Penyedia Jasa Keuangan Punya Peran Menangkal Kejahatan Narkoba

15 April 2019

Jakarta,- Situasi penyalahgunaan dan peredaran narkoba saat ini kian memprihatinkan. Banyaknya narkoba yang masuk ke Indonesia sebagian besar diimpor dari luar negeri. Pada prinsipnya narkoba tidak akan masuk ke Indonesia jika tidak ada yang membayarnya, baik melalui jasa perbankan maupun money changer.“Narkoba tidak akan masuk Indonesia jika tidak ada pembayaran melalui jasa penyedia keuangan, maka tingkatkan kecermatan dan kepedulian, dan kewaspadaannya dalam bersama-sama mencegah dan memberantas narkoba,” Demikian pernyataan Kepala BNN RI, Drs. Heru Winarko, S.H saat membuka kegiatan Rapat Koordinasi BNN dengan Penyedia Jasa Keuangan, di gedung lantai 7 BNN, Senin (15/4).Kepala BNN menegaskan, dalam upaya penanggulangan narkoba, semua pihak termasuk penyedia jasa keuangan harus bersatu padu dalam upaya mencegah dan memberantas narkoba. Dalam hal ini, penyedia jasa keuangan bisa berperan penting dalam mencegah transaksi narkoba. Salah satunya adalah, bagaimana para penyedia jasa keuangan ini bisa mengenali dengan cermat siapa costumernya. Oleh karena itulah, ke depan BNN akan lebih bersinergi dengan penyedia jasa keuangan dengan membuka data para bandar narkoba.Dukungan atau partisipasi semua pihak dalam menangkal ancaman narkoba sangat penting, karena kerugian yang ditimbulkan dari kejahatan tersebut sangat masif. Deputi Pemberantasan BNN, Drs. Arman Depari mengatakan, berdasarkan hasil survey BNN dengan LIPI, kerugian negara mencapai Rp 86,4 Triliun. Dari total tersebut, Rp 64 triliun diantaranya digunakan sindikat narkoba untuk belanja narkoba dari luar negeri.“Banyaknya transaksi narkoba harus dicegah, tidak boleh dibiarkan, kita harus selamatkan generasi bangsa dari ancaman narkoba, termasuk mencegah terbuangnya uang secara sia-sia untuk narkoba,” imbuh Deputi Pemberantasan.Senada dengan hal ini, Direktur Tindak Pidana Pencucian Uang BNN, Bahagia Dachi, mengatakan tentang pentingnya mencegah terjadinya transaksi keuangan yang begitu besar. Menurutnya, perputaran uang yang sedemikian besar di luar negeri pada akhirnya akan sulit untuk ditarik kembali ke Indonesia. Oleh karena itulah, ia berharap agar pengawasan terhadap nasabah juga diperketat.Menurutnya, sindikat bisa melakukan banyak hal agar bisa melakukan transaksi. Dari hasil pantauannya, Direktur TPPU mengatakan, salah satu modus yang digunakan oleh pelaku adalah dengan membeli rekening orang lain. Lalu rekening tersebut dikuasainya dan dimanfaatkan untuk transaksi narkoba.Dengan segala dinamika yang ada, Dachi berharap agar penyedia jasa keuangan baik itu yang bergerak di bidang perbankan atau di bidang money changer bisa lebih berhati-hati dalam memberikan layanan pada kliennya. Menurutnya, para petugas di bidang ini perlu memiliki kemampuan juga untuk mengidentifikasi profil-profil tertentu yang dicurigai bisa potensial melakukan kejahatan narkoba melalui jasa keuangan.“Kami berharap, dengan pertemuan ini bisa mendapatkan kesimpulan untuk melakukan pencegahan,” pungkas Direktur TPPU kepada para peserta rakor.Sementara itu, Dewi Astuti, Direktur Group Pengawas Spesialis Departemen Pengawas Bank 3 OJK, menegaskan kembali bahwa pelaku perbankan tidak boleh santai menghadapi ancaman ini. Karena jika lalai, atau tidak melakukan prosedur sesuai ketentuan, maka pihak perbankan juga bisa dijadikan tersangka.Oleh karena itulah, ia kembali mengingatkan apa yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa bank harus paham betul siapa nasabahnya. Disamping itu Ia juga berpesan agar para pelaku di bidang penyedia jasa keuangan dapat diberikan update tentang persoalan narkoba sehingga bisa lebih paham dan bisa berkontribusi dalam mencegah kejahatan narkoba lewat jasa keuangan.

