Tingkatkan Kerja Sama BNN Kunjungi Singapura

9 Juli 2019

Membangun kerja sama bilateral dan multilateral yang kokoh menjadi salah satu fokus BNN saat ini dalam memerangi peredaran gelap narkotika oleh jaringan internasional. Hal tersebut dilakukan BNN melalui berbagai kunjungan kerja, pertemuan, dan bilateral meeting dengan negara-negara tetangga, termasuk Singapura.Dalam kunjungan kerja ke Singapura sejumlah Delegasi BNN mendatangi KBRI yang merupakan perwakilan pemerintah Indonesia di negeri singa tersebut. Delegasi BNN yang dipimpin oleh Deputi Hukum dan Kerja Sama, Puji Sarwono pun diterima oleh Duta Besar Indonesia untuk Singapura, I Gede Ngurah Seajaya, Senin (8/7).Di hadapan Duta Besar RI untuk Singapura Puji menyampaikan bahwa kedatangannya bersama delegasi adalah untuk menghadiri bilateral meeting antara BNN dan CNB Singapura yang akan dilaksanakan pada hari ini, Selasa (9/7). Adapun poin-poin penting yang akan menjadi pembahasan dalam bilateral meeting tersebut diantaranya yaitu sharing informasi terkait dengan penanganan kasus narkotika dan kerja sama dalam bidang pemberantasan.I Gede Ngurah Swajaya pun menyambut baik dan berharap agar bilateral meeting yang dilaksanakan tersebut dapat menghadirkan mutual beneficial baik bagi Indonesia maupun Singapura.Dalam pertemuan dengan Dubes RI tersebut, Deputi Bidang Hukum dan Kerja Sama juga meminta permohonan bantuan kepada KBRI Singapura apabila terdapat penyelesaian masalah yang memerlukan mutual legal asisten (MLA).BIRO HUMAS DAN PROTOKOL BNN RIInstagram: @infobnn_ri Twitter. :@infobnn Facebook Fan page : @humas.bnn YouTube: Humasnewsbnnwww.bnn.go.id#Stopnarkoba #bersinar

BNN Diberikan Dukungan Berupa Alat Penterjemah Dari INL

14 Juni 2019

BNN berterima kasih sekaligus memberikan apresiasi yang tinggi kepada International Narcotics and Law Enforcement Kedutaan Besar Amerika Serikat yang telah memberikan bantuan berupa alat penterjemah, pada Jumat (14/6).Dalam kesempatan ini, Deputi Hukum dan Kerja Sama BNN RI, Puji Sarwono mengatakan, alat penterjemah yang terdiri dari 35 unit headset receivers, 4 unit transmitters, 35 unit shooting ear muffs, 35 tactical tourniquets selanjutnya akan diserahkan kepada Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) di Lido.“Alat ini sangat bermanfaat bagi BNN khususnya PPSDM, karena BNN akan sering menggelar pelatihan internasional yang pesertanya gabungan baik dari dalam maupun luar negeri sehingga alat seperti ini sangat diperlukan,” ungkap Deputi.Di hadapan delegasi INL, Deputi mengatakan, selain dukungan seperti ini maka ke depannya, BNN berharap INL dapat memberikan dukungan-dukungan lainnya. Sementara itu, Bryan Barger, DEA Attache mengatakan dukungan seperti ini merupakan salah satu bentuk kemitraan dengan BNN. Ia pun memberikan apresiasi atas kerja sama yang sinergis yang selama ini terjalin antara BNN dengan INL. 

Department of Narcotics Control Bangladesh Kunjungi BNN Bahas Strategi Penangan Narkotika

