya belum bisa menerima kehadiran klien dan/atau; 3. Klien yang tidak produktif, yaitu tidak memiliki pekerjaan atau kegiatan rutin (pengangguran) dan/ atau; 4. Tinggal di lingkungan yang tidak aman/ banyak pecandu; 5. Klien yang telah mengikuti program pascarehabilitasi maksimal 2 (dua) kali , dan maksimal selesai layanan 2 tahun, dengan mengikuti kriteria lain seperti pada poin a, b, c, dan d.Mekanisme rujukan layanan pascarehabilitasi intensif merupakan tahapan rujukan klien dari layanan rehabilitasi ke layanan pascarehabilitasi. Tahapannya adalah sebagai berikut:a. Persiapan program pascarehabilitasi yang diselenggarakan pada klien rawat jalan, pada pertemuan kedua sebelum akhir program rawat jalan, dan/atau pada klien rawat inap dua minggu sebelum akhir program rehabilitasi (minggu kedua fase re-entry). Penyedia layanan rehabilitasi melakukan persiapan program pascarehabilitasi melalui analisa:1. Resume dan rekomendasi jenis layanan pascarehabilitasi 2. Re-asesmen 3. Hasil Minat dan Bakat 4.  Tinjauan rencana terapib. Lembaga rehabilitasi memberitahukan melalui persuratan (via fax atau e-mail) kepada layanan pascarehabilitasi yang akan dituju oleh klien paling lambat 3x24 jam hari kerja sebelum klien selesai program rehabilitasi.c. Penyedia layanan pascarehabilitasi melakukan penjemputan (khusus pascarehabilitasi rawat inap) atau penerimaan atas klien yang telah selesai menjalani program rehabilitasi.d.   Pemberi layanan rehabilitasi melakukan serah terima (handover) dengan Pemberi layanan pascarehabilitasi (inap atau jalan) terkait perencanaan kegiatan pascarehabilitasi yang akan dilaksanakan.

Agen Pemulihan Menembus Framing Lintas Budaya, Agama, dan Adat Istiadat

27 Juni 2019

“Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia.” Begitulah lagu ciptaan R. Suharjo, yang menggambarkan bangsa Indonesia, yang beraneka ragam budaya, bahasa, agama, dan adat istiadat tetapi menjadi satu kesatuan yaitu Indonesia. Hal ini merupakan satu tantangan tersendiri bagi pembuat kebijakan program rehabilitasi penyalah guna narkotika di Indonesia, yaitu membuat program yang bisa diaplikasikan dengan kondisi bangsa Indonesia yang beraneka ragam budaya bahasa dan adat istiadatnya.Dalam menyiasati hal tersebut, perlu dilakukan program yang dapat diterima dengan mudah di masyarakat. Keterlibatan dan partisipasi masyarakat sangat diperlukan dalam pelaksanaan program tersebut, sehingga tercapai sasaran dan tujuan program. Kearifan lokal yang beraneka ragam merupakan salah satu kekayaan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Oleh karena itu, perlu beberapa pendekatan yang harus ditempuh baik pendekatan budaya, agama, dan adat istiadat. Direktorat Pascarehabilitasi mempertimbangkan hal-hal di atas, dengan koordinasi melalui BNNP/K merekrut tokoh agama dan tokoh adat sebagai salah satu kandidat agen pemulihan dalam peran sebagai pemelihara kepulihan mantan penyalah guna di masyarakat.Pendekatan agama dan budaya yang ditempuh dalam program agen pemulihan akan menembus batas yang selama ini sulit dilewati dalam pelaksanaan program rehabilitasi, yang masih menjadi stigma di masyarakat. Harapannya keberhasilan program pun tak elak akan tercapai, dengan menurunnya angka prevalensi kambuh mantan penyalah guna narkoba di seluruh wilayah Indonesia dalam proses rehabilitasi berkelanjutan.