KUNJUNGI BIREUEN, KEPALA BNN RESMIKAN DESA BERSINAR

10 April 2019

Dalam rangka Kunjungan kerja ke Provinsi Aceh, Kepala BNN meresmikan Desa Bersih Narkoba (Bersinar) di Desa Meunasah Bungo, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Rabu (10/4). Kedatangan Kepala BNN RI, Heru Winarko, beserta jajaran yang didampingi oleh Bupati Bireuen, H. Saifannur beserta unsur Forkompimda Bireuen diterima langsung oleh masyarakat Desa Mns. Bungo, petani peserta program AD bersama satgas anti narkoba pemuda desa. Bupati Bireuen, H. Saifannur, S.Sos menyampaikan apresiasi setinggi tingginya kepada pihak BNN yang konsen dalam melakukan P4GN di kabupaten Bireuen. Disampaikan juga oleh Pak Bupati bahwa Desa Mns. Bungo merupakan lokasi pilot project kultivasi tanaman Narkotika jenis Ganja yang dialih fungsikan menjadi komoditi alternatif seperti tanaman jagung dan tanaman holtikultura lainnya. Bupati Bireuen turut menginstruksikan kepada seluruh Camat agar mendorong pembentukan Satuan Tugas Anti Narkoba Pemuda Desa melalui pengoptimalan anggaran Desa untuk P4GN, sebagai bentuk komitmen masyarakat Bireuen dalam melawan Narkoba.Kepala BNN RI, Heru Winarko, dalam paparannya menyampaikan terimakasih kepada jajaran Pemerintah Kabupaten Bireuen dan jajaran Forkompimda Bireuen yang sangat aktif berkolaborasi dalam pelaksanaan P4GN. Kepala BNN juga memberikan perhatian kepada jajaran penegak hukum di Kabupaten Bireuen agar senantiasa berkolaborasi dan bersinergi dalam pelaksanaan P4GN di Kabupaten Bireuen. Pihaknya turut menyampaikan terima kasih atas peran aktif masyarakat Bireuen, khususnya warga Desa Mns. Bungo yang telah serius melaksanakan program Alternatif Development (AD) dan program Desa Bersih Narkoba (Narkoba).Kepala BNN bersama Bupati Bireuen turut meresmikan balai warga di lokasi AD sekaligus meninjau hasil produksi alternatif yang dikembangkan oleh Petani Peserta Program. Disampingi itu turut jug diresmikan Desa Meunasah Bungo sebagai Desa Bersinar yang ditindai dengan penandatanganan prasasti Desa Bersinar di lokasi. HUMAS BNN

BUDAYA KONSUMTIF FAKTOR PENDORONG TINGGINYA PENYALAHGUNAAN NARKOBA

9 April 2019

Indonesia adalah pangsa pasar yang paling menggiurkan bagi bandar Narkoba. Bagaimana tidak, di Indonesia sabu dibandrol sebesar 1,5 juta per gram. Sementara di luar negeri, harga jual sabu hanya berkisar antara 50 – 60 ribu rupiah per gram.Hal tersebut disampaikan Direktur Peran Serta Masyarakat, Deputi Pemberdayaan Masyarakat BNN, Drs. Mohamad Jupri. MM, saat menghadiri Bimbingan Teknis Penggiat Anti Narkoba Lingkungan Pendidikan di Kota Bengkulu, Selasa (9/4). Mohamad Jupri menilai tingginya angka penyalahgunaan narkoba, meski dibandrol dengan harga tinggi, juga dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat Indonesia yang konsumtif.Dalam paparannya, Mohamad Jupri menjelaskan berbagai upaya telah dilakukan BNN sebagai koordinator penegak hukum dalam mengimplementasikan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran gelap Narkoba (P4GN) di Indonesia. Salah satunya adalah membangun sistem pemberdayaan masyarakat di lingkungan pendidikan.BNN menilai pendidikan merupakan elemen yang paling strategis dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat sejak usia dini. Hal tersebut dapat dilihat dari peran pendidikan dalam mengantisipasi penyalahguna narkoba. Menurut Mohamad Jupri, Adanya pola terstruktur di sekolah mempermudah tenaga pendidik untuk mengawasi adanya penyalahgunaan narkoba di lingungan sekolah.Selain itu, kebijakan yang jelas dan konsisten menjadikan lingkungan pendidikan berpotensi komit terhadap upaya yang menjadi bagian dari strategi P4GN, salah satunya pencegahan narkoba melalui kurikulum.Sekolah memiliki peran dalam membentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperlukan remaja dalam memilih dan mengambil keputusan. Maka dari itu, penting bagi pemerintah untuk menjadikan P4GN sebagai materi pendidikan agar budaya anti penyalahgunaan narkoba dapat tertanam lebih dalam.Disisilain, Rektor Universitas Hazairin, Dr Ir Yulviperius, M.Si, berpendapat perlu adanya kepedulian terhadap penyalahgunaan Narkoba. Salah satu bentuk kepedulian pemerintah adalah ketersediaan anggaran dalam mengembangkan upaya P4GN. “Jika peduli harusnya kegiatan seperti ini sudah dianggarkan. Itu salah satu bentuk kepedulian” tegasnya.Salah satu penggiat Aliansi Relawan Perguruan Tinggi Anti Penyalahgunaan Narkiba (Artipena) ini menilai maraknya peredaran gelap narkoba di Indonesia merupakan salah satu upaya pihak asing dalam melemahkan ketahan bangsa.“Banyak cara untuk melemahkan pertahanan inidonesia, salah satunya narkoba”, ujar Yulviperius.“Pemuda Bengkulu adalah aset bangsa yang harus dijaga", tegasnya .Humas BNN