29 Mei 2019

Badan Narkotika Nasional (BNN) menerima kunjungan dari perwakilan Department of Narcotics Control Bangladesh, Rabu (29/5). Sebanyak 15 delegasi diterima oleh Deputi Bidang Hukum dan kerja sama, Drs. Puji Sarwono didampingi oleh Deputi Pemberdayaan Masyarakat, Drs.Dunan Ismail Isja, MM., beserta para pejabat perwakilan dari Deputi Pencegahan, Rehabilitasi, dan Pemberantasan.Pertukaran informasi dan pengalaman terkait dengan penanganan permasalahan narkotika menjadi topik utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Deputi Hukum dan Kerja Sama dalam paparannya menyampaikan berbagai strategi BNN dalam manangani peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika dengan melakukan pendekatan melalui supply reduction, demand reduction, dan harm reduction.Kebijakan berimbang tersebut diimplementasikan oleh BNN melalui penguatan dalam pemberantasan, pemberdayaan masyarakat, pencegahan, rehabilitasi, kerja sama yang salah satunya dilakukan dengan melibatkan tim assesment dalam penanganan kasus narkotika. Tim assesment memiliki tugas untuk memberikan penilaian dan rekomendasi, sehingga bagi penyalahguna mereka tidak dipenjarakan tetapi justru dimasukan ke dalam balai rehabilitasi.Sementara itu, perwakilan dari delegasi Department of Narcotics Control Bangladesh menyampaikan permasalahannya terkait dengan ancaman peredaran gelap narkotika di negaranya. Salah seorang delegasi menyampaikan bahwa negaranya merupakan wilayah rawan karena berdekatan dengan golden triangle dan golden crescent.Dalam paparan delegasi Bangladesh disebutkan bahwa penyelundupan narkotika di Bangladesh sebagian besar dilakukan melalui jalur darat yakni dari India maupun Myanmar, sedangkan melalui jalur laut dilakukan melalui Bangladesh bagian selatan. Adapun beberapa zat narkotika yang beredar di Bangladesh diantaranya heroin, ganja, dan ATS yaba yaitu stimulan tipe amphetamines.Menanggapi hal tersbut, Deputi Hukum dan Kerja Sama BNN pun menawarkan Bangladesh untuk mengikuti pelatihan interdiksi terpadu yang akan diselenggarakan oleh BNN pada bulan September mendatang. Pelatihan tersebut sebelumnya pernah diselenggarakan BNN pada Februari awal tahun 2019 dan diikuti oleh lima negara yakni Srilanka, Laos, Filipina, Fiji, dan Timor Leste."Kami menawarkan kepada Bangladesh apabila ingin bergabung dalam short course dalam interdiksi terpadu yang akan kami selenggarakan kembali pada September mendatang," ungkap Puji.Deputi Hukum dan Kerja Sama BNN pun berharap dapat saling bekerjasama dan terus mengukuhkan semangat komitmen dalam pencegahan, pemberantasan dan peredaran gelap narkotika.Humas BNN

Department of Narcotics Control Bangladesh Kunjungi BNN Bahas Strategi Penangan Narkotika

29 Mei 2019

Badan Narkotika Nasional (BNN) menerima kunjungan dari perwakilan Department of Narcotics Control Bangladesh, Rabu (29/5). Sebanyak 15 delegasi diterima oleh Deputi Bidang Hukum dan kerja sama, Drs. Puji Sarwono didampingi oleh Deputi Pemberdayaan Masyarakat, Drs.Dunan Ismail Isja, MM., beserta para pejabat perwakilan dari Deputi Pencegahan, Rehabilitasi, dan Pemberantasan.Pertukaran informasi dan pengalaman terkait dengan penanganan permasalahan narkotika menjadi topik utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Deputi Hukum dan Kerja Sama dalam paparannya menyampaikan berbagai strategi BNN dalam manangani peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika dengan melakukan pendekatan melalui supply reduction, demand reduction, dan harm reduction.Kebijakan berimbang tersebut diimplementasikan oleh BNN melalui penguatan dalam pemberantasan, pemberdayaan masyarakat, pencegahan, rehabilitasi, kerja sama yang salah satunya dilakukan dengan melibatkan tim assesment dalam penanganan kasus narkotika. Tim assesment memiliki tugas untuk memberikan penilaian dan rekomendasi, sehingga bagi penyalahguna mereka tidak dipenjarakan tetapi justru dimasukan ke dalam balai rehabilitasi.Sementara itu, perwakilan dari delegasi Department of Narcotics Control Bangladesh menyampaikan permasalahannya terkait dengan ancaman peredaran gelap narkotika di negaranya. Salah seorang delegasi menyampaikan bahwa negaranya merupakan wilayah rawan karena berdekatan dengan golden triangle dan golden crescent.Dalam paparan delegasi Bangladesh disebutkan bahwa penyelundupan narkotika di Bangladesh sebagian besar dilakukan melalui jalur darat yakni dari India maupun Myanmar, sedangkan melalui jalur laut dilakukan melalui Bangladesh bagian selatan. Adapun beberapa zat narkotika yang beredar di Bangladesh diantaranya heroin, ganja, dan ATS yaba yaitu stimulan tipe amphetamines.Menanggapi hal tersbut, Deputi Hukum dan Kerja Sama BNN pun menawarkan Bangladesh untuk mengikuti pelatihan interdiksi terpadu yang akan diselenggarakan oleh BNN pada bulan September mendatang. Pelatihan tersebut sebelumnya pernah diselenggarakan BNN pada Februari awal tahun 2019 dan diikuti oleh lima negara yakni Srilanka, Laos, Filipina, Fiji, dan Timor Leste."Kami menawarkan kepada Bangladesh apabila ingin bergabung dalam short course dalam interdiksi terpadu yang akan kami selenggarakan kembali pada September mendatang," ungkap Puji.Deputi Hukum dan Kerja Sama BNN pun berharap dapat saling bekerjasama dan terus mengukuhkan semangat komitmen dalam pencegahan, pemberantasan dan peredaran gelap narkotika.Humas BNN

