KONTAK CENTER BNN  .    callcenter@bnn.go.id  .    184  .  SMS/Whatsapp   081-221-675-675  .  BBM   2BF297D7

Artikel

Time Line @INFO BNN

MENGEMBANGKAN BUDAYA TABAYYUN DALAM PENGELOLAAN INFORMASI

Mari berbagi :    

Masyarakat  Indonesia saat ini berada pada masa  perubahan menuju era masyarakat informasi.  Segenap  aspek kehidupannya tidak terlepas dari pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi  (Information and Communication Technologies). Memasuki fase tersebut, terjadi pergeseran pola fikir,  pola sikap dan pola tindak masyarakat dalam mengakses dan mendistribusikan informasi. Di era keterbukaan informasi saat ini, masyarakat Indonesia disuguhi berbagai ragam informasi, melalui media massa antara lain televisi, radio siaran, surat kabar dan majalah. Terpaan informasi tersebut sebagai konsekuensi logis dalam rangka pemenuhan kebutuhan informasi, pengetahuan dan hiburan. Bahkan saat ini dan kedepan, masyarakat akan semakin mudah dalam mengakses informasi melalui media massa tersebut dengan adanya perubahan platform yang awalnya berbentuk konvensional  menjadi   media  massa  berbasis  teknologi digital yang menawarkan inovasi  fitur dari medium komunikasi yang kian interaktif.

Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet Indonesia pada tahun  2016  telah mencapai 132,7 juta<1>.  Dari survei tersebut, terungkap penggunaan  jenis layanan internet  melalui perangkat komunikasi mobile masih mendominasi dengan persentase 69,9 persen atau 92,8 juta pengguna.  Data riset tersebut  juga menggambarkan bahwa saat ini masyarakat begitu mudah terkoneksi internet dengan biaya yang terjangkau.

Melalui perangkat komunikasi mobile (smartphone) yang didalamnya terdapat aplikasi  sosial media seperti Facebook, Twitter, dan aplikasi percakapan berbasis internet seperti Blackberry Messenger, What’s Apps, dan Line, aktivitas sharing dan gathering informasi  semakin  hari semakin hiruk pikuk.  Aktivitas media sosial juga seolah telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat, karena setiap hari,  sejak  terbit  matahari hingga  hingga larut malam masyarakat modern  dipertautkan dengan  media sosial.  Informasi,  pesan, komentar dan opini, postingan  video atau photo begitu deras mengalir  tanpa henti, apalagi  yang telah menjadi viral  tak pernah sepi menghiasi  timeline  media sosial  tersebut.  

Melalui  berbagai fitur atau kanal-kanal dalam media sosial  siapapun,  bisa berinteraksi dan merespon opini atau peristiwa yang terjadi di sekelilingnya, dengan bahasa dan ungkapan apapun.  Ada kalanya perdebatan tersebut menjadi memanas dan menjadi polemik  sehingga menciptakan silang pendapat yang sangat tajam.

Mencermati apa yang terjadi saat ini di media sosial, muncul  keprihatinan  seolah telah terjadi pergeseran nilai sebagai bangsa yang  memiliki akar kuat kesantunan dan tata krama dalam  bertutur dan berperilaku, telah melenceng  dari karakter bangsa jika melihat dari  komentar-komentar,  opini  dan statement  yang muncul di kanal-kanal media sosial.  Lebih  tampak  kepermukaan   adalah  caci-maki, luapan kata-kata vulgar, sinisme, sarkasme, bullying, bahkan terdapat ungkapan-ungkapan  yang menyinggung masalah SARA,   bahasa dan ungkapan  yang  tersurat  tidak menunjukkan kematangan  berpikir seseorang  dan hanya berdasarkan emosi semata.

Memang suasana yang cenderung menghangat di media sosial saat ini,  belum menunjukan dampak yang signifikan yang berujung pada  konflik  fisik  langsung  atau  konflik terbuka,  namun kekhawatiran tetap ada.  Dalam kondisi seperti ini,  perlu didiskusikan  dalam sudut pandang lain terkait perkembangan yang saat ini terjadi  di ruang media sosial, bukan semata-mata soal dampak negatifnya, tetapi kira-kira hal apa yang perlu diwaspadai ke depan.

Untuk itu yang menjadi persoalan adalah apakah masyarakat telah disiapkan dengan kemampuan untuk memilah dan memilih informasi? Bagaimana seharusnya masyarakat menentukan sikap atas informasi atau berita  yang mereka baca dan lihat melalui media massa?