BNNP BENGKULU PETAKAN 7 LOKASI RAWAN NARKOBA

9 April 2019

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bengkulu mengklaim pihaknya telah berhasil memetakan 7 wilayan rawan penyalahgunaan narkoba di Provinsi Bengkulu. Yakni Kelurahan Lempuing, Kelurahan sawah Lebar, Kecamatan Ratu Samban, Kecamatan Singaran Pati, Kecamatan Selebar, Kecamatan Teluk Segara, dan Kecamatan Gading Cempaka.Pemetaan wilayah ini dilakukan terkait tingginya angka penyalahgunaan narkoba di Provinsi Bengkulu yang mencapai angka 1,68% atau sekitar 24,114 orang. Bengkulu disinyalir menduduki urutan ke 21 dari 34 provinsi yang rawan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba.Hal tersebut disampaikan Kepala BNN P Bengkulu, Agus Riansyah, saat menghadiri Bimbingan Teknis Penggiat Anti Narkoba Lingkungan Pendidikan di Medeline Hotel, Bengkulu, Selasa (9/4).Agus Riansyah menilai, 7 wilayah tersebut perlu perhatian khusus dari Pemerintah Daerah. “Kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Di Padang Guci, Ibu-ibu dan anak-anak sudah banyak yang terlibat.” katanya.Agus mengaku keterlibatan aparatur negara juga menjadi kendala keberhasilan uapaya P4GN di Provinsi Bengkulu. Dari tahun 2017 hingga Maret 2019, BNNP Bengkulu berhasil mengungkap 24 kasus dengan 57 tersangka, 12 orang diantaranya melibatkan PNS, Polri dan Pejabat Daerah.Hal lain yang menjadi kendala adalah minimnya jumlah personel BNNP dan BNNK yang dimiliki. “BNNP Bengkulu baru punya dua BNN Kota, yakni BNNk Bengkulu Selatan dan BNNK Bengkulu”. Imbuh Agus.Hal tersebut menambah daftar panjang masalah yang menjadi kendala dalam upaya P4GN di Bengkulu. Meski begitu BNNP Bengkulu terus berupaya memberikan yang terbaik untuk masyarakat Bengkulu.Agus Riansyah sedikit mengutip hasil Sidang CND yang dihadiri Kepala BNN RI beberapa waktu lalu. UNODC merilis angka penyalahguna narkoba di dunia sebanyak 275 juta jiwa. Selain itu, perkembangan New Psychoactive Substance (NPS) atau narkotika jenis baru, juga menjadi perhatian khusus dunia.“Didunia sudah ada 839 NPS. Di Indonesia sebanyak 74 NPS sudah beredar, 66 diantaranya sudah diatur dalam Permenkes No. 50 tahun 2018, 8 lainnya belum.” Ujar Agus Riansyah.Menurut Agus, kondisi ini akan terus berkembang jika masyarakat dunia tidak melakukan perlawanan. “Dunia sepakat, Narkoba pembunuh nomor satu”, tegasnya.HUMAS BNN

