KONTAK CENTER BNN  .    callcenter@bnn.go.id  .    184  .  SMS/Whatsapp   081-221-675-675  .  BBM   2BF297D7

Artikel

Time Line @INFO BNN

Melepas Stigma Aceh Dari Ganja Melalui Program Alternatif Development

Mari berbagi :    

Aceh sebagai provinsi paling barat memiliki nilai historis yang tinggi bagi bangsa Indonesia.  Mulai dari kegigihan rakyatnya dalam merebut kemerdekaan pada masa kolonial, penerapan syariat islam bagi masyarakatnya; peristiwa tsunami 2004; produsen migas dan tambang; penghasil kopi; dan masih banyak hal lainnya. Wajar saja, jika daerah ini menjadi salah satu wilayah keistimewaan yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. 

Namun, ada satu hal yang menggelitik dari keistimewaaan Aceh ini. Hal itu juga yang menjadi stigma negatif bagi Aceh yang ditumpahkan oleh warga Aceh sendiri maupun pendatang dari luar Aceh yakni ganja. Dinyana, stigma ganja melekat dari bumi Serambi Mekah hingga saat ini. 

Mengapa ganja melekat dari Aceh?, dari literatur yang penulis dapatkan dari berbagai media dan bahan bacaan, ganja mulai dikenal di Aceh diawal zaman kolonial Belanda atau sekitar abad ke 19. Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda membuka perkebunan kopi di sejumlah dataran tinggi, khususnya di Gayo. Ganja yang didatangkan dari India oleh kolonial belanda ini dijadikan sebagai penangkal serangan hama terhadap pohon kopi.

Kolonial Belanda menginginkan perkebunan kopinya tak menghabiskan biaya perawatan yang mahal untuk sekadar menangkal hama. Tanaman ganja diketahui efektif dan murah dalam menangkal risiko serangan hama tersebut. Tanaman ganja juga mudah tumbuh tanpa butuh perawatan. Bibit ganja ditabur di sela-sela pepohonan kopi pada bidang tanah yang tersedia dan dengan sendirinya akan tumbuh. Tanaman ganja di Aceh kian berkembang seiring meluasnya pembukaan lahan perkebunan untuk penanaman kopi. Sejak itulah, ganja mulai dikenal masyarakat Aceh.

Walhasil, kolonial Belanda dapat menekan biaya perawatan kopi dan menghasilkan keuntungan dari kecilnya biaya perawatan pohon kopi. Di masa pemerintahan Hindia-Belanda, pembukaan lahan perkebunan memang telah diagendakan untuk mengisi kas-kas penerimaan pemerintah kolonial. Perkebunan kopi termasuk yang diprioritaskan di wilayah Pulau Sumatera (khususnya Aceh). Pada mulanya, ganja tidak disalahgunakan sebagaimana yang marak terjadi dalam hal penyalahgunaan narkoba di Aceh saat ini.

Ganja mulai disalahgunakan untuk dijadikan sebagai penghibur atau pelampiasan kejenuhan di masa perang yang telah terpencar-pencar dan tak lagi terkonsolidasi dengan baik. Frustasi akibat kekalahan yang diderita pihak Aceh terhadap kolonial Belanda dalam perang makin memperparah kondisi yang menyedihkan ini.

Kebiasaan menggunakan ganja bahkan meluas hingga ke makanan. Biji-biji ganja acap-kali ditabur ke dalam masakan sebagai bumbu yang menambah cita rasa kelezatan. Ada kenikmatan tersendiri bagi mereka yang mengonsumsinya. Demikian ungkapan masyarakat Aceh yang pernah menggunakan biji ganja sebagai bumbu masak. Terlepas dari ketidaktahuan atau malah pembiaran  terhadap segala efek negatif yang ditimbulkan biji ganja tersebut.

 

 

Indonesia Darurat Narkoba

            Kondisi ini kontraproduktif dengan semangat Indonesia dalam memerangi Narkoba. Sebab, kita Ketahui secara bersama Indonesia tengah dalam kondisi Darurat Narkoba. Jumlah pengguna meningkat setiap tahunnya yang diperkirakan saat ini sudah mencapai 5 juta orang, dengan kematian mencapai 40-50 orang perhari. Begitu juga peredaran jenis narkotika juga semakin berkembang. Varian baru terus berkembang dan masuk ke Indonesia yang kini tercatat sebanyak 46 jenis. Disamping jenis narkotika sebelumnya yang sudah masuk dalam UU No.35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Salah satu upaya dalam menekan dan mengurangi jumlah penyalahguna adalah dengan menghentikan laju supply. Dan ganja, merupakan salah satu jenis narkotika yang paling banyak dipakai dan beredar di Indonesia. Setiap bulannya lebih dari 3 ton ganja dipasarkan ke luar Aceh.

Ganja merupakan jenis narkotika yang dilarang karena dalam UU No. 35 Tahun 2009 masuk dalam golongan I, dimana tingkat adiksi/kecandunya tinggi. Penggunaan ganja di Indonesia juga tercatat paling banyak diantara jenis narkotika lainnya yang beredar di Indonesia. Disamping harga beli yang lebih murah, ketersediaannya, juga mudah dalam hal penggunaanya. Sebagian besar pengguna narkotika mengenal lebih dulu ganja, dibandingkan narkotika jenis lainnya. Jika tidak mampu dibendung dalam aspek supply, maka demand juga sulit dilakukan. Tak ayal, angka penyalahguna akan terus meningkat.

