TAHAPAN PERUBAHAN DAN KONSELING DASAR

29 November 2018

Kasus 1Joni (34 tahun) pernah dirawat jalan 1 tahun lalu selama 12 minggu di salah satu klinik. Ia di rawat jalan atas keinginan sendiri setelah 5 tahun ketergantungan opiat. Ia bersih dari narkoba selama kurang lebih 5 bulan. Tepat 6 bulan lalu setelah gagal menikah dan diberhentikan dari pekerjaannya, ia merasa depresi dan mulai mencoba menggunakan sabu. Dalam 3 bulan terakhir ia mengaku telah menggunakannya secara rutin hampir setiap hari. Saat ini ia merasa bingung disatu sisi ia tahu dampak buruk penggunaan narkobanya, namun sisi lainnya ia merasa tidak berdaya dengan kondisinya yang saat ini jatuh dan cukup terbantu dengan pemakaian sabu.

Rehabilitasi Narkoba Untuk Kembalikan Penyalahguna Kembali Berdaya Guna

23 November 2018

Bangli,- Penanganan korban narkoba melalui rehabilitasi penting untuk dilakukan. Dengan dasar kemanusiaan, para penyalah guna dan korban penyalahgunaan narkoba perlu dikembalikan kepulihannya agar menjadi orang yang berdaya guna kembali di tengah masyarakat. Hal ini disampaikan Kepala BNN RI, Drs. Heru Winarko, S.H., saat mengunjungi RS Jiwa Bangli Bali, Sabtu (24/3). Dalam pelaksanaannya, para praktisi rehabilitasi seperti asesor, konselor dan lainnya harus lebih dikuatkan ke depan, agar dapat memberikan pelayanan yang prima untuk memulihkan para pasien rehabilitasi. “Hal penting juga yang harus jadi catatan adalah rehabiltasi itu harus simultan dari mulai detoksifikasi hingga pasca rehabilitasi,”ungkap Heru. Sementara itu, Direktur RSJ Bangli, Gede Bagus Darmayasa melaporkan bahwa selama ini RSJ Bangli menerima pasien narkoba yang berasal dari vonis hakim, asesmen terpadu, dan juga mandiri. Selama ini, pihak RSJ Bangli sudah menjalankan prosedur rehabilitasi sesuai dengan standar. Agar lebih optimal, ia berharap tetap ada dukungan atau pengembangan dalam bidang sarana prasarana. Gede juga menjelaskan bahwa saat ini, jumlah penyalahguna narkoba yang menjalani rehabilitasi di RSJ Bangli sebanyak 8 orang. Untuk mendukung layanan rehabiltasi, pihak RSJ memiliki tim asesor, dan perawat yang terlatih dalam bidang Therapeutic Community (TC). Direktur juga mengatakan pihaknya tetap memperketat area RSJ terutama yang biasa menjadi tempat kunjungan dari keluarga, agar menutup celah dari kemungkinan sindikat narkoba yang bisa saja mensuplai ke pasien yang sedang menjalani rehabilitasi. Dalam kunjungan hari ini di RS Bangli, Kepala BNN juga menyempatkan diri untuk bertemu dengan 8 pasien penyalahgunaan narkoba yang sedang menjalani rehabilitasi di RSJ Bangli. Ia memberikan motivasi pada para pasien agar segera pulih dan kembali reintegrasi ke masyarakat. Selain itu juga, Kepala BNN didampingi jajaran RSJ Bangli melihat kondisi lahan dan bangunan di areal RSJ Bangli yang rencananya akan dimanfaatkan untuk menjadi tempat rehabilitasi korban narkoba.