BNNP BENGKULU UNDANG 40 PERWAKILAN PENGGIAT ANTI NARKOBA LINGKUNGAN PENDIDIKAN

9 April 2019

Direktorat Peran Serta Masyarakat, Badan Narkotika Nasional (BNN), menggelar Bimbingan Teknis Penggiat Anti Narkoba dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) Lingkungan Pendidikan di Medeline Hotel, Bengkulu, Selasa (9/4).Dalam sambutan Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN yang dibacakan oleh Kepala BNNP Bengkulu, Brigjen Pol Drs. Agus Riansyah, disebutkan bahwa angka prevaliensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia telah mencapai angka 1,77 % atau sekitar 3,4 juta jiwa.Sementara itu, Bengkulu menduduki posisi ke 21 dari 34 provinsi sebagai provinsi yang rawan penyalahgunaan narkoba. Prevalensi penyalahgunaan narkoba di Provinsi Bengkulu mencapai angka 1,68 % dari jumlah penduduk atau sekitar 24,118 orang.Agus Riansyah menyampaikan berbagai upaya telah dilakukan BNN, diantaranya membentuk system pencegahan di lingkungan pendidikan. BNN telah menyusun materi P4GN dan mendorong kementerian pendidikan untuk menjadikannya sebagai salah satu kurikulum pendidikan. Upaya tersebut diperkuat dengan munculnya Inpres No. 6 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional P4GN.“Pendidikan merupakan mitra strategis dalam upaya P4GN. Karena dunia pendidikan sudah tersistem dan terorganisir dengan baik.” Ujar Agus Riansyah.Mantan Direktur Pemberdayaan Alternatif Deputi Pemberdayaan Masyarakat BNN ini juga menghimbau kepada peserta untuk selalu waspada terhadap perkembangan narkotika di lingkungan sekitar. “Di Rajang Lebong sudah mulai ada ganja yang ditanam. Untuk itu, melalui kegiatan Bimbingan Teknis ini, saya ajak masyarakat untuk terus waspada.” tegasnya.Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri oleh 40 peserta yang terdiri dari perwakilan rektor perguruan tinggi provinsi Bengkulu, perwakilan sekolah dan guru yang ada di Bengkulu, serta perwakilan ketua BEM perguruan tinggi di Provinsi Bengkulu.Adanya bimbingan teknis ini diharap dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman bagi penggiat anti narkoba untuk meningkatkan sinergitas upaya P4GN di Indonesia. Disamping itu, BNN juga mengajak seluruh pemangku kebijakan di Lingkungan Pendidikan untuk menumbuhkan komitmen dalam meningkatkan upaya P4GN di Lingkungan Pendidikan.Humas BNN

Peringatan Isra Mi’raj Tingkatkan Ketakwaan Personel BNN

9 April 2019

Badan Narkotika Nasional melaksanakan kegiatan peringatan Isro Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1440 H, dengan tema Meningkatkan Ketakwaan, Keimanan Pegawai Melalui Implementasi Budaya Kerja BNN RI, di Masjid At Taubah BNN, Selasa (9/4).Dalam pembukaan kegiatan ini, Kepala BNN RI, Drs. Heru Winarko, S.H., berharap dengan spirit Isro Mi’raj ini dapat meningkatkan ketakwaan para personel BNN.Sementara itu, Prof. Dr. KH. Ridwan M. Yusuf, Ketua Forum Badan Pembina Mental Islam Nasional, saat memberikan tausiah dalam peringatan Isro Mi’raj di Masjid At-Taubah BNN, mengungkapkan bahwa bahaya narkoba kian mengancam dan mengkhawatirkan kelangsungan generasi bangsa Indonesia. Diperlukan kerja keras dan juga inovasi dalam menangkal ancaman bahaya narkoba, termasuk menggandeng tokoh ulama.“Saya tahu BNN pasti sudah melakukan berbagai upaya dalam penanggulangan narkoba, tapi perlu lebih masif lagi,” imbuhnya.Menurut Ridwan, upaya penanggulangan narkoba harus sejak dini dilakukan terutama dengan membangun mental anti narkoba dengan berbagai metode. Dalam hal ini, Ridwan bersama dengan institusinya yaitu forum Badan Pembina mental Islam Nasional siap mendukung BNN dalam upaya mencegah ancaman bahaya narkoba.Dikaitkan dengan peringatan Isro Mi’raj, Ridwan mengatakan bahwa inti dari momentum peringatan Isro Mi’raj ini adalah spirit batiniah. Spirit ini juga mengajarkan tentang pentingnya memperkuat energi batin dalam mengarungi kehidupan. Oleh karena itulah, Ridwan mengatakan siap memberikan dukungan energi batin yang kuat pada BNN dalam rangka penanggulangan bahaya narkoba.Kepada jamaah yang hadir dalam peringatan Isro Mi’raj ini, ia juga berpesan tentang pentingnya merangkul keluarga terutama anak-anak dengan memberikan perhatian dan mengawasi seperti apa pergaulannya.