Kepala BNN Budi Waseso menyebutkan dikesempatan yang lalu, luas lahan produktif ganja di Aceh mencapai 482.000 hektar. Luas lahan ini tersebar di berbagai Kabupaten Kota di Aceh. Dari sejumlah kasus yang ditemukan diantaranya berada Kabupaten Bireuen, Aceh Besar, Aceh Tenggara, Aceh Barat Daya, Aceh Tengah, Aceh Utara, dan lainnya. Tidak hanya Aceh, bahkan provinsi lain di Indonesia, bahkan termasuk Papua ditenggarai mulai memperoduksi ganja. Kondisi ini tentunya memprihatinkan dan menghambat dalam pemberantasan penyalahgunaan Narkoba.

Besarnya permintaan akan tanaman ini menjadikannya sebagai salah satu komoditi yang menguntungkan bagi sebagian kecil petani yang memiliki lahan produktif ganja. Alasan ekonomi menjadi dasar utama para petani menanam ganja. Dengan modal yang relatif kecil dan tidak membutuhkan rawatan, ganja mudah dikembangkan. Resiko tersandung hukum dikesampingkan demi mendapatkan keuntungan. Alasan yang mengemuka bahwa tanaman lain sulit tumbuh dan berkembang juga menjadi pembenaran dalam pengembangan ladangan ganja. 

Jangan heran, pemusnahan ladang ganja yang terus menerus di lakukan BNN bersama aparatur hukum lainnya seolah tidak ada habisnya. Disamping luasnya wilayah yang menjadi lahan produktif, serta sulitnya akses yang ditempuh karena sebagian besar berada di pedalaman hutan dan kawasan pegunungan dan perbukitan, petani juga enggan beralih ke komoditi tanaman lainnya. 

Mengubah Aceh melalui Alternatif Development

Seiring dengan fakta tersebut, BNN bersama Kementerian  lainnya mulai menyusun dan merancang Program Alternatif Development. Berkaca dari keberhasilan Pemerintah Thailand dalam mengubah Doi Tung yang sebelumnya dikenal sebagai penghasil opium. 75 persen kebutuhan Papaver Somniferum (nama latin opium) dunia dihasilkan dari lereng pegunungan di Provinsi Chang Rai, Thailand bagian Utara.

Namun diakui, tidak mudah mengubah kawasan yang menjadi segitiga emas narkotika dunia ini menjadi lahan produktif. Her Royal Highness Sondej Phra Sirnagarindra Boromarajajonani, biasa disebut the Princess Mother membutuhkan waktu 30 tahun. Berkolaborasi dari banyak institusi pemerintahan dan lembaga swasta. Kini, wilayah tersebut menjadi kawasan agro wisata, bahkan hasil produksi pertanian juga diekspor ke berbagai Negara. Berbeda dengan sebelumnya dimana masyarakatnya sangat miskin, terbelakang dan pecandu opium.

Konsep inilah yang akan dikembangkan di Provinsi Aceh, yang menjadi bagian Program Nasional. Lahan-lahan ganja tersebut bakal diganti dengan tanaman pangan, di antaranya jagung, cabai, bisa juga diubah menjadi ladang kopi, coklat atau buah-buahan. Saat ini persiapan untuk itu sedang dilakukan secara bersama-sama antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Untuk menguatkan, program ini juga nantinya diperkuat payung hukum berupa keputusan presiden.

Dalam tahapan implementasinya tentunya tidak mudah selayaknya membalikan telapak tangan. Seperti halnya Doi Tung, membutuhkan waktu 30 tahun dan membagi dalam tiga fase yang didalamnya menyasar pada peningkatan kesehatan masyarakat, kepercayaan masyarakat, meningkatkan pendidikan, dan peningkatan kesejahteraan. Harapan dan keinginan ini tentunya harus didukung oleh semua komponen masyarakat dan pemerintah, serta instansi swasta.

Pendekatan sosial kultural, pendekatan agama, pendekatan budaya serta komunikasi yang efektif mampu merubah stigma dan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk program ini. Peran tenaga-tenaga penyuluh Narkoba tidak juga terlepas dalam menanamkan nilai perubahan mind set rakyat Aceh, sehingga stimagtisasi Aceh sebagai produsen ganja bisa bergeser menjadi produsen pangan, dan buah-buahan.

Terlepas dari diskursus yang tengah ramai hari ini diperbincangkan tentang pemanfaatan ganja untuk medis yang dilakukan Fidelis Ari Sudawoto dari Sanggau, Kalimantan Barat; pemanfaatan untuk budidaya peternakan, maupun pengembangan lainnya; mari kita menilik program Alternatif Development yang juga baik dikemukakan kepada publik. Program ini tidak hanya mampu menurunkan angka penyalahguna narkoba di Indonesia, khususnya ganja, juga meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh menjadi lebih baik, serta juga stimatisasi Aceh dari Ganja. 

Penulis ;

Suharmansyah, S.Sos, M.I.Kom

Penyuluh Narkoba Ahli Pertama Seksi Pencegahan dan Daymas BNN Kabupaten Aceh Tamiang


  Ikuti Kami di Sosial Media

Kami berupaya untuk membuka kanal Sosial Media sebanyak mungkin agar selalu terhubung dengan Anda.

  Kontak Kami
  Alamat

Jl. MT. Haryono No. 11
Cawang, Jakarta Timur

Phone : 184
Mail : callcenter@bnn.go.id