BNN LIBATKAN GRAB INDONESIA BERANTAS NARKOBA

7 Mei 2019

Driver Grab Bisa Lapor Jika Temukan Penyalahgunaan NarkobaJAKARTA (5/7) - Modus operandi peredaran gelap narkoba semakin beragam. Berbagai cara dilakukan sindikat agar barang haram dagangannya sampai ketangan pembeli. Salah satu yang dilakukan adalah mengirimnya melalui jasa penitipan barang. Maraknya bisnis ojek online, sebagai salah satu penyedia jasa penitipan barang berbasis aplikasi (online), menjadikannya rawan tindak pidana narkotika. Melihat hal tersebut, Badan Narkotika Nasional (BNN) menilai perlu adanya upaya kerjasama antara BNN dengan penyedia jasa penitipan barang.Grab sebagai salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang penyedia aplikasi pemesanan jasa transportasi dan pengiriman barang, menjadi pelopor dilakukannya kerja sama ini. Kerja sama ini tak hanya bertujuan untuk menjalin sinergitas antar instansi dalam upaya P4GN, tetapi juga meningkatkan pemahaman kurir Grab tentang bahaya penyelundupan narkoba yang bisa saja menyeret dirinya.Secara ceremonial, kerjasama antara BNN dan Grab resmi ditandatangani oleh Kepala BNN, Heru Winarko, Bersama Head of Public Affairs Grab Indonesia, Tri Sukma Anreianno, di Gedung BNN Pusat, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (7/4). Kedua pihak sepakat untuk saling bersinergi dalam upaya P4GN, salah satunya penyebarluasan informasi bahaya narkoba dan pengawasan terhadap pengiriman barang yang diindikasi sebagai narkoba.Selain itu, Grab Indonesia juga sepakat untuk membentuk relawan anti narkoba, melakukan pembinaan dan peningkatan peran serta penggiat anti narkoba, pertukaran data informasi pada sistem manifest data terkait P4GN, Serta melaksanakan tes uji narkoba. Grab Indonesia juga akan memberikan kemudahan akses kepada BNN dalam melakukan tindakan hukum terkait tindak pidana narkotika.“Suatu kehormatan bagi kami bisa menjalin kerjasama dengan Badan Narkotika Nasional”, ujar Tri Sukma Anreianno saat memberi sambutan.Menurut Tri kerjasama yang terjalin anatara BNN dan Grab Indonesia dapat memberi motivasi bagi para driver untuk turut membantu upaya pemerintah memberantas peredaran gelap narkoba. Tri juga menyamapaikan pihaknya kerap menemukan barang mencurigakan namun tidak tahu harus dilaporkan kemana. Sanksi tegas juga akan diberikan pihak Grab Indonesia kepada para drivernya jika kedapatan melakukan penyalahgunaan narkoba.“Kami akan tindak tagas jika ada driver Grab yang melakukan pelanggaran dan akan segera kami putus mitra” tegasnya.Sementara itu, Kepala BNN, Heru Winarko, mengatakan pihaknya melihat kerjasama ini merupakan peluang besar bagi BNN untuk mensosialisasikan P4GN melalui Grab Indonesia. Grab Indonesia sudah tersedia di 222 kota di Indonesia dan memiliki lebih dari 5 juta mitra driver.“Jika Driver Grab membawa barang mencurigakan bisa koordinasi dengan kami untuk memastikan barang yg dibawa bukan narkoba. Secara teknis pelaksanaannya akan koordinasikan lebih lanjut setelah penandatanganan PKS”, ujar Heru saat diwawancara.Dengan adanya kerjasama ini, BNN berharap dapat mempersempit ruang gerak Bandar dalam mengedarkan Narkoba. Disamping itu, pengetahuan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba di masyarakat akan semakin luas.Humas BNN