LOKA REHABILITASI DELI SERDANG DIRESMIKAN, PECANDU NARKOBA GANTUNGKAN NASIB PADA KEPALA BNN

23 November 2018

"Tolong bantu Kami,  Tolong bimbing Kami,  agar bisa memiliki masa depan!" Kiranya inilah jeritan hati pecandu Narkoba yang sedang menjalani masa pemulihan di Loka Rehabilitasi Deli Serdang, Sumatera Utara, kepada Kepala BNN, Komjen Pol Drs.  Heru Winarko, S.H.,  pada acara Peresmian Loka Rehabilitasi BNN Deli Serdang, di Deli Serdang,  Sumatera Utara, Kamis (12/4). Disampaikan dalam bentuk puisi dan lagu, perwakilan ketiga residen juga mengungkapkan rasa terima kasihnya atas perhatian dan kasih sayang Kepala BNN terhadap korban penyalahgunaan narkotika melalui peresmian Loka Rehabilitasi Deli Serdang. Dalam sambutannya,  Kepala BNN memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah Sumatera Utara yang telah membantu hingga loka rehabilitasi ini dapat berdiri dan beroperasional secara maksimal. Loka Rehabilitasi ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat Sulawesi Utara. Pasalnya, berdasarkan hasil penelitian tahun 2017 yang dilakukan oleh BNN bekerja sama dengan Puslitkes UI, Sumatera Utara menduduki ranking ke 2, provinsi dengan jumlah penyalahguna narkotika terbanyak,  yaitu sebanyak 2,53%. Program Manager Loka Rehabilitasi Deli Serdang,  Joko Suraji, mengatakan bahwa mayoritas pecandu Narkoba yang ada di loka rehabilitasi tersebut menyalahgunakan narkotika jenis ganja dan shabu.  Sedangkan residen yang umumnya melakukan rehabilitasi di Deli Serdang berasal dari Medan, Aceh, dan Padang. Dengan diresmikannya loka rehabilitasi ini, diharapkan dapat berfungsi dan bermanfaat bagi pecandu narkotika yang ingin pulih dari ketergantungan. Tentang Loka Rehabilitasi Loka Rehabilitasi Deli Serdang merupakan salah satu unsur pendukung pelaksana tugas BNN yang memiliki peranan penting dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Loka rehabilitasi ini dibangun di atas tanah seluas 15.000 meter persegi dengan luas bangunan 2.400 meter persegi. Adapun jumlah residen yang telah mendapatkan pelayanan rehabilitasi sejak beroperasional pada akhir tahun 2017 adalah sebanyak 180 residen. Loka Rehabilitasi Deli Serdang  difasilitasi dengan sarana dan prasarana yang lengkap, seperti ruang medis, laboratorium, poli gigi, ruang IGD, apotek, hingga mess karyawan. #stopnarkoba
HUMAS BNN

Wadah Sosialisasi Rehabilitasi Melalui ARENA

23 November 2018

Bidang rehabilitasi BNNP Jawa Timur menggelar Sosialisasi Layanan Rehabilitasi Ajang Kreasi Tanpa Narkoba (ARENA), di Grand City, Surabaya. Senin (7/5). Kegiatan ini sebagai bentuk wadah sosialisasi program rehabilitasi di Jawa Timur.Sosialisasi rehabilitasi penting untuk dimaksimalkan mengingat rendahnya angka kunjungan rehabilitasi. Karena itulah BNNP Jatim mengambil langkah inovatif melalui kegiatan Ajang Kreasi Tanpa Narkoba. Kegiatan ini berupa pendirian stand di tempat umum, sebagai media pemberian informasi edukasi kepada masyarakat luas mengenai program rehabilitasi pagi pecandu dan penyalahguna narkoba.Kepala BNNP Jatim, Drs. Bambang Budi Santoso, mengatakan masalah yang terjadi saat ini adalah rendahnya angka kunjungan rehabilitasi. 1 dari 4 pelajar / mahasiswa yang merupakan penyalahguna, bersedia ikut mengakses tempat rehabilitasi. Hal ini disebabkan oleh rendahnya akses rehabilitasi para pecandu terkait budaya adanya stigma dan diskriminasi serta kriminalisasi atas penggunaan narkotika.Dengan adanya kegiatan ini diharapkan akan semakin mendekatkan dan memperkenalkan layanan BNN khususnya BNNP Jawa Timur kepada masyarakat, yang salah satunya adalah layanan rehabilitasi bagi korban penyalahguna di wilayah Jawa Timur.Kepala BNN, Komjen Pol Heru Winarko, menambahkan bahwa korban penyalahguna masih ada yang takut untuk melapor.“Jangan sampai keluarga yang anggota keluarganya terkena narkoba tidak mau lapor karena takut ditangkap, padahal di undang-undang bahwa jelas mereka perlu di rehab,” ungkap Kepala BNN memungkasi.