Mengembangkan Budaya  Tabayyun


Media sosial  seharusnya  digunakan untuk menyampaikan hal-hal positif  dan  harus menjadi sarana  yang  bermanfaat untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa, ditengah ke bhinekaan bangsa Indonesia.  Sebagai  salah satu  yang  dapat  digagas  untuk  mengembangkan  iklim yang kondusif di ruang media soial saat ini, adalah dengan mengembangkan budaya Tabayyun, seperti yang sering disampaikan oleh Menkominfo dalam setiap kesempatan.   Meski istilah ini terkesan berasal dari budaya atau bahasa lain namun, terminologi Tabayyun ini menarik  dan relevan dalam mengatasi persoalan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat saat ini, khususnya  dalam  pemanfaatan  media soial,  baik  itu ketika  menerima dan menyampaikan  informasi. Tabayyun  sendiri  mengandung makna, pentingnya memeriksa  kebenaran dengan teliti mengenai suatu kabar atau informasi, agar  tidak  menjadi musibah  bagi sebuah bangsa  atau  bagi masyarakat  yang akan  menjadi  penyesalan dikemudian hari.  Mengandung sebuah pelajaran yang penting agar masyarakat tidak mudah  terpancing  atau mudah menerima  begitu saja berita yang tidak jelas sumbernya, atau berita yang jelas sumbernya tetapi sumber itu diketahui  sebagai media penyebar berita palsu, isu murahan atau berita berita yang menebar fitnah. Bersikap hati-hati terlebih dahulu terhadap segala informasi untuk kemudian melakukan pengecekan akan kebenaran berita tersebut sehingga tidak menerima berita itu begitu saja.

Dengan mengembangkan budaya tabayun ini diharapkan menjadi terapi dan solusi bagi  masyarakat Indonesia  dalam  menyikapi arus informasi di media sosial  yang berpotensi mengganggu  persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.  Budaya  Tabayyun  ini dapat  dikembangkan  di masyarakat  Indonesia melalui beberapa pendekatan atau strategi, dengan tujuan, antara lain adalah masyarakat bijak dalam menggunakan perangkat media, Masyarakat cerdas dalam memilih dan memilah informasi, Masyarakat  bertanggung jawab  dalam menyebarkan informasi, Masyarakat menginisiasi komunitas informasi.

Oleh karena itu, Literasi dan edukasi merupakan strategi dalam rangka Tabayyun yang patut dicoba dengan tujuan agar  masyarakat mampu memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi  pesan dan informasi. Kemampuan untuk mengelola informasi  agar publik  menjadi sadar  (melek)  tentang cara sebuah pesan atau informasi  dikonstruksi (dibuat) dan diakses, selain itu juga agar publik memahami berbagai ruang lingkup lain  dibalik sebuah informasi  (kemungkinan adanya  hidden agenda atau agenda setting).

Pentingnya sosialisasi mengenai berbagai aspek cara memanfaatkan sosial media dalam berkomunikasi  dan juga  perangkat hukum yang memagarinya seperti  UU ITE, perlu dilakukan oleh seluruh elemen bangsa untuk menyadari dan melakukan langkah nyata.  Sosialisasi mengelola informasi di sosial media   ditujukan agar masyarakat mengetahui, memahami dan meyakini sehingga mampu  bersikap serta memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah informasi dari media sosial yang berpotensi menimbulkan perpecahan dan potensi konflik.

Mengembangkan  budaya   Tabayyun  dalam berinformasi di masyarakat  dapat  dilakukan  melalui  program  pemberdayaan  komunitas masyarakat  informasi, sehingga  kapasitas masyarakat meningkat, semakin peduli dan sadar serta memiliki kemampuan dalam mengelola informasi dan pemanfaatan sarana Media Sosial secara sehat dan bijak dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.  

Penulis:

Oleh:
Gun Gun Siswadi

Kementerian Kominfo

Sumber :

<1>Hasil Survei Internet  Tahunan APJII 2016 : Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA - Indonesian E-Commerce Association) //www.idea.or.id/berita/detail/hasil-survei-internet-tahunan-apjii-2016


  Ikuti Kami di Sosial Media

Kami berupaya untuk membuka kanal Sosial Media sebanyak mungkin agar selalu terhubung dengan Anda.

  Kontak Kami
  Alamat

Jl. MT. Haryono No. 11
Cawang, Jakarta Timur

Phone : 184
Mail : callcenter@bnn.go.id