SIKAT BANDAR NARKOBA, BNN-IMIGRASI PERKUAT SINERGITAS

5 April 2019

Direktorat Jenderal Imigrasi, Ronny Sompie, kunjungi Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) di Cawang, Jakarta Timur, Kamis (4/4). Kehadirannya disambut langsung Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Heru Winarko. Tujuan kedatangan Ronny Sompie ke Kantor BNN adalah untuk menindaklanjuti kerjasama antara BNN dan Dirjen Imigrasi yang selama ini sudah terjalin.Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat untuk mempererat kerjasama dibidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba. Khususnya dibidang penguatan serta efektifitas pengawasan pelabuhan dan bandar udara dari penyelundupan narkoba.Menurut Heru, fokus BNN saat ini tidak hanya pada peredaran gelap narkotika saja, tetapi juga munculnya New Psychoactive Substances (NPS), atau narkotika jenis baru. “Kemunculan ragam NPS sangan potensial terjadi. Bandar narkoba berlomba menciptakan inovasi efek fly yang kuat, dengan harga yang lebih murah”, ujar Heru.Heru memprediksi kedepan NPS akan semakin marak bermunculan jika kita tidak mampu menekan jumlah penyalahguna yang menjadi pasar potensial peredaran gelap narkoba.“itu akan jadi modus baru bandar, karena masih ada NPS yang belum tertera di Undang-undang” Imbuhnya.Kedua pihak sepakat untuk memperkuat kerjasama agar sinergitas dalam mengawasi berbagai potensi terjadinya penyelundupan narkoba dapat terjaga. Terutama penyelundupan narkoba yang kerap terjadi di pintu masuk pelabuhan dan Bandar udara serta wilayah perbatasan.Humas BNN

Sestama BNN RI kunjungi Rumah Damping BNNP SUMUT di Pantai Labu,Deli Serdang

5 April 2019

Sestama BNN RI (Drs.Adhi Prawoto SH) Bersama dengan Deputi Rehabilitasi BNN RI (Dra. Yunis Farida Oktoris,M.Si),Kepala BNNP SUMUT (Drs.Atrial SH) mengunjungi Rumah Damping BNNP SUMUT di Pantai Labu, Deli Serdang, Jumat (5/4) Didalam kunjungannya tersebut, diterima oleh Koordinator Rumah Damping BNNP SUMUT dan klien rumah Damping yang telah selesai melaksanakan rehabilitasi.selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan meninjau ruangan sekaligus mendapat penjelasan dari koordinator rumah Damping. Sestama bersama dengan rombongan meminta kepada peserta program untuk menyampaikan apa yang menjadi kendala dan keluhan selama menjalani program.  Sestama berpesan kepada klien rumah damping, setelah menyelesaikan program dan kembali kepada keluarga dan masyarakat,  untuk dapat melakukan aktifitas yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat serata untuk tidak kembali kambuh (relaps) dari penyalahgunaan narkoba.Sumber:BNNP Sumut