Urgensi Peningkatan Pemahaman Masyarakat Tentang Rehabilitasi

23 November 2018

Jakarta,- Minimnya akses rehabilitasi di tengah masyarakat dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Kurangnya kesadaran masyarakat merupakan salah satu faktornya di samping minimnya sarana dan prasarana serta stigma yang kuat di tengah masyarakat. Demikian hal ini disampaikan Sekretaris Utama BNN, S. Mamadoa saat membuka kegiatan seminar sehari bertajuk Perspektif Pemerintah dan Masyarakat Terhadap Rehabilitasi Pecandu Narkotika di Jakarta, Selasa (21/8). Sestama juga menambahkan bahwa upaya sosialisasi tentang bahaya narkoba dan pentingnya rehabilitasi perlu terus ditingkatkan agar masyarakat semakin memahami. Dalam upaya optimalisasi rehabilitasi, BNN juga harus menggandeng lintas sektor terutama institusi yang sudah bekerjasama dengan BNN. “Kami berharap melalui forum ini, ke depan masyarakat bisa semakin memahami tentang tindakan apa yang harus dilakukan ketika mendapati persoalan penyalahgunaan narkoba di lingkungannya,” imbuh Sestama. Sementara itu, Deputi Rehabilitasi BNN, Diah Setia Utami mengatakan bahwa persoalan lemahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya rehabilitasi memang harus ditangani dengan serius. Terkadang upaya penyelamatan pada para pecandu narkoba itu masih dipertanyakan urgensinya oleh sebagian orang.  Padahal upaya rehabilitasi dan pascarehabilitasi sangat penting bagi mereka agar mereka mendapatkan kesempatan untuk kembali sehat dan produktif. Karena jika tidak, mereka yang menjadi pecandu apalagi pengangguran, maka tidak menutup kemungkinan mereka justru melakukan kejahatan lainnya. “Karena itulah kita berkumpul di sini, karena kita semua memiliki peran yang penting. Kita jangan biarkan pecandu, karena jika demikian, maka bandar akan terus bergerak, dan barang terus masuk,” imbuh Deputi Rehabilitasi di hadapan peserta seminar. Senada dengan  itu, Prof. Irwanto, seorang Guru Besar di Universitas Atma Jaya sekaligus pakar di bidang penanggulangan narkoba dan HIV/AIDS mengatakan bahwa atensi terhadap para pecandu narkoba memang harus nyata diberikan. Ia mengatakan, banyak orang mengalami kecanduan dan ketika mereka diberikan perhatian maka tak sedikit dari mereka juga bisa kembali berguna di tengah masyarakat. Ia juga menambahkan, terkait upaya rehabilitasi peran keluarga juga penting untuk diperhitungkan intervensinya. Hal ini penting agar keluarga terutama orang tua tidak salah kaprah. Tanpa pemahaman yang cukup, orang tua yang menghadapi anak yang seorang pecandu malah memfasilitasi, sehingga anaknya tidak kunjung pulih. Sri Hayuni, seorang praktisi di bidang rehabilitasi juga mengatakan peran keluarga adalah faktor penting dalam rehabilitasi. “Hal terpenting adalah peran keluarga terutama dalam upaya pendampingan di tempat rehab,” kata Sri memungkasi pembicaraannya.