CONTACT CENTER BNN  .    callcenter@bnn.go.id  .    184  .  SMS/Whatsapp   081-221-675-675  .  BBM   2BF297D7

Artikel

Time Line @INFO BNN

Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Laut Dalam Rangka Mengurangi Peredaran Narkotika

Mari berbagi :    

nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa
angin bertiup layar terkembang ombak berdebur di tepi pantai
pemuda berani bangkit sekarang, ke laut kita beramai-ramai

Petikan lagu diatas menunjukan bagaimana keperkasaan para nelayan kita dalam
mengarungi luas dan ganasnya lautan. Meski ombak dan badai menerjang, namun
tidak mengurangi semangat untuk mengarunginya. Baik untuk dalam kegiatan
transportasi maupun pencarian hasil sumber daya alamnya.

Ya, laut memang sudah menjadi bahagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Karena Indonesia terkenal juga karena lautannya, dan laut juga menjadi
kebanggan bagi bangsa Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang memiliki wilayah perairan
yang luas. Dengan cakupan wilayah laut yang begitu luasnya, maka Indonesia pun
diakui secara internasional sebagai Negara Maritim. Dengan panjang garis pantai
mencapai 99.093 km, dan cakupan wilayah lautnya mencapai 5,8 juta km2.

Dengan cakupan yang begitu luas tentu saja laut Indonesia mengandung
keanekaragaman sumberdaya alam laut yang sangat potensial, baik hayati dan
non-hayati yang tentunya memberikan nilai yang besar pada sumberdaya alam
seperti ikan, terumbu karang dengan kekayaan biologi yang bernilai ekonomi
tinggi, wisata bahari, sumber energi terbarukan maupun minyak dan gas bumi,
serta lainnya.

Selama ini ekosistem laut telah menjadi penghidupan bagi jutaan nelayan di
Indonesia, khusus di wilayah Aceh Tamiang. Turun temurun kehidupan
masyarakat dengan mencari ikan di laut telah menopang kehidupan masyakat
secara dalam mensuplai kebutuhan terhadap ikan.

Peredaran Narkotika Jalur Laut


Namun kini sering dengan perkembangan peredaran narkotika, laut sudah
menjadi salah satu wilayah paling strategis dalam melakukan penyeludupan
narkotika. Terbukti dari berbagai kasus penindakan dan pengungkapan yang
dilakukan Badan Narkotika Nasional bekerjasama dengan Kepolisian dan Dirjen
Bea dan Cukai menyebutkan dengan terang Laut masih jadi jalur favorit pintu
masuk narkotika.

Deputi Pemberantasan menyebutkan, mulai dari ujung timur Aceh, Kepri hingga
Lampung dan Pantai Barat Kalimantan. Tidak hanya di Indonesia, UNODC juga
mengungkapkan kejahatan narkotika dan obat terlarang sebagian besar
menggunakan jalur laut dalam proses perdagangan. Hal ini terbukti dengan
penemuan narkotika dalam jumlah besar 1,6 ton yang diseludupkan melalui kapal
Min Liang Yuyun di Perairan Anambas Kepuluan Riau.

Tidak hanya dalam jumlah skala besar tersebut, proses peredaran narkotika
melalui kapal kapal nelayan dicurigai masih terus terjadi yang masuk melalui jalur
jalur tikus di seluruh perairan selat malaka. Beberapa diantaranya diseludupkan
dengan kapal pengangkutan barang perdagangan yang masuk di perairan Aceh-
Malaysia. Hal ini terbukti dari berbagai kasus pengungkapan yang dilakukan
sepanjang triwulan I 2018 untuk wilayah Aceh disebutkan barang narkotika masuk
dari perairan selat Malaka-Aceh.

Persoalan yang terjadi saat ini nelayan atau masyarakat pesisir yang diperalat atau
terjebak dalam kejahatan narkotika. Motif ekonomi menjadi salah satu alasan
keterlibatan para nelayan maupun masyarakat pesisir dalam jaringan narkotika.
Hal ini tentunya sangat menyedihkan bagi kelangsungan kehidupan para nelayan-
nelayan kita.

Untuk itu, pemberdayaan kawasan pesisir menjadi perhatian dalam rangka
memutus jaringan peredaran narkotika di Indonesia. Nelayan perlu diberikan
pembekalan dan pengetahuan serta dukungan ekonomi melalui pendampingan
usaha lainnya agar terhindar dari keinginan membawa narkotika. Disamping upaya
penegakan hukum melalui pengawasan dari kapal-kapal asing pembawa narkotika.
Apalagi hilir mudik tranportasi laut akan semakin berkembang seiring berjalannya
program tol laut.

Dalam pemberdayaan ini nantinya juga membutuhkan dukungan Kementerian
Perikanan dan Kelautan, Kementerian Peternakan, Kementerian Pedesan dan
Masyarakat Tertinggal dan yang lainnya, dalam dukungan program baik
pemberian bantuan bibit benih maupun pelatihan kecakapan (life skill) maupun
bimbingan usaha lainnya.

Pemberdayaan Masyarakat Pesisir ini juga diharapkan sejalan dengan program
Grand Design Alternatif Development (GDAD 2016-2025) yang saat ini sedang
berjalan. Bagaimana mengubah alih fungsi lahan ganja menjadi lahan produktif
pertanian. Sehingga tidak hanya pada masyarakat di wilayah perbukitan yang
menjadi lahan produsen narkotika, namun juga wilayah wilayah pesisir yang

menjadi jalur masuk mendapatkan program yang sama dalam upaya mengurangi
faktor Supply. Sehingga harapannya Masyarakat Pesisir, Laut dan Indonesia Bebas
Narkoba.


Penulis
Suharmansyah, S.Sos
Penyuluh Narkoba Ahli Pertama BNNK Aceh Tamiang


  Ikuti Kami di Sosial Media

Kami berupaya untuk membuka kanal Sosial Media sebanyak mungkin agar selalu terhubung dengan Anda.

  Kontak Kami
  Alamat

Jl. MT. Haryono No. 11
Cawang, Jakarta Timur

Phone : (021) - 80871566 / 80871567
Mail : callcenter@bnn.go.id