KEPALA BNN : PASAR NARKOBA INDONESIA MENARIK BAGI SINDIKAT

27 Maret 2019

“Yang menjadi ancaman terbesar adalah NPS (New Psychoactive Substance). Narkotika jenis baru yang belum terdeteksi dan selalu berkembang”, ujar kepala Badan Narkotika Nasional, Heru Winarko, saat memberi materi Pelatihan Kepemimpinan Tingkat I (Diklat Pim I) di Lembaga Administrasi Negara (LAN), Rabu, (27/3).Menurut Heru, kebanyakan orang hanya mengawasi penyalahgunaan narkoba yang sudah banyak beredar, sepertu sabu, ganja, ekstasi dan sebagainya. Padahal, menurutnya, yang berbahaya adalah perkembangan narkotika jenis baru yang semakin pesat dan sulit untuk di kontrol. Tak hanya itu, struktur perdagangan narkoba di Indonesia menarik bagi sindikat narkotika internasional untuk masuk ke Indonesia. Kepala BNN menyampaikan bahwa harga narkotika jenis sabu di Cina hanya berkisar 20.000 rupiah, sementara di Iran berkisar pada angka 50.000 rupiah. Sedangkan di Indonesia harga jual sabu dapat mencapai angka 1,5 juta rupiah per gram. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pasar narkoba yang sangat potensial.Permasalahan tak hanya sampai disana. Kondisi dataran Indonesia yang berpulau-pulau memberi andil besar dalam tingginya angka penyelundupan narkoba melalui jalur laut. BNN mengantongi data sebesar 80% penyelundupan narkoba terjadi di laut. Masalah lain pun timbul dari banyaknya oknum Lapas yang turut terlibat dalam aksi peredaran gelap Narkoba. Heru Winarko memaparkan sebanyak 90% kasus penyaahgunaan narkoba yang terbongkar dikendalikan oleh Narapidana dari balik jeruji besi.Heru berkisah saat ini pihaknya telah melakukan berbagai upaya kerjasama, baik nasional maupun internasional. Menurutnya Karakter pengguna narkoba disetiap wilayah berbeda-beda dan jenis narkotika yang digunakannya pun berbeda.“Setiap wilayah narkobanya berbeda-beda. Di Malaysia tidak pakai sabu, mereka pakai heroin. Makanya, kalau disana ditemukan sabu, itu pasti untuk Indonesia. Sabu yang melintas di Indonesia juga disinyalir akan bermuara di Australia, apalagi disana harga sabu bisa mencapai 300 dolar”, Ujar heru.“Untuk itu kita harus perbanyak membangun kerjasama. Baik dalam negeri maupun luar negeri”, imbuhnya.Angka prevalensi penyalahgunaan narkoba yang masih berada pada angka 1,77 % (Jurnal Data P4GN Tahun 2017) atau sekitar 3-5 juta orang, menunjukkan belum adanya perubahan yang signifikan dari berbagai upaya yang telah dilakukan. Inilah alasan BNN, melalui Kepala BNN, memberikan materi dan edukasi, mengapa perjuangan ini perlu dilakukan bersama sama.Hal ini bertujuan agar terjadi sinergitas didalam konsep berfikir peserta Diklat Pim I, untuk memberi perhatian khusus terkait P4GN saat menjabat sebagai eselon I kelak. Melalui Diklat Pim I ini, BNN berharap akan muncul para petinggi-petinggi negara yang mampu membangun bangsa Indonesia yang bebas dari penyalahgunaan narkoba.Humas BNN

Bekerja Dengan Hati Kunci Sukses Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba

27 Maret 2019

Pencegahan dan pemberdayaan masyarakat merupakan dua bidang penting dalam upaya penanganan permasalahan narkotika. Namun demikian, keduanya memiliki core bisnis yang tidak sama sehingga dipisahkan dalam dua bidang yang berbeda meskipun dalam pelaksanaan kerja keduanya harus dapat saling mengisi dan terintegrasi.Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BNN, Drs.Heru Winarko, S.H. dalam rapat koordinasi nasional (Rakornas) bidang pencegahan dan pemberdayaan masyarakat (P2M) yang dihadiri oleh para Kepala Bidang dan Kepala Seksi P2M dari seluruh BNN Provinsi dan Kabupaten/Kota yang ada di Indonesia, Rabu (27/3).Rakornas yang berlangsung selama tiga hari di hotel Fave, Jakarta Timur ini diselenggarakan sebagai tindak lanjut dari Rapimnas BNN 2019 guna optimalisasi peran strategis BNN Provinsi dan BNN Kota/Kabupaten dalam pelaksanaan P4GN.Dalam arahannya, Kepala BNN juga menyampaikan bahwa pencegahan tidak lagi hanya pada sisi penyalahgunaan saja, tetapi juga pada sisi peredaran gelap narkotika. Oleh sebab itu, Heru berharap para Kabid dan Kasi P2M untuk tidak lagi hanya ceramah dan sosialisasi-sosialisasi semata tetapi mampu membangun sebuah sistem sehingga menciptakan outcome yang lebih nyata."Saya harap para Kabid dan Kasi P2M dapat membangun sistem baik di sekolah-sekolah maupun diberbagai tempat publik seperti bandara, pelabuhan, tempat-tempat wisata, dan lain sebagainya. Temui para kepala dinas, gubernur, bupati, walikota, sekda, serta pejabat terkait lainnya dan lakukan koordinasi" jalas Heru.Heru juga berpesan kepada para Kabid dan Kasi untuk bekerja dengan hati dan tidak terpaku pada penyuluhan rutin serta target kerja untuk penilaian semata. Ia berharap kepuasan hati untuk dapat berkontribusi dalam pencegahan dan penyelamatan generasi bangsa dari ancaman narkoba menjadi motivasi yang utama